Minggatnya Sang Dewi Padi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Keprihatinan yang mendalam terhadap lingkungan menggerakkan perupa jebolan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Solo, Gigih Wiyono, menggelar karya-karya yang berkaitan dengan alam. Gigih memilih tema "Diva Sri Migrasi" dalam pameran tunggalnya ke-14 yang dibuka Jumat lalu di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.Seniman ini memajang 58 lukisan dan 41 patung yang dibuatnya pada 1999-2007. Pemilihan tema tersebut dilatarbelakangi situasi alam yang terus-menerus marah dan membuahkan bencana bagi manusia. "Karena manusia tidak lagi menghargai Dewi Sri sehingga dewi itu bermigrasi, minggat dari Indonesia," kata dia. Dewi (Diva) Sri bagi Gigih tidak hanya sekadar dewi padi, seperti yang dipersepsikan masyarakat pada umumnya. Dewi Sri adalah dewi alam yang memberi kehidupan. Sayangnya, masyarakat telah mengabaikan dan tidak lagi menghargainya. "Buktinya tidak ada lagi orang yang menanam dan memelihara tanaman. Jadilah banjir, longsor," ujarnya. Gigih menyebut Dewi atau Diva Sri kini sudah migrasi ke Thailand karena Indonesia kini harus mengimpor beras dari negara itu. Beberapa lukisannya mengenai Dewi Sri disimbolkan dengan perempuan berkonde, seperti dalam lukisan Dewi Sri Mencari Tanah Lapang. "Dewi Sri memegang alu, menumbuk beton karena sudah tidak ada padi," katanya. Pembukaan pameran perupa kelahiran Sukoharjo ini dimeriahkan oleh kolaborasi seni tari penari asal Belanda, Merel Wardaningrum, dengan penari asal Indonesia, Yan Rizky Utami, diiringi kotekan lesung oleh kaum ibu Padepokan Djayabinangun, Sukoharjo, Jawa Tengah, bertajuk Sri Mulih. IMRON ROSYID

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia dapat Belajar dari Gelombang Kedua Wabah Covid-19 di India

    Gelombang kedua wabah Covid-19 memukul India. Pukulan gelombang kedua ini lebih gawat dibandingkan Februari 2021.