Rabu, 19 Desember 2018

Okky Madasari Hadirkan Sejarah, Petualangan, dan Kepekaan Sosial

Reporter:
Editor:

Aisha Shaidra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Okky Madasari. wikipedia.org

    Okky Madasari. wikipedia.org

    TEMPO.CO, Jakarta - Keputusan Okky Madasari menulis cerita anak tak main-main. Buktinya belum setahun buku pertamanya, Mata di Tanah Melus dirilis pada Januari 2018, 10 bulan kemudian  ia meluncurkan kelanjutan kisah tersebut lewat Mata dan Rahasia Pulau Gapi. Okky Madasari memang hendak menyajikan serial Mata—nama tokoh utama cerita ini—memiliki unsur daerah-daerah di Indonesia lengkap dengan segala persoalan masyarakatnya yang dikemas dalam kacamata seorang anak.

    Kisah petualangan dan fantasi ini menurutnya merupakan formula yang sudah pasti disukai banyak anak-anak. Ia pun berkaca pada masa kecilnya yang diwarnai kisah-kisah Lima Sekawan atau Trio Detektif. “Kisah petualangan selalu menyenangkan untuk anak –anak,” tuturnya kala berkunjung ke kantor Tempo, Selasa 13 November 2018.

    Karya Okky sebelumnya merupakan novel yang diperuntukkan orang dewasa. Lewat karyanya Okky menyajikan kritik sosial terhadap berbagai permasalahan yang ada di Indonesia khususnya yang berkaitan dengan isu hak asasi atau menyajikan persoalan masyarakat dan ketidakadilan. Ia tak menghilangkan bentuk tersebut walau dalam sebuah karya anak. Menurutnya, karya anak pun tetap bias menjadi medium untuk menjadi wadah menyuarakan hal-hal kemanusiaan. Malah bisa jadi alternative bacaan anak untuk memahami nilai kehidupan sejak dini. “Harapannya jika sejak kecil mereka membaca ini mereka akan tumbuh sebagai anak berkarakter yang menghargai nilai kehidupan.”

    Okky rupanya memang sudah merencanakan kisah Mata ini setidaknya hadir dalam empat kisah, kisah ketiga menurutnya adalah tentang Mata dan Manusia Laut. Tapi sebelum beranjak ke kisah ketiga, mari kita simak seperti Apa Okky merancang kisah kedua dari serial Mata ini. Berikut kutipan wawancara Okky Madasari dengan wartawan Tempo, Aisha Shaidra dan Nur Alfiyah.

    Baca: Okky Madasari dan Kisah Buku Terbaru, Mata di Tanah Melus

    Seperti apa Anda mengonsep serial Mata ini?

    Serial mata mengangkat cerita berlatar daerah di Indonesia dari sisi manusianya, kehidupannya, persoalannya, semua dikemas dalam cerita anak. Ini adalah kisah petualangan unsur fantasi dalam kemasan cerita anak.

    Dua buku terbit di tahun yang sama, seperti apa pertimbangannya?

    Sejak awal saya sudah tahu buku kedua ini enggak bisa menunggu lama lagi sejak buku pertama diluncurkan. Dalam konsep serial, ketika pembaca sudah tahu dan merasakan suasana cerita di buku pertama, ada benang merahnya secara emosional, maka buku keduanya harus segera terbit. Pihak editor juga titip pesan agar (jarak) serial ini jangan lama-lama.

    Buku yang pertama belum dirilis secara resmi, menunggu buku keduanya dulu?

    Dari awal Mata di Tanah Melus memang (dijual) tanpa launching dan promosi karena sengaja menunggu buku kedua. Kalau saat itu baru ada satu buku, saya masih ragu apa benar saya serius menulis novel anak? Sekarang saya sudah yakin dan makin nyaman menuliskannya. Saya sudah menemukan otentisitas Okky Madasari dalam menulis buku anak.

    Mengapa sempat merasa tak yakin?

    Lewat pengalaman yang pertama saya masih meraba-raba bagaimana menulis buku anak. Yang kedua saya merasa lebih enak dan nyaman dengan ritmenya, dan merasa tidak begitu merasa susah payah seperti saat menggarap yang pertama.

    Okky Madasari pada acara peluncuran buku anak keduanya, Mata dan Rahasia Pulau Gapi, Jumat 16 November 2018. (Gramedia Pustaka Utama)

    Anda berencana menggarap kisah ini dalam empat bagian?

