Rabu, 21 November 2018

Emte Luncurkan Komik Gugug! Tampilkan Kehidupan Sub-urban

Reporter:
Editor:

Aisha Shaidra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrator Muhammad Taufik atau Emte meluncurkan sebuah buku komik berjudul Gugug di Ganara Art Center, Kemang. Selasa, 6 November 2018. TEMPO/Aisha Shaidra

    Ilustrator Muhammad Taufik atau Emte meluncurkan sebuah buku komik berjudul Gugug di Ganara Art Center, Kemang. Selasa, 6 November 2018. TEMPO/Aisha Shaidra

    TEMPO.CO, Jakarta - Ilustrator Mohammad Taufiq atau Emte, meluncurkan komik berjudul Gugug! di Ganara Art Gallery, Kemang, Jakarta Selatan pada Selasa, 6 November 2018. Peluncuran buku ini disertai dengan pembukaan pameran ilustrasi di tempat yang sama. Buku ini diluncurkan pertama kali di Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2018 yang berlangsung Oktober lalu.

    Gugug! merupakan sebuah komik yang menggambarkan petualangan seekor anjing kecil di lingkungan masyarakat pinggiran perkotaan. Berkonsep hitam putih dan tanpa dialog, Emte ingin menyuguhkan sebuah potret bagaimana kehidupan masyarakat pinggiran berlangsung dari kacamata seekor anjing.

    "Gugug ini ibarat kita sebagai idnividu yang hidup di kota besar dengan segala pesatnya perubahan dan pembangunan di mana-mana. Ada yang tergusur, ada yang bertahan, ada yang tak bisa ikut perkembangan. Bagaimana gue melihat semuaitu tapi pakai kacamata binatang,"  tutur Emte saat peluncuran buku dan pameranya di Ganara Art Center, Kemang, Selasa 6 November 2018.

    Komik bisu itu menempatkan Gugug sebagai tokoh utama yang berpetualang di kawasan pinggiran kota yang kumuh juga di pusat perkotaannya. Mengambil sudut panjang seekor anjing yang melakukan perjalanan menurut Emte akan menghadirkan sudut pandang berbeda. Potret yang muncul pada akhirnya menggambarkan bagaimana seekor anjing melihat sebuah kehidupan di kalangan sub-urban. Narasi cerita pun hadir lewat visualisasi gambar. Emte sengaja tak menghadirkan cerita tertulis atau dalam bentuk dialog dalam komiknya tersebut. "Saya biasa menggambar tanpa menuliskan dialog. Haru diakui saya enggak pintar membuat cerita dalam artian dialog," kata Emte.

    Ilustrator Muhammad Taufik atau Emte meluncurkan sebuah buku komik berjudul Gugug di Ganara Art Center, Kemang. Selasa, 6 November 2018. TEMPO/Aisha Shaidra

    Ketiadaan narasi dan dialog tertulis menurut Emte memberikan kekuatan tersendiri, yakni hadirnya tafsir lebih beragam dari pembaca. Emte sudah mulai membuat kisah Gugug! sejak tahun 1998-1999. Di masa itu ia memilih kata Anjing! sebelum kini mengubahnya menjadi Gugug! Sejak itu ia pun tak memuat adanya dialog dalam cerita yang ia gambarkan. "Saya belum menemukan formula dialog yang cocok jika karakternya anjing berbicara seperti apa. Jadi tidak pakai dialog sekalian," ujarnya lagi. Ia pun menegaskan jika dirinya tak ingin mendikte pembaca lewat narasi dalam karyanya tersebut. "Biarkan orang mau menfasirkannya bermacam-macam, malah bagus kalau lahir banyak tafsir," tuturnya.

    Dialog yang absen dalam komiknya ini menurutnya memberikan keuntungan lain yakni memiliki sifat yang universal. Komik bisa dinikmati orang dari berbagai suku atau belahan negara manapun karena sifat bahasa gambar. 

    Baca: Karya Dua Ilustrator Tempo Dipamerkan di ITB 

    Emte menghadirkan gambaran yang realistis soal suasana perkotaan dan hunian masyarakat pinggiran. Kehidupan komunitas masyarakat jalanan, para pedagang di pasar, interaksi mereka satu sama lain, semuanya digabungkan dengan gambaran karakter yang tentu hanya ada dalam komik dan menjadi salah satu ciri khas gambarnya Emte. Manusia dengan gigi bertaring, dan sebagainya.

    Potret-potret itu menurutnya merupakan hasil riset dan diperoleh Emte dari foto-foto yang sempat ia ambil di beberapa kawasan di Jakarta hingga Singapura.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komposisi Utang Merpati Nusantara Airlines

    Asa bisnis Merpati Nusantara Airlines mengembang menyusul putusan Pengadilan Niaga Surabaya yang mengabulkan penundaan kewajiban pembayaran utang.