Para Mujahid Menjemput Berkah di Jalan Musik

Reporter:
Editor:

Nunuy Nurhayati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Doni (paling kiri), Gus Fuad (bertopi), dan penyelenggara konser Menjemput Berkah di Jalan Musik. (TEMPO/M.Syaifullah)

    Doni (paling kiri), Gus Fuad (bertopi), dan penyelenggara konser Menjemput Berkah di Jalan Musik. (TEMPO/M.Syaifullah)

    TEMPO.CO, Yogyakarta -Konser bertajuk Menjemput Berkah di Jalan Musik digelar di Cengkir Heritage Resto and Coffee Jalan Sumberan II No.4, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman, Senin, 4 Februari 2019. Para musikus dan penyanyi menyebut sebagai mujahid musik, dimotori oleh Muhammad Fuad Riyadi atau Gus Fuad, Pengasuh Pondok Pesantren Roudlotul Fatihah Yogyakarta.

    Doni Saputra, mantan vokalis Seventeen yang kini menjadi vokalis Kiai Kanjengnya Cak Nun juga menjadi salah satu orang yang berperan sebagai mujahid musik. Gus Fuad bersama Rofa Band dan beberapa musisi Yogyakarta tampil menghibur masyarakat secara gratis.

    “Ada Tomo Widayat, Additional Player Sheila on 7, Elang Nugraha, Cakka Nugraha dari The Finest Tree, Dinno dari Shakey, Sandi dari Newdays, Fai (Fayrush), dan beberapa musisi terkenal lainnya secara spontanitas akan manggung diiringi Hostband Dexter,” kata Doni, Senin, 4 Februari 2019.

    Konser ini merupakan upaya kecil untuk melawan fenomena kelompok yang mengharamkan musik. Bahkan konser musik ini digelar di cafe yang didirikan oleh para takmir masjid. Ada dua sesi dalam konser ini. Pertama penampilan Host Band Dexter yang akan mengiringi musisi-musisi ternama Yogyakarta seperti Erros dan Duta S07.

    Kemudian diteruskan dengan penampilan Rofa Band yang khas dengan Rock Sholawat siap menghibur para Legiun. Legiun merupakan sebutan untuk penggemar Rofa Band. Syair lagu-lagu Rofa Band merupakan pujian terhadap Rosulullah Muhammad SAW.

    Menurut Gus Fuad, banyak yang mengharamkan musik. Bahkan banyak penyanyi atau musisi yang menyebut sori mereka hijrah dengan meninggalkan dunia musik dan menjadi seorang ustad. Memang itu tidak salah. “Tetapi saya kira mereka belum khatam belajar kitab-kitabnya,” kata Gus Fuad.

    Menurut pendapat dia, mengharamkan musik seolah menafikan fitrah manusia. Fitrah manusia cenderung menyukai keindahan, baik berupa pemandangan alam, kemolekan wajah, aroma yang harum, dan tentu juga suara yang merdu dan irama yang harmonis. Bahkan Tuhan itu indah dan mencintai keindahan.

    Menurut Gus Fuad, dalam tradisi Islam sejak zaman Rasulullah, sahabat hingga saat ini, musik merupakan alat utama untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

    Gus Fuad mengaku, motivasinya bermusik salah satunya karena adanya sekte-sekte yang mengharamkan musik. Fatwa mengharam musik muncul karena pemahaman tentang agama hanya sepotong-sepotong. Itu pun tidak hanya terjadi dalam Islam tetapi juga agama lain.

    “Musik itu halal. Musik bukan untuk hal yang berhubungan dengan perzinaan dan mabuk-mabukan, bahkan untuk dunia politik. Bahayanya setelah mengharamkan musik, orang-orang ini akan mengharamkan orang lain selain dirinya sendiri,” kata dia.

    Ia merasa miris, melihat musisi yang berhenti bermusik dengan alasan hijrah. Lalu membakar gitar, drum, atau apapun alat musik yang mereka pernah mainkan. “Mereka lupa bahwa gitar adalah ciptaan seorang ulama," kata dia.

    Baca: Empat Poin Kritik RUU Permusikan dari Koalisi Nasional

    Mereka menyebut sebagai mujahid musik karena memang sedang berjuang menjunjung tinggi Nabi Muhammad. Mereka juga berjuang menghidupi keluarga di jalur musik. Mereka berjuang demi agama melalui jalur musik.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menghilangkan Bau Amis Ikan, Simak Beberapa Tipsnya

    Ikan adalah salah satu bahan makanan yang sangat kaya manfaat. Namun terkadang orang malas mengkonsumsinya karena adanya bau amis ikan yang menyengat.