    Ya, rencananya akan ada empat buku. Saya sudah mulai menulis untuk buku ketiga, Mata dan Manusia Laut ini latarnya di Bajo. Semoga kalau lancar, saya maunya terbit pada musim liburan anak berikutnya di bulan Juli 2019. Lalu buku keempat pada akhir tahun 2019.

    Mengingat buku Mata yang pertama (Mata di Tanah Melus) dan buku kedua ini, Anda sengaja berfokus mengangkat kehidupan Indonesia bagian Timur?

    Buku pertama berlatar di Nusa Tenggara Timur, lalu buku kedua ini di Ternate, buku ketiga di Bajo, pada buku keempat rencananya Mata akan kembali ke Jawa.

    Dari mana inspirasi untuk Mata dan Rahasia Pulau Gapi ini?

    Ternate dulunya sebuah pulau penting dan masuk dalam pusat perdagangan dunia. Kedatangan Portugis, Spanyol pun awalnya ke sana. Pemahaman soal ini tak terlalu banyak dipahami anak-anak sekarang. Saat Indonesia merdeka pulau-pulau tersebut malah dilupakan. Pulau-pulau di Maluku jadi terpencil padahal dulunya pusat perdagangan.

    Lalu bagaimana kisah Mata ini dimulai?

    Seri Mata ini benang merahnya adalah petualangan. Akan ada kisah yang mengangkat sejarah di Indonesia. Saya akan membawa anak-anak, pembaca menelusuri sejarah dalam balutan kisah Mata. Dalam kisah kedua, saya mengangkat petualangan Mata dan teman-temannya, kucing dan laba-laba. Mata dan kucing ini melihat bagaimana sebuah sejarah saat itu Ternate jadi pusat perdagangan dunia. Konflik utamanya, Mata dan dua hewan ini berusaha menyelamatkan pusaka Pulau Gapi.

    Dari mana Anda mendapat bahan untuk kisah ini?

    Kebetulan sudah ke Ternate tahun lalu. Sehingga memang sudah siap semuanya. Tapi memang yang lama ada di proses pengendapan dan pematangan idenya. Baru bisa mulai menulis beberapa bulan setelah Mata di Tanah Melus terbit.

    Tetap ada kritik?

    Tetap penuh kritik tapi dikemas dalam cerita petualangan anak 12 tahun di daerah Indonesia. Di buku pertama saya memuat kritik soal pola pengajaran agama di sekolah, di buku kedua ini fokus pada kritik sistem pendidikan. Saya tetap akan menyisipkan kritik meski dalam karya anak. Bagaimana anak mengalami sesuatu, sejak kecil membaca hal-hal seperti ini akan membuat mereka tumbuh sebagai karakter yang memahami nilai kehidupan, nilai-nilai kemanusiaan.

    Bagaimana Anda meyakini itu?

    Saya memahami kekuatan cerita membentuk kesadaran manusia. Kita percaya usia anak adalah umur yang sangat penting dan krusial. Ini jadi medan untuk menyajikan, memberikan kesadaran baru bagi anak-anak untuk menjadi manusia berkarakter.

    Karya ini sebetulnya jadi bisa dibaca siapa saja?

    Sebenarnya ini juga akan menjadi bacaan yang bisa dibaca segala usia. Buku anak yang baik menurut saya yang bisa dinikmati segala usia tak hanya anak. Soal tetap adanya kritik sosial itu bagaimana saya melihat persoalan masyarakat tetapi tetap memberi kesadaran baru sejak kecil.

    Ada hal apa lagi yang disajikan?

    Selain itu juga ada soal isu lingkungan dan multikulturalisme. Misal saat pembaca diajak ke Belu (lewat cerita) mereka akan ketemu suku, budaya, agama berbeda. Pemahaman berbeda yang sudah ditanamkan sejak kecil. Mereka akan mulai belajar memahami perbedaan dan soal keadilan ekologi juga.

    Seperti apa proses kreatif Okky Madasari dalam menggarap novel anak ini? Jangan lewatkan obrolan soal hal itu di artikel berikutnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Baru OK Otrip, Jak Lingko Beroperasi 1 Oktober 2018

    Pemerintah DKI Jakarta meluncurkan transportasi massal terintegrasi, Jak Lingko pada 1 Oktober 2018. Jak Lingko adalah rebranding OK Otrip.