Mempertahankan Budaya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:"Budayawan juga pejuang, yang memperjuangkan budayanya, untuk tidak direbut oleh negara tetangga. Maka dari itu, harus pintar." Itulah semangat yang dikobarkan Butet Kertaredjasa dalam monolognya di atas panggung. Raja monolog ini membuka acara Sarasehan