Kamis, 15 November 2018

Beda Pandang Dua Adik Ahok Soal A Man Called Ahok

Reporter:
Editor:

Aisha Shaidra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kuasa hukum Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, Fifi Lety Indra, dikerumuni wartawan sebelum sidang lanjutan gugatan perceraian Ahok dengan Veronica Tan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Jakarta, 14 Februari 2018.  Sidang ditunda lantaran ketua Majelis Hakim dalam sidang tersebut, Sutaji berhalangan hadir. TEMPO/Ilham Fikri

    Kuasa hukum Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, Fifi Lety Indra, dikerumuni wartawan sebelum sidang lanjutan gugatan perceraian Ahok dengan Veronica Tan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Jakarta, 14 Februari 2018. Sidang ditunda lantaran ketua Majelis Hakim dalam sidang tersebut, Sutaji berhalangan hadir. TEMPO/Ilham Fikri

    TEMPO.CO, Jakarta - Diangkatnya kisah Basuki Tjahaja Purnama lewat film A Man Called Ahok rupanya tak mendapat sambutan baik dari adik perempuannya. Fifi Lety Indra kecewa dengan penggambaran sosok sang ayah dalam film tersebut.

    Terlihat dari postingan Fifi di Instagram pribadinya, Senin, 5 November 2018. Wanita yang berprofesi sebagai pengacara itu menilai penokohan sang ayah dinilai tak sesuai dengan karakter aslinya.

    Ia mengatakan dirinya sudah berkomunikasi pada pihak rumah produksi. Ia bahkan meminta netizen untuk membaca bukunya yang dinilai lebih sesuai dengan cerita sebenarnya. "Buat yang kangen dan mau tahu kebenaran, nonton lah youtube ini dan bacalah Buku A Man Called Ahok. Karena Waktu bikin buku dan youtube ini masih jujur research dan buat cerita yang benar-benar berdasarkan bukti fakta yang ada makanya kita approved. Tetapi ternyata setelah film jadi ....saya enggak tega nontonnya. Masa kecil kami dan papa mama kami Jadi beda bahkan sopir kami pun beda," tulis Fifi di akun Instagramnya.

    Menurutnya kisah yang diangkat dari kisah nyata harusnya bisa persis dengan peristiwa sebenarnya. Demikian dengan penggambaran karakter tokoh di dalamnya. Apalagi menurutnya, beberapa karakter dalam film tersebut masih hidup dan bisa ditemui. Kalau pun tidak ada pihak yang bisa dijadikan sumber untuk digali kebenarannya.

    "Kalau saja saya tidak pernah membantu mereka tentu saya tidak perlu kecewa karena film ini tidak akan pernah ada. Saya tidak bisa diam saja karena ini cerita Papa saya yang mereka buat," tambahnya lagi.

    Menurut Fifi, unsur kebenaran dan kejujuran tetap harus diutamakan karena itu juga sesuai dengan prinsip Ahok selama ini. Rupanya Fifi juga sempat terlibat hingga mencoret naskah dan meminta agar adegan yang tak sesuai dengan kenyataan dihilangkan. "Untung akhirnya BTP ikut campur minta dengan keras buang semua cerita bohong, Kalau tidak enggak kebayang film jadinya seperti apa," tambahnya.

    Meski ia dan Ahok sudah berulang kali meminta ada penghapusan adegan yang tak sesuai, rupanya proses produksi terus berlanjut. Sehingga beberapa hal yang selama ini tak disepakati oleh Fifi dan Ahok tetap ada yang muncul dalam film tersebut. 

    Baca: A Man Called Ahok Akan Tayang, Adik Ahok Sedih dan Kecewa

    Berbeda dengan pendapat Fifi, Basuri Tjahaja Purnama menilai film A Man Called Ahok masih layak disaksikan dan diambil nilai positifnya. Demikian dengan Harry Tjahaja Purnama. Lewat akun Instagramnya Harry memaklumi adanya perbedaan penceritaan dalam film dengan kehidupan nyata. Menurut Harry durasi film yang terbatas tentu tak dapat menyorot dan mengangkat penuh kisah kehidupan seseorang. "Walaupun karakter papa saya tidak persis apalagi mama saya namun dapat dimaklum 1,5 jam film tidak bisa mewakili kehidupan keluarga kami yang naik turun bagai gelombang dan roda yang berputar balik, namun film adalah suatu karya seni yang perlu diapresiasi. film apa adanya mengenai sosok seorang Ahok semoga film bisa menginspirasi," tulis Harry Tjahaja Purnama.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Horor Pembunuhan Satu Keluarga Di Bekasi

    Satu keluarga dibunuh di Kelurahan Jatirahayu, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, pada Selasa, 12 November 2018.