Patung Tipis

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tangan terentang, kaki terangkat lincah. Gerak tubuhnya luwes meski terbebat kain. Patung perunggu berwarna hitam itu gampang menggugah imajinasi tentang gaya seorang penari cantik, walaupun kepalanya mengerut dan tak menampilkan sebuah wajah. Tubuhnya lebih tampak sebagai sebuah garis ramping dengan permukaan kasar.Karya itu satu dari puluhan karya pematung Syahrial Koto yang dipamerkan di Santrian Gallery, Sanur, pada 11 Januari hingga 9 Maret 208. Dalam pameran ini, obyek utamanya adalah interaksi antara manusia dan hewan, khususnya kuda, burung, dan ayam jago. Ada pula potret aktivitas seniman, seperti yang tampak dalam patung berjudul Penari, Pemain Guitar, dan Pemain Biola. Alumni Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, pada 1991 itu juga bermain-main dengan menggunakan polah ayam jago untuk memotret manusia, seperti pada karya berjudul Arogan. Pengaruh kebudayaan Nias yang dekat dengan tempat kelahirannya tampak dari bentuk ayam yang menyerupai patung-patung kuno di daerah tersebut.Kesamaannya ada pada pemiuhan (deformasi) yang dilakukan Koto untuk mencapai kepuasan imajinatifnya, yakni dengan mengerutkannya dalam bentuk-bentuk nan ramping. "Terasa lebih lentur untuk menangkap kesan karena patung tidak mungkin menampilkan sebuah gerakan," kata pria kelahiran Pariaman, Sumatera Barat, pada 1960 ini. Panduan utama Syahrial dalam berkarya adalah kesan yang paling kuat dan ide yang ingin dicuatkan sesuai dengan suasana hatinya. Seperti ketika ia menangkap gagasan tentang melihat bulan purnama, tema itu diwujudkan dalam gaya seekor kuda yang melihat ke langit sedang mengangkat kakinya. Kadang ia memotong obyek hanya pada bentuk tertentu. Misalnya, kesan tentang seorang perempuan bisa jadi hanya ditangkapnya dengan mematungkan beberapa helai rambut.Kurator pameran ini, Wayan Sukra, mengatakan patung Syahrial berupaya menciptakan terjemahan dari model sebagaimana ia melihatnya dan sebagaimana menurut dia model itu mesti dilihat. Syahrial merasa penting memangkas segala yang berlebihan untuk mengurangi apa yang dipatungkan hingga tinggal rangka bingkainya. Niat Syahrial bukanlah menawarkan citra eksak, melainkan memproduksi kemiripan yang membangkitkan perasaan dan sikap yang lazim ditimbulkan oleh kehadiran manusia nyata. Pada akhirnya, patung itu tidak merepresentasikan siapa pun, tapi menjadi diri mereka sendiri.Kolektor patung Oei Hong Djien menilai patung-patung Syahrial gampang mengingatkan orang pada karya sejumlah pematung besar. Misalnya pematung Italia, Marino Marini (1901-1980), yang kondang dengan patung kuda dan penunggang kudanya. Atau, kata Ong saat membuka pameran Koto, karya pematung Henry Moore (1898-1986).Ciri khas Syahrial sangat kuat dengan adanya elemen Indonesia pada karya-karyanya. "Ia sudah bekerja keras untuk mencapai kematangan itu," Ong menegaskan.Seperti dicatat G. Shidarta dalam katalog pameran, Syahrial mulai belajar seni lukis dan patung di bawah asuhan Wisran Hadi, semasa aktif di sanggar teater, sastra, dan seni rupa Sanggar Bumi. Kala itu, dia adalah siswa Institut Nasional Syafei di Kayutanam.Kemudian ia masuk Sekolah Menengah Seni Rupa di Padang. Syahrial melanjutkan studinya dengan mengambil jurusan seni patung di Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia di Yogyakarta.Ia juga berguru kepada Edhi Soenarso sebagai anggota tim yang menciptakan patung untuk Museum Militer di Taman Mini Indonesia Indah di Jakarta (1985-1987), produksi patung dan relief Monumen Yogya Kembali di Yogyakarta (1988-1989), dan produksi diorama Museum Lubang Buaya di Jakarta (1990).Pada 1989, ia aktif di Pasar Seni Ancol, Jakarta. Perjalanan hidup itu meninggalkan jejak mendalam dalam karyanya.ROFIQI HASAN

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.