Labirin Perang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Ubud: Lampu-lampu neon tertata di lantai Gaya Gallery, Ubud, membentuk sebuah labirin. Cahaya kebiruannya menciptakan suasana yang gamang. Semua orang mesti berhati-hati menyusuri lorong-lorong imajiner tanpa ujung pangkal itu. Memindahkan perang sebagai sebuah instalasi seni dalam ruang yang terbatas, begitulah obsesi dua perupa, Hamad Kalaf dan Iswanto, yang berkolaborasi dalam pameran yang digelar pada 16 Februari hingga 16 Maret mendatang. Hamad adalah seniman asal Kuwait yang sempat mengalami suasana mencekam, saat Irak menyerbu Kuwait pada 1990-an. Adapun Iswanto, sebelum menjadi seniman, bergelut dalam dunia rekayasa ruang dalam profesinya sebagai seorang arsitek.Karya-karya Hamad terangkai dalam tema "Act of War". Dia membuat citra-citra perang dalam mitologi Yunani, seperti gambaran dewa-dewi, prajurit Argonot, dan minotaur (manusia berkepala banteng).Uniknya, selain medium yang sudah umum, dia melukiskannya di helm dan sepatu milik tentara Irak serta benda-benda sisa perang lainnya. Semua dikumpulkannya langsung dari lokasi perang yang sebenarnya. Ada pula yang ditorehkan pada pecahan tembikar akibat bom Kuta yang berserakan dalam sebuah meja kaca.Lalu apa kaitan karya itu dengan instalasi Iswanto? "Dia menciptakan totalitas ruang dan suasana untuk menikmati karya saya," ujar Hamad. Bagi dia, perang adalah sebuah tempat yang penuh dengan ranjau, jebakan, dan pengintaian dari pihak lawan. Seseorang mesti berhati-hati mengayunkan langkah, bahkan harus menyusun strategi sebelum berada di sana. Di pameran ini, dalam suasana remang-remang tersebut, tanpa kehati-hatian, penikmat karyanya akan terjerat oleh kabel atau bahkan menginjak lampu neon.Hamad merasa menemukan hal baru dengan kolaborasi itu karena pesan bukan lagi hal yang penting. Mengalami dan merasakan suasana perang jauh lebih berharga. Instalasi Iswanto menyempurnakan keinginannya untuk menciptakan kesan bahwa selain kengerian, perang memiliki pesonanya sendiri.Bagi Iswanto, kolaborasi tersebut memberinya pengalaman baru karena selama ini dia sendiri yang menciptakan obyek seni serta merekayasa ruangnya. Untungnya, dialog dengan Hamad berlangsung terbuka sehingga keduanya tidak harus saling mengorbankan idealisme.Tema perang juga bukan hal yang baru bagi peraih Freeman Asian Award 2003-2004 dari Freeman Foundation, Amerika Serikat, ini. Sebelumnya, Iswanto pernah membuat instalasi kerangka pesawat pengintai Stealth yang ditempatkan dalam sebuah ruang khusus.Dalam mitos Yunani, menurut Rifky Effendi, kurator dalam pameran ini, labirin sejatinya adalah sebuah taktik perang. Itu berupa struktur ruang berbentuk lorong yang bercabang banyak dan rumit. Taktik ini dibangun untuk King Minos of Crete oleh Daedalus untuk menahan musuhnya, minotaur. Bagi kedua perupa, labirin yang mempertemukan mereka merupakan metafora yang melambangkan pencarian nilai-nilai dalam budaya perang. l ROFIQI HASAN

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.