Menggugat Susila

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta: Susila Parna (diperankan Susilo Nugroho), seorang pria bertubuh tambun dengan dada besar dan pantat yang menonjol ke belakang, ditahan polisi. Alasannya, si penjual mainan anak-anak itu dituduh melanggar Undang-Undang Susila karena membiarkan kancing bajunya terbuka dan dianggap mempertontonkan buah dadanya yang besar. "Ini merupakan susu paling gede yang pernah aku lihat. Sebesar roti tawar dengan dua kismis," kata kepala polisi (Djaduk Ferianto) yang menjebloskannya ke penjara. Kisah tentang Susila itu dipentaskan Teater Gandrik, Yogyakarta, di Graha Bhakti Budaya, Jakarta, Jumat-Sabtu malam lalu. Pertunjukan teater itu dibingkai dalam judul Sidang Susila. Secara garis besar, pentas ini mengisahkan parodi jika Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi jadi diberlakukan. "Isi undang-undang itu lucu sekali jika tidak jadi diterapkan. Tapi, jika jadi diberlakukan, akan sangat mengerikan," kata Ayu Utami, yang menulis naskah cerita itu bersama Agus Noor.Kelucuan yang dimaksud Ayu tergambar jelas dalam pentas teater berdurasi sekitar 130 menit tersebut, terutama soal mendefinisikan apa yang porno dan apa yang tidak. Misalnya, ketika barang bukti berupa mainan dagangan Susila dihadirkan. Drama kemudian bergulir pada kisah tentang pertentangan antara kelompok yang menegakkan moral dan kelompok yang menilai bahwa Susila tidak bersalah. Perdebatan dihadirkan dengan segar oleh jaksa dan pembela Susila yang diperankan oleh Butet Kertaredjasa. Sidang terhadap Susila pun digelar dengan hakim yang kerap bertingkah konyol. Kesegaran olok-olok, pelesetan, dan komedi tersaji dengan apik selama pementasan, termasuk kritik terhadap kondisi riil masyarakat dan aparat pemerintah. Misalnya, hakim yang mengaku bisa menjual-beli pasal mempelesetkan lembaga hukum sampai narapidana yang biasa membeli narkotik. Pementasan Teater Gandrik tersebut yang pertama kalinya dalam lima tahun terakhir. Kelompok teater yang terbentuk pada 12 September 1983 ini terakhir mementaskan lakon berjudul Departemen Borok pada 2003. "Hal itu disebabkan oleh kesibukan sendiri-sendiri dan tidak adanya kebutuhan bersama," ujar Butet, pentolan Teater Gandrik. Pada penampilan perdananya tersebut, Teater Gandrik membuktikan diri masih eksis di dunia seni pertunjukan. Tawa penonton yang menyeruak hampir di setiap menit pertunjukan dan tepuk tangan panjang menyertai akhir pentas tersebut menandakan kualitas pertunjukan mereka. "Segar dan tidak membosankan. Tidak terasa (berlangsung selama) dua jam lebih," ujar Budi, seorang penonton.Ide memainkan Sidang Susila berawal dari naskah yang ditulis Ayu. Dua tahun lalu, dalam satu kesempatan diskusi di Taman Ismail Marzuki, Butet meminta Ayu menuliskan naskah untuk pementasan monolognya. Setelah rampung dan dibaca, menurut Butet, ternyata lebih tepat jika dibawakan secara ramai-ramai.Kemudian Agus Noor diminta melengkapi naskah Ayu untuk dibawakan secara teatrikal. "Memang ada beberapa yang diubah dan ditambah sesuai dengan kebutuhan, tapi nggak apa-apa. Saya senang," ujar Ayu, yang baru pertama kali menghasilkan naskah drama teater. Butet menambahkan, pentas ini tidak untuk menghakimi RUU Antipornografi dan Pornoaksi yang tengah berproses di legislatif, melainkan bertujuan mengajak masyarakat berpikir kritis. "Kami tidak ingin memprovokasi masyarakat untuk menolaknya, tapi memberi inspirasi untuk berpikir secara jernih," ujarnya. Budayawan Mudji Sutrisno sependapat dengan pesan yang disampaikan dalam pementasan tersebut. Menurut Mudji, tidak seharusnya persoalan moralitas yang merupakan wilayah pribadi diambil alih oleh negara. Soal porno atau tidak, kata Mudji, tergantung bagaimana cara pandang seseorang. "Pikiran tidak boleh dipenjara. Orang harus terbuka dengan imajinasi," ujarnya seusai pementasan. Selain di Jakarta, pentas ini akan dimainkan di Concert Hall Taman Budaya, Yogyakarta, pada 7 dan 8 Maret mendatang. Satu hal yang menjadi catatan, teater ini tidak cocok ditonton oleh anak-anak di bawah umur. Pasalnya, banyak kata-kata yang tidak pantas didengar oleh mereka. l TITO SIANIPAR

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemerintah Pangkas 5 Hari Cuti Bersama 2021 dari 7 Hari, Tersisa 2 Hari

    Pemerintah menyisakan 2 hari cuti bersama 2021 demi menekan lonjakan kasus Covid-19 yang biasa terjadi usai libur panjang.