Kisah Hidup Taufiq Kiemas Difilmkan, Intip Para Pemerannya

Reporter:
Editor:

Nunuy Nurhayati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan ketua MPR RI Taufiq Kiemas meninggal dunia di sebuah rumah sakit di Singapura pada 8 Juni 2013. Taufik yang lahir di Jakarta, 31 Desember 1942, sebelumnya menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di Singapura. TEMPO/Seto Wardhana

    Mantan ketua MPR RI Taufiq Kiemas meninggal dunia di sebuah rumah sakit di Singapura pada 8 Juni 2013. Taufik yang lahir di Jakarta, 31 Desember 1942, sebelumnya menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di Singapura. TEMPO/Seto Wardhana

    TEMPO.CO, Jakarta - Film biopik Taufiq Kiemas yang berjudul Taufiq: Lelaki yang Menentang Badai mulai syuting di Yogyakarta, pada Jumat, 7 Desember 2018. Rencananya proses pengambilan gambar film produksi Max Pictures ini akan berlangsung selama tiga pekan ke depan.

    "Sebelumnya, akhir November lalu, syuting perdana telah dilakukan di kampung halaman orang tua Taufiq Kiemas di Palembang, Sumatera Selatan," kata Sutradara Film Taufiq Kiemas, Ismail Basbeth dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Sabtu, 8 Desember 2018.

    Menurut Ismail, syuting di Palembang mengambil adegan-adegan masa kanak-kanak dan remaja Taufiq. Masa-masa ini merupakan masa penting dalam pembentukan karakter Taufiq.

    Ia berpendapat kisah Taufiq Kiemas yang diangkat dalam film ini sangat menarik, terutama menceritakan pengalaman seorang anak muda dalam mengarungi gelombang kehidupan dan dinamika sosial-politik di masa 1960-an. Almarhum Taufiq Kiemas pernah mengusulkan pada Megawati untuk menghabiskan masa tuanya di apartemen. istimewa

    "Saya berharap film ini akan menarik minat anak muda, sekaligus kalangan orangtua yang ingin bernostalgia di masa itu," ujar Ismail Basbeth.

    Ismail mengungkapkan, ketika pertama kali ditawari menyutradarai film ini, ia tidak langsung menyetujui. "Namun, setelah membaca skenarionya dan juga biografi Pak Taufiq, saya tertarik dan merasa tertantang. Kisah hidup Pak Taufiq penuh warna. Selain itu, saya diberi kebebasan untuk menggarap film ini sepenuhnya oleh para produser," kata Ismail.

    Ismail Basbeth telah menggarap banyak film, antara lain Mencari Hilal dan Arini. Biopik ini mengisahkan masa remaja dan masa ketika Taufiq Kiemas menjadi aktivis gerakan politik yang mendukung Presiden Soekarno. Karena aktivitas politiknya tersebut, Taufiq Kiemas semasa hidupnya pernah mendekam di dalam penjara pada masa rezim Soeharto.

    Disebutkan bahwa sejatinya film ini bukan film politik, tapi drama yang mengangkat perjuangan hidup seorang anak manusia sehingga menjadi pemimpin dan negarawan. Dalam film ini juga ditampilkan kisah asmara Taufiq Kiemas dengan Megawati Soekarnoputri. Penggagas sekaligus produser eksekutif film ini adalah Muhammad Yamin dan Imran Hasibuan.

    Taufiq Kiemas akan diperankan oleh aktor Achmad Megantara. Adapun yang berperan sebagai Megawati Soekarno adalah Aghniny Haque. Film ini juga didukung aktor-aktor senior, antara lain Ray Sahetapy yang memerankan Bung Karno dan Ferry Salim yang didapuk sebagai Tjik Agus Kiemas, ayahanda dari Taufiq Kiemas. Achmad Megantara. Tabloidbintang.com

    "Pak Taufiq adalah salah seorang tokoh besar yang pernah dimiliki bangsa ini. Saya akan berupaya sebaik-baiknya untuk memerankan sosoknya," tutur Megantara, yang antara lain pernah membintangi film 13: The Haunted (2018), Catatan Si Boy (2016), dan Masa Muda (2017).

    Putri Taufiq Kiemas dan Megawati yang juga Menko Pembangunan dan Kebudayaan, Puan Maharani, menyambut baik rencana pembuatan film ini. Menurutnya, film ini bisa menggambarkan sosok Taufiq Kiemas yang sejak muda sebagai seorang aktivis gerakan hingga menjadi negarawan serta tokoh yang bisa bergaul dengan semua kalangan.

    "Dengan begitu, masyarakat lebih mengenal dan memahami sosok Pak Taufiq Kiemas," kata Puan Maharani, beberapa waktu lalu.

    Rencananya, film Taufiq: Lelaki yang Menentang Badai akan mulai tayang di bioskop-bioskop pada Maret 2019. "Kami berharap film ini akan diapresiasi publik Indonesia, kata Ody Mulya, produser yang telah menghasilkan film-film box office, seperti Dilan 1990.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.