Hari Tari Sedunia Diwarnai Tindak Kekerasan di Pontianak

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ribuan penari menampilkan Tari Jaranan dalam acara Solo Menari 24 Jam di Stadion Sriwedari, Solo, Jawa Tengah, Senin, 29 April 2019. Perayaan Hari Tari Sedunia ini melibatkan 5.000 siswa dan siswi sekolah dasar sampai sekolah menengah pertama di Solo. ANTARA/Mohammad Ayudha

    Ribuan penari menampilkan Tari Jaranan dalam acara Solo Menari 24 Jam di Stadion Sriwedari, Solo, Jawa Tengah, Senin, 29 April 2019. Perayaan Hari Tari Sedunia ini melibatkan 5.000 siswa dan siswi sekolah dasar sampai sekolah menengah pertama di Solo. ANTARA/Mohammad Ayudha

    TEMPO.CO, Jakarta - Hari Tari Sedunia yang jatuh pada Senin, 29 April 2019 lalu, diwarnai tindak kekerasan di Pontianak, Kalimatan Barat. Kekerasan fisik maupun psikis dialami oleh dosen Program Studi Seni Pertunjukan dan beberapa mahasiswa Universitas Tanjungpura.

    Tindakan kekerasan berupa pemukulan dan makian tersebut, terekam dalam sebuah video berdurasi kurang dari 1 menit, dan tersebar di media sosial. Seniman asal Pontianak, Nursalim Yadi Anugerah membenarkan tindak kekerasan dalam perayaan Hari Tari tersebut. "Kami tetap menegaskan sikap kepada wali kota untuk menindak tegas dan mengusut kasus kekerasan ini," ujar Nursalim saat dihubungi Tempo, Kamis, 2 Mei 2019.

    Nursalim mengatakan, tindak kekerasan tersebut diduga dilakukan oleh kelompok Laskar Pemuda Melayu Pontianak dan Satuan Pamong Praja kota tersebut. Para korban sudah melapor ke polisi.

    Baca juga: Senin Besok 5.000 Siswa di Solo Rayakan Hari Tari Sedunia

    "Saya harap teman-teman di Pontianak dan luar daerah tetap tenang sampai kami menjabarkan semua hal secara terbuka dan runtut, agar tidak menggiring opini keluar konteks permasalahan tentang kekerasan," tutur Nursalim.

    Kericuhan itu, kata Nursalim dipicu oleh salah satu penampilan tari yang dianggap mengandung konten lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Menurut dia, itu bagian dari kegiatan kesenian, dan pembubaran tersebut merupakan bentuk dari ketakutan yang tidak mendasar.

    Video kekerasan tersebut juga diunggah oleh Penari Eko Suprianto atau Eko Pece di akun Instagramnya. Eko Pace menyatakan keprihatinannya atas tindak kekerasan yang menimpa insan tari Indonesia.

    Kemarahan masyarakat atas video kekerasan tersebut juga terlihat di akun Instagram Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono. Di laman komentar akun Edi, masyarakat mempertanyakan soal tindakan kekerasan tersebut.

    Isu yang beredar di media sosial, kekerasan tersebut dilakukan atas perintah Edi Rusdi. Melalui akun Instagram-nya, Edi Rusdi membantah tuduhan itu. Dia menjelaskan acara tersebut diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Pontianak dan dia termasuk orang yang mengamankan acara tari dari amuk massa.

    "Justru yang membuat acara ini adalah Pemerintah Kota Pontianak melalui Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata, bekerjasama dengan Prodi Seni Pertunjukan, dan ini sudah tahun yang ketiga. Justru kami yang menyelamatkan dari kemarahan massa saat yang tampil tidak pas kalau di ruang publik. Tapi untuk tari yang lain tidak masalah," tulis Edi menanggapi tuduhan masyarakat.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban, Tersangka, Barang Bukti, dan Lokasi Kerusuhan 22 Mei 2019

    Kerusuhan 22 Mei 2019 di Ibu Kota bermula dari unjuk rasa penolakan hasil pilpres 2019 di depan gedung Bawaslu, Jakarta, sejak sehari sebelumnya.