Film Kucumbu Tubuh Indahku Kembali Mendapat Penolakan

Reporter:
Editor:

Istiqomatul Hayati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Poster film Kucumbu Tubuh Indahku. Twitter.com

    Poster film Kucumbu Tubuh Indahku. Twitter.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Film Kucumbu Tubuh Indahku kembali mendapatkan penolakan. Kali ini lewat surat edaran dari Bupati Kubu Raya, Kalimantan Barat, Muda Mahendrawan yang menolak film tersebut untuk ditayangkan. Bahkan, surat edaran tersebut juga dikirimkan ke Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Kubu Raya.

    "Untuk menjaga dan memelihara masyarakat, dari dampak yang ditimbulkan oleh pelaku penyimpangan seksual," tulis Mahendrawan dalam surat eradan tersebut, Jumat, 26 April 2019.

    Baca: Film Garin Nugroho, Kucumbu Tubuh Indahku Tayang Setelah Pemilu

    Mahendrawan keberatan jika film garapan Garin Nugroho ini, ditayangkan di wilayahnya. Dia takut film tersebut mengajak masyarakat untuk menjadi LGBT, seperti yang ditayangkan di film itu.

    Bupati Kubu Raya mengeluarkan surat edaran menolak film Kucumbu Tubuh Indahku tayang di wilayahnya. Foto/istimewa

    Hal yang ia takuti lagi, ialah masyarakat khususnya generasi muda, akan dapat menerima perbuatan penyimpangan seksual. "Bertentangan dengan nilai-nilai agama," ucap dia.

    Selain di Kabupaten Kubu Raya, penolakan film Kucumbu Tubuh Indahku juga dilakukan oleh Wali Kota Depok, Mohammad Idris. Lewat surat edaran bernomor 460/185-Huk/DPAPMK tertanggal 24 April 2019 itu disampaikan Wali Kota Depok kepada Komisi Penyiaran Indonesia. “Film itu bertentangan dengan nilai-nilai agama,” kata Idris.

    Baca juga: Kata Garin Nugroho Soal Petisi Penolakan Kucumbu Tubuh Indahku

    Film Kucumbu Tubuh Indahku mengangkat kisah Rianto, seorang penari lengger. Film yang tayang pertama di Indonesia 18 April tersebut menceritakan tiga babak kehidupan seorang pria bernama Arjuno, yang diperankan oleh Raditya Evandra, Muhammad Khan, dan Rianto sendiri.

    Ifa Isfansyah dan Garin Nugroho dalam film Kucumbu Tubuh Indahku terpilih menjadi Film pilihan Tempo 2018 dalam Festival Film Tempo 2018 di Epicentrum XXI Cinema di Jakarta, 06 Desember 2018. TEMPO/Nurdiansah

    Sutradara Garin Nugroho mengungkap alasan mengangkat tema gender dalam film terbarunya itu karena memang jarang sekali diangkat dalam sebuah film. Padahal, menurutnya, tema gender menyatu di kesenian.

    Garin Nugroho angkat bicara prihal petisi penolakan atas karyanya yang ditayangkan di layar lebar. Menurut Garin, petisi tersebut merupakan penghakiman massal atas karya seni lewat media sosial, tanpa memberikan ruang untuk berdialog. Hal tersebut, begitu disayangkan olehnya.

    "Bagi saya, anarkisme massa tanpa dialog ini akan mematikan daya pikir terbuka, serta kualitas warga bangsa," kata Garin Nugroho.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H