Apel yang Tak Selesai

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sebuah apel tampak geroak menyisakan jejak gigitan manusia. Bila dipandang sepintas, lukisan bergaya realistis itu tak bakal meninggalkan kesan yang mendalam. Tapi, jika diamati lebih teliti, bakal melesakkan pertanyaan: ke mana bagian yang hilang dan seperti apa bentuknya? Persepsi pun terpancing untuk membuat rekaan-rekaan dan merangkainya menjadi bayangan benda yang utuh.Si pelukis, Kokok P. Sancoko, 33 tahun, memang sedang bermain-main dengan soal lengkap-tak lengkap itu. Ia menggelar pameran bertajuk "(In) Complete" di Biasa Art Space, Seminyak, Kuta, yang berlangsung hingga 30 Januari mendatang. Kokok seperti mengajak kita mencermati cara manusia memandang sebuah obyek dan merangkainya menjadi kenyataan yang utuh. "Itu adalah hal yang rumit tapi sangat menarik bagiku," dia menyebutkan. Pilihan terhadap benda yang akrab dengan kehidupan sehari-hari, seperti buah-buahan dan sayur-sayuran, membuat permainan lebih mudah melibatkan penikmat lukisannya.Saat melukis, berbagai pendekatan dilakukannya, di antaranya ia mencoba memindahkan bagian tertentu dari obyek ke panel yang berbeda. Misalnya, sebuah apel tampak geroak, dan bagian atau serpihan apel dilukis di panel yang berbeda. Namun, kedua panel tersebut masih merupakan satu rangkaian lukisan. Ada pula obyek yang didekati dengan cara membuat fokus di bagian tertentu pada obyek tersebut, sementara bagian-bagian obyek yang lain dibiarkan buram, seperti pada lukisan kubis. Ada juga bagian-bagian tertentu yang sengaja dihilangkan atau dipindahkan, tapi obyek itu diletakkan lagi di dalam panel yang sama.Cara lain adalah dengan memotong beberapa bagian obyek lalu diletakkan sedemikian rupa, sehingga obyek itu mengalami pergeseran dan perubahan bentuk karena efek potong-letak yang sangat diperhitungkan dan dilakukan dengan cermat. Yang paling sulit adalah melukiskan obyek yang tidak tampak keberadaannya, tapi bisa muncul dalam persepsi seseorang yang melihat lukisan tersebut. Ia seperti sedang melukis hantu.Untuk memudahkan pengerjaan, ia memotret benda yang dipilihnya menjadi obyek lalu mengolahnya di komputer. Setelah dicetak, ia pun memindahkannya ke atas kanvas. "Hasilnya pasti berbeda karena banyak hal di kepalaku yang tak bisa kupindahkan ke komputer," ujar perupa yang menekuni ilmu desain di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, ini.Pengamat seni Enin Supriyanto, yang menjadi kurator dalam pameran ini, menilai lukisan Kokok membuat penikmatnya terombang-ambing dalam permainan persepsi yang mengasyikkan. Mereka menghadapi kenyataan tampilan benda, dan sekaligus lukisan, yang serba tak lengkap. Dalam ruang persepsi semacam itulah mereka mulai menyusun "kelengkapan" benda dan lukisan itu.Pilihan terhadap obyek yang akrab dengan kehidupan sehari-hari, menurut Enin, merupakan strategi agar kita tergoda untuk melibatkan diri dalam pertanyaan itu.Begitu pula dengan teknik lukisan realistisnya. Soal yang sama sudah diajukan oleh seni lukis non representasional, seperti lukisan bercorak abstrak. Tapi masalahnya menjadi lain karena Kokok menghadirkan wujud dan bentuk dengan mengalihrupakan apa yang kita kenali sehari-hari. ROFIQI HASAN

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.