Raksasa Danau

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta: Monster Loch Ness bukan nama yang asing. Legenda rakyat Skotlandia itu terkenal ke seluruh dunia bersama kontroversi dan perdebatan yang menyertainya. Dua kubu, yang mengakui monster itu ada dan yang tidak mengakui, hingga kini belum menemukan konklusi pasti. Namun, cerita rakyat Skotlandia itu tetap hidup dan terus menjadi topik yang menarik. Film terbaru produksi Beacon Pictures menghadirkan kisah mengenai keberadaan sosok raksasa yang mendiami Danau Loch Ness itu. Sinema yang dibingkai dalam judul The Water Horse: Legend of the Deep tersebut menceritakan keberadaan si makhluk yang berteman dengan seorang anak laki-laki berumur 14 tahun dengan setting pada 1942, ketika Eropa dilanda perang melawan kekuatan Nazi Jerman. Awalnya, anak laki-laki yang bernama Angus MacMorrow (diperankan oleh Alex Etel) itu menemukan sebutir telur seukuran bola rugbi di tepi Danau Loch Ness. Angus membawa pulang telur itu dan menaruhnya di ruang kerja yang ditinggal ayahnya. Keesokan paginya, Angus mendapati telur itu telah menetas dan menemukan sesosok reptil mungil dengan empat kaki mirip penyu, leher yang panjang mirip dinosaurus, dan kepala mirip komodo. Kelahiran si reptil bersamaan dengan datangnya tentara Inggris ke rumahnya guna menghadang laju tentara Jerman. Selanjutnya, film mengisahkan bagaimana usaha Angus memelihara dan merahasiakan keberadaan teman barunya yang dinamai Crusoe itu. Hingga satu hari, Angus dihadapkan pada pilihan sulit, yakni harus melepas si reptil ke danau karena tubuhnya yang berkembang dengan cepat, yakni bertambah 3 meter dalam satu malam. "Yang terbaik baginya adalah bersama aku, bukan dilepas ke danau," ujar Angus kepada Lewis Mowbray (Ben Chaplin), pembantu baru di rumahnya, yang juga mengetahui keberadaan binatang tersebut. Hubungan batin antara Angus dan monster dalam film yang diangkat dari novel karya Dick King-Smith dengan judul yang sama ini cukup menarik. Angus telah dianggap sebagai orang tua bagi si monster karena dialah orang pertama yang ditemui Crusoe setelah menetas dari telur. Angus jugalah yang memberi makan dan merawat Crusoe. Hubungan emosional ini diperankan dengan baik oleh Etel. "Ia memainkan perannya dengan sangat ahli," ujar Pete Hammond dari majalah Maxim. Selain akting menawan Etel, special effect film yang disutradarai Jay Russell ini mendapatkan pujian. "Efek film yang paling indah sejak Extra-Terrestrial (2002)," Hammond menambahkan. Penggambaran sosok raksasa Crusoe boleh dibilang sangat hidup. Weta Digital dan Weta Workshop asal Selandia Baru adalah perusahaan yang mengerjakan sosok Crusoe. Perusahaan ini jugalah yang memproduksi animasi dalam film The Chronicle of Narnia (2005). Dua nominasi dalam ajang Visual Effect Society Awards 2008 sudah dikantongi film yang juga akan diproduksi dalam bentuk game ini. Pengambilan gambar tidak semua dilakukan di Skotlandia, tapi juga di Selandia Baru dan Studio Miramar. Walau begitu, keindahan pemandangan Danau Loch Ness menjadi sajian utama yang sering dihadirkan. Danau yang terletak di ketinggian 15 meter di atas laut itu dikelilingi bukit dan pegunungan nan indah, lengkap dengan detailnya, seperti Benteng Urquhart yang ada pada salah satu tanjung. Danau ini memiliki luas 56,4 kilometer persegi dengan kedalaman 230 meter. Situs Rotten Tomatoes melaporkan 73 persen dari 56 review memberikan pujian dan penilaian positif terhadap film berdurasi 110 menit ini. Metacritic memberi nilai 73 dalam skala 100 untuk film ini. Sejak pemutaran perdananya pada akhir 2007, hingga 3 Februari lalu film ini telah meraup US$ 50 juta lebih. l TITO SIANIPARJudul: The Water Horse: Legend of the DeepSutradara: Jay Russell Skenario: Robert Nelson Jacob Pemain: Alex Etel, Emily Watson, David Morrissey, Ben Chaplin, Craig Hall Genre: drama fantasi Durasi: 110 menit Produksi: Beacon Pictures

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rekor Selama Setahun Bersama Covid-19

    Covid-19 telah bersarang di tanah air selama setahun. Sejumlah rekor dibuat oleh pandemi virus corona. Kabar baik datang dari vaksinasi.