Gisella Anastasia Ungkap Alasan Mata Sembap di Foto Ulang Tahun

Reporter:
Editor:

Aisha Shaidra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gading Marten, Gisella Anastasia, dan putri mereka Gempita Nora Marten. Instagram

    Gading Marten, Gisella Anastasia, dan putri mereka Gempita Nora Marten. Instagram

    TEMPO.CO, Jakarta - Penyanyi Gisella Anastasia dan Gading Marten akhirnya sepakat untuk menyudahi rumah tangga yang sudah mereka bina selama 5 tahun lamanya. Perempuan jebolan ajang pencarian bakat tersebut tidak mengungkapkan kapan kesepakatan tersebut diambil. Namun Gisel mengatakan pada saat Gading mengunggah ucapan selama ulang tahun untuk dirinya pada 16 November lalu, keduanya telah sepakat bercerai.

    "Ulang tahun itu kami sudah tahu sama-sama akan menghadapi ini, makanya mata saya bengkak. Makanya saya enggak posting kan saya bingung, kondisi gitu bukan kondisi yang enak, tapi tetap kedewasaan mas (Gading) memberikan saya kue dan ucapan doa, itu kan menyentuh buat siapa pun jadi ya makanya muka saya begitu. Tapi keputusan ini (berpisah) sudah ada jauh sebelum itu," ujar Gisel, dikutip dari Antaranews.com.

    Wanita berusia 28 tahun ini juga mengaku telah berpamitan kepada orang tua Gading dan menerima wejangan dan nasihat untuk menjalani kehidupan ke depan.

    "Betul memang pamit, saya hadapi secara gentle, sebagai anak saya pamit baik-baik dan mamah dengan besar hati menerima keputusan kami, memberi nasehat, menanyakan ulang, lalu kami jelaskan dan bisa menerima. Kami nangis bareng tapi ngga ada yang pingsan, nggak ada kenapa-kenapa," jelasnya.

    Baca: Gading Marten - Gisella Anastasia Masih Suka Video Call

    Gisella Anastasia dan Gading Marten pun sudah memberikan pengertian kepada sang buah hati, Gempita Norah Marten terkait kondisi yang tengah mereka hadapi. "Tapi usia segitu kan belum paham apa-apa. Dia happy-happy saja, yang dia tahu banyak orang yang sayang sama dia," ujar Gisel.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kronologi KLB Partai Demokrat, dari Gerakan Politis hingga Laporan AHY

    Deli Serdang, KLB Partai Demokrat menetapkan Moeldoko sebagai ketua umum partai. Di Jakarta, AHY melapor ke Kemenhumkam. Dualisme partai terjadi.