Cerita dalam Etsa

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta: Lihatlah seorang indian yang setengah berjongkok dengan kedua tangan terborgol di belakang. Kepala dengan rambut gondrongnya tengah disiram air dari tempayan oleh sesosok tengkorak yang mengenakan jubah imam Katolik. Sementara itu, anak dan istrinya tengah menunggu proses pembaptisan tersebut di belakangnya, sembari dipertunjukkan kitab suci oleh seekor burung bangkai. Nicolas de Jesus memberi judul lukisan itu Imposicion. Karya ini dipamerkan bersama karya empat seniman lain di Ark Gallery, Jakarta, sejak pekan lalu hingga 20 Februari mendatang. Semua karya para seniman yang dipamerkan dalam pameran yang bertajuk "Dalam Latar Gelap Etsa" tersebut menggunakan teknik etsa. Menurut Nicolas, lukisan itu menggambarkan proses pembaptisan sebagian besar Indian menjadi Katolik oleh misionaris asal Spanyol pada abad ke-16. "Mereka terpaksa menjadi Katolik," kata Nicolas kepada Tempo. Lukisan di atas kertas amate (dari kulit kayu beringin) berukuran 44 x 95 sentimeter itu, dia melanjutkan, merupakan gambaran dunia yang masih terjadi hingga saat ini, yakni pihak berkuasa selalu memaksakan kehendaknya kepada yang lemah. Karya-karya Nicolas yang dipamerkan memang bertema kehidupan sosial rakyat Meksiko. Pria asal Ameyaltepec, Guerrero, Meksiko, ini banyak menggambar suasana desa: warga yang bergotong-royong, anak-anak kecil riang yang bermain gasing, dan lainnya. Selain berupa orang asli, Nicolas menghasilkan karya yang bergambar tengkorak. Sebut saja Despierta America, El Reqreso, dan Buitres Rebeldia. Menurut Nicolas, penggunaan tengkorak dalam lukisan tersebut memberi pesan mendalam. Itu untuk mengingatkan manusia, kaya ataupun miskin, ketika mati mereka akan menjadi sama, yaitu tengkorak. Selain itu, dalam tradisi Spanyol, tengkorak banyak digunakan sebagai simbol leluhur yang lebih dulu meninggal dunia. Setiap 2 November, warga Meksiko merayakan hari kematian dengan meriah, yang dinamai Dia de Los Muertos. Selain Nicolas, tiga seniman lain yang ikut dalam pameran ini karya adalah Jochen Kohn (Jerman) serta Ay Tjoe Christine dan Tisna Sanjaya (Indonesia). Bukan tema lukisan atau cerita yang lebih ditonjolkan dalam pameran ini, melainkan teknik melukisnya, yakni etsa (etching) atau cetak manual. Etsa adalah bagian dari seni grafis intaglio, bersama dengan engraving, drypoint, mezzotint, dan aquatint. Teknik yang ditemukan oleh Daniel Hopfer (1470-1536) ini menghasilkan cetakan yang umumnya bersifat linear dengan detail dan kontur halus. Pada masa seni rupa modern, tiap-tiap karya ditandatangani dan diberi nomor untuk menandai bahwa karya tersebut adalah edisi terbatas. Kurator Jim Supangkat mengatakan teknik etsa bukan sekadar teknik melukis. "Seluk-beluk teknik ini sudah menjadi idiom dan proses pengerjaannya bahkan membangun dunia pengungkapan yang sangat spesifik," ujarnya. Tisna, yang ditemui Tempo di Ark Gallery, dengan senang hati mempertunjukkan cara etsa menghasilkan karya seni grafis. Awalnya, sebuah pelat tembaga dilapisi aspal khusus. Lalu, dengan alat pahat kecil, Tisna mulai mengukir gambarnya. Setelah itu, kata Tisna, pelat itu akan dicelupkan ke asam kemudian aspal tersebut dihapus. Setelah itu, muncullah garis-garis gambar yang kemudian dilapisi dengan tinta. Setelah tinta hanya tersisa pada garis-garis yang tercetak pada pelat, barulah gambar tersebut dicetak pada kertas atau wahananya. "Prosesnya memang rumit dan mahal. Namun, sangat menyenangkan," kata Tisna. Selain tujuh lukisannya dengan teknik etsa, Tisna memamerkan sebuah karya instalasinya berjudul Self Potrait. Di atas sebuah tripleks hitam berukuran 120 x 80 sentimeter Tisna menggambar wajah. Mata digambar dengan pelat logam, hidung dengan sekop, serta bibir yang tersenyum dengan gergaji dan kuas.Sebuah kalimat diukir melengkung membentuk mata yang bulat bertulisan, "jadilah kosong, engkau akan tetap penuh". l TITO SIANIPAR

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?