Suguhan Seriosa dan Keroncong di Hari Jadi Rose Pandanwangi ke-90

Reporter:
Editor:

Aisha Shaidra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penyanyi yang juga merupakan istri dari pelukis S. Sudjojono, Rosalina Poppeck atau Rose Pandanwangi, diwawancarai Tempo di S. Sudjojono Center, Tangerang Selatan, Sabtu, 3 Juni 2017. DOk.TEMPO/Dhemas Revianto Atmodjo

    Penyanyi yang juga merupakan istri dari pelukis S. Sudjojono, Rosalina Poppeck atau Rose Pandanwangi, diwawancarai Tempo di S. Sudjojono Center, Tangerang Selatan, Sabtu, 3 Juni 2017. DOk.TEMPO/Dhemas Revianto Atmodjo

    TEMPO.CO, Jakarta - Deretan musik dan nyanyian keroncong disusul seriosa menjadi suguhan dalam perayaan 90 tahun Rose Pandanwangi yang digelar di Ciputra Artpreneur, Ahad 27 Januari 2019. Rose Pandanwangi merupakan diva seriosa pertama Indonesia. Perayaan 90 tahun digelar lewat sebuah acara bertajuk “Kisah Mawar: 90 Tahun Rose Pandanwangi untuk Seriosa dan Keroncong”. Acara tersebut dikemas dalam suguhan musik dan bincang-bincang mengenai musik keroncong dan seriosa di Indonesia serta perjalanan karier Rose selama ini.

    Deretan musikus dan pakar musik turut terlibat di acara yang berlangsung selama kurang lebih 3 jam 30 menit tersebut. Di antaranya, Rose Pandanwangi, Ananda Sukarlan, Intan Soekotjo (putri maestro keroncong Indonesia Sundari Soekotjo & Co-Founder Yayasan Keroncong Indonesia), Ninok Leksono (Rektor Universitas Multimedia Nusantara), Sharifah Faizah Syed Mohammed (Dosen Senior Universiti Teknologi MARA Malaysia), Imam D. Kamus (Akademisi dan Pendiri Sarekat Krontjong dan Dawai Nusantara).

    Sedangkan untuk sesi hiburan musik, panggung diramaikan penampilan musik dari maestro keroncong Indonesia Sundari Soekotjo, Ananda Sukarlan, Intan Soekotjo, Ervina Simarmata, Ninok Leksono, Sekar Pertiwi, dan Nikodemus Lukas.

    Acara ini digelar bukan hanya untuk merayakan usia sang diva legendaris sejak era Soekarno tersebut. Rose sendiri berharap rangkaian acara bisa menjadi salah satu momen edukasi bagi generasi muda saat ini. “Ini melaksanakan keinginan mama, ibu Rose untuk tribute kepada musik asli Indonesia, beliau ingin obor ini diteruskan kepada generasi muda,”ujar Maya Pandanwangi, Direktur S. Sudjojono Centre di Ciputra Artpreneur, Kamis, 24 Januari 2019. “Ini sebuah tribute untuk seriosa dan keroncong Indonesia yang sangat dicintai Rose Pandanwangi,” tutur Maya saat membuka acara,” Ahad 27 Januari 2019.

    Acara pun dihadiri puluhan penonton yang cukup mewakili beberapa generasi, khususnya generasi milenial yang menjadi salah satu sasaran utama.  Dalam bincang-bincang sesi awal, dimoderatori Ninok Leksono, Imam D. Kamus memaparkan soal asal-usul serta akar keroncong di Indonesia serta perkembangannya hingga kini. DIsambung pemaparan dan cerita pengalaman Intan Soekotjo dan Ervina Simarmata sebagai penyanyi keroncong muda yang telah tampil di berbagai event skala internasional.

    Intan menyampaikan keroncong yang kerpa dikaitkan dengan musik yang serius atau erat dengan orang tua sebetulnya punya spektrum yang luas untuk bisa dikolaborasikan dengan musik saat ini. “Meski saya penyanyi keroncong saya juga mendengar musik lain,” tutur Intan. Ia pun kerap mengkolaborasikan keroncong dengan musik-musik anyar. Hal itu menurut Intan sebagai salah satu upaya anak muda yang memeprtahankan orisinalitas Indonesia tanpa melupakan akar musik dan tak anti memberi sentuhan baru agar selalu sesuai dengan zaman saat ini.

    Pada diskusi sesi berikutnya, barulah Rose Pandanwangi ikut hadir menjadi salah satu narasumber. Rose pun sempat bercerita tentang awal mula dirinya terjun bermusik serta pengalaman-pengalamannya yang luar biasa. Pianis Ananda Sukarlan menuturkan Rose merupakan soprano pertama di panggung musik klasik Indonesia.

    Rose Pandanwangi adalah nama panggung dari seorang perempuan bernama Rosalina Wilhelmina Poppeck yang lahir di Makassar, 26 Januari 1929. Ia berketurunan Jerman yang diturunkan dari Gustav Poppeck dan serta darah Spanyol-Manado yang turun dari ibunya, Sara Elizabeth Pondt Supit.

    Musik sudah erat dengan sosok Rose sejak ia kecil. Bermain piano dan vokal sudah dijalaninya. Ia sempat dikirim untuk bersekolah di Belanda oleh kedua orang tuanya. Lima tahun tinggal di Belanda, Rose pun kembali ke Indonesia pada 1952. Ia sempat dikirim ke Festival Pemuda ke-4 di Bukares, Rumania. Dengan pengalaman tersebut, Rose menjadi penyanyi seriosa Indonesia pertama yang tampil di panggung internasional.

    Sebagai penutup, Rose tampil membawakan sebuah lagu diiringi permainan piano Ananda Sukarlan yang sebelumnya juga mengiringi Nikodemus Lukas membawakan beberapa notasi yang terinspirasi dari puisi-puisi Sapardi Djoko Damono. Tak hanya itu, Sapardi pun ikut menjadi salah satu penampil membawakan puisi karya almarhum S. Sudjojono.

    Baca: Ulang Tahun 90 Tahun, Rose Pandanwangi Gelar Konser Besok

    Seriosa merupakan genre musik yang mulanya dikenal di Indonesia pada 1950-an dan dirajai penyanyi Norma Sanger. Hingga kemudian muncul Rose Pandanwangi pada 1954 ketika menjadi juara II Bintang Radio Republik Indonesia dan dia menjadi juara nasional pada 1959. Sejak itu nama Rose terus dikenal hingga 1970-an. Hingga kemudian muncul generasi berikutnya. Rose juga sempat merekam suaranya di piringan hitam di Lokananta dan di Belanda. Hal ini menunjukkan kapasitas Rose sebagai penyanyi seriosa dan keroncong yang diperhitungkan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lolos ke Piala Eropa 2020, Ronaldo dan Kane Bikin Rekor

    Sejumlah 20 negara sudah memastikan diri mengikuti turnamen empat tahunan Piala Eropa 2020. Ada beberapa catatan menarik.