Heboh Festival Indie

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, : Suasana Pantai Indah Ancol, Minggu siang itu, tak hanya diiringi deru ombak. Di tengah sebuah tempat lapang, beberapa grup band yang belum terkenal tengah beradu musik. Meski tak terlalu jadi pusat perhatian, mereka terus main dengan serius. Mereka terus mengumandangkan lagu ciptaan mereka sendiri. Adu musik ini ternyata sebuah ajang audisi band-band indie yang bakal tampil di Urban Festival pada Juni nanti. Audisi yang digelar IRC Production ini telah digelar sejak Maret lalu. Pada audisi Maret, 24 grup band saling unjuk gigi. Adapun audisi April ini diikuti 27 band. Dalam setiap putaran akan disaring sebanyak delapan grup. Delapan grup ini diadu dalam babak final untuk menentukan empat band terbaik. Keempat grup yang lolos berkesempatan manggung saat festival nanti. Untuk audisi yang digelar Minggu pekan lalu (13 April) di Ancol, tampil delapan band. Mereka adalah Ziel, Ruang, Krucial, De'binz, La 'voise, The Rival, The Opposite, dan Sabdo Jagat. Lewat persaingan ketat, akhirnya dewan juri, yang terdiri atas Iwan Xaverius (mantan pemain bas Edane) dan Alva de Pretes (pembina sekolah musik Santa Ursula) memutuskan De'binz, Krucial, La 'voise, dan Sabdo Jagat lolos audisi. Untuk selanjutnya, keempat band ini akan diadu kembali dengan empat band hasil audisi Maret. Ajang festival berbau indie seperti ini memang marak dibidik band-band anak muda sebagai batu loncatan menuju sukses. Terlepas dari apa tujuan para anak band, mereka hanya ingin lagu ciptaannya didengar. Kebanyakan jenis musik yang diusung beraliran rock n' roll, pop alternatif, dan new metal. Walaupun hadiah uang tunainya tak seberapa besar, hadiah berupa pembuatan album kompilasi pastinya menjadi incaran. Soalnya, lewat jalur ini pintu publikasi menjadi lebih pasti. "Album kompilasi nanti namanya Jakarta Ancol Indie Breakthrough 2008," ujar Habiebie, koordinator acara dari IRC Production. Tentang label mana yang bakal digandeng, Habiebie mengaku masih dalam proses. Menjamurnya ajang seperti ini mengakibatkan semakin produktifnya album-album berciri indie di deretan rak toko kaset. "Memang kembali lagi harus bersaing bahkan dengan album sesama indie," ujarnya. Munculnya album ini nanti, kata dia, lebih sebagai wujud keanekaragaman musik indie di Tanah Air. Meski namanya ajang indie, tak semua band yakin beridealisme indie. Salah satunya adalah anggota band The Rival. Grup band yang selalu mengumandangkan cinta dalam setiap aksi panggungnya ini tak mempersoalkan jika harus mengikuti tren musik pasar. "Tujuan kami memang mencari label mayor," ujar Yandi, vokalis The Rival. Meski harus mengubah warna musik, mereka tidak mempersoalkannya asalkan terkenal dan banyak meraup rupiah. "Kalau memang aliran The Rival yang pop alternatif harus diubah jadi pop Melayu seperti Kangen Band, ya, nggak apa-apa," ujar Maryadi, yang juga vokalis The Rival. The Rival adalah salah satu peserta yang tergolong muda dalam ajang ini. Personelnya baru tamat SMU dan gemar ikut dari satu festival ke festival lain. "Tak hanya festival indie, kami juga mencoba festival musik lain," ujarnya. Pokoknya, terus bergerilya, mencari kesempatan dari panggung ke panggung. | Aguslia Hidayah

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.