Siluet Tubuh

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta: Ini cerita tentang kupu-kupu merah. Kupu-kupu itu hinggap di paha seorang perempuan, bertengger di kaki bersepatu hak tinggi, dan mampir di dada yang menantang. Tiga kanvas, tiga suasana hati. Ketiga lukisan tersebut diberi judul Di Saat Bulan Maret, Di Kebun, dan Hatiku Bahagia. Karya I Gusti Ayu Kadek Murniasih, perupa asal Bali, itu dipamerkan bersama karya Edmondo Zamolini, asal Italia, di Pusat Kebudayaan Italia, Jakarta, 3-28 April 2008. Melihat obyek sekaligus peletakannya, pastilah ketiga lukisan tersebut serial yang menggambarkan suasana hati yang senang sang pelukisnya.Tubuh perempuan, itulah obyek yang sebagian besar digoreskan oleh Murni--begitu seniman kelahiran 1966 itu disapa--dalam pameran bertajuk "Munir and Mondo" ini. Sebagian besar obyeknya adalah tubuh perempuan. Tengok saja lukisannya yang berjudul Bikin Pleasure, Bermimpi, Mabuk di Hard Rock dan Teringat Bersamanya.Tak semua lukisannya bernada membahagiakan. Ada juga yang menyuguhkan suasana perih. Tengok saja Kenikmatanku 27 a.b yang menggambarkan sebuah gunting yang seolah terjepit di antara dua paha perempuan. Gunting lazimnya menyimbolkan rasa sakit, sesuatu yang melukai. Murni seperti ingin menampilkan sebuah paradoks.Perupa yang tutup usia pada 2006 itu juga kerap menggunakan konotasi berupa binatang. Simak guratannya yang bertajuk Make Love. Percintaan tersebut diwakili oleh anjing perempuan dengan seekor angsa kuning. Perupa yang aktif berpameran sejak 1995 di dalam dan luar negeri ini tidak hanya menggoreskan kuas di kanvas ukuran biasa, tapi juga di kanvas ukuran kecil (9 x 86 sentimeter). Kanvas yang mirip penggaris panjang ini hanya digambarinya sepasang kaki dengan sepatu hak tinggi. Dari lukisan lain yang bermain dengan warna terang, enam buah lukisannya kali ini berwarna hitam-putih. Sementara Murni senang melukis tubuh, Edmondo Zamolini lebih asyik dengan siluet manusia. Gambarnya tak tegas, tapi bisa bercerita aneka makna. Lihat, misalnya, karya bertajuk Undertablegirl (2008). Lukisan itu sebenarnya hanya menggambarkan seorang gadis tak berbusana yang ngumpet di kolong meja. Kedua tangannya menggenggam erat salah satu kaki meja dan pandangannya lurus ke depan. Latar lukisan itu hitam pekat.Begitu juga dengan tiap guratan cat akrilik yang digunakannya. Ia menggunakan warna kuning dan hijau terang yang menabrak hitam pekat tersebut. Siluet itu berubah menjadi lukisan yang terang dalam gelap pada Glow in the Dark. Itu serupa dengan karya bertajuk Airport Prayer. Ia menggambarkan seseorang yang tengah termangu, bermunajat dengan tangan terangkat memohon ke atas. Di sampingnya tergambar sebuah pesawat. Ia menggunakan warna yang dominan merah. Masih siluet, dalam karya lain, Mondo mencetak gambar orang di atas kanvas. Bagian luar cetakan itu kemudian diguyur dengan satu jenis warna. Modelnya juga masih si gadis kolong meja dengan beragam cerita.Simak juga lukisan I'm the Boss, yang menggambarkan sosok yang diyakini sebagai bos memukul meja dengan kepalan tangan. Di bawah meja itu ada gadis yang sedang bersembunyi. Cetakan ini masih dipergunakan dalam karya bertajuk Under Table 4, dan tiga seri lukisan mini berjudul Table Girl 177, 178, dan 179. Edmondo Zamolini tak hanya dikenal sebagai perupa. Ia juga menggeluti pembuatan film, menulis, dan akting. Bahkan, dunia akting dan film sudah dijalaninya sejak 1970-an. Pertunjukan pertamanya bertajuk Parallela ad una scacchiera digelar di Teatro La Ribalta, Bologna, Italia. Deputi Direktur Pusat Kebudayaan Italia Livia Raponi dalam katalog mengatakan pameran ini sebuah persembahan ketika dua orang yang menyatu telah terpisahkan oleh dunia. "Lukisan ini sedikit-banyak menceritakan kehidupan Murni dan Mondo, yang kini, (lewat lukisan) mereka dapat menatap satu sama lain," ujarnya. l AGUSLIA HIDAYAH

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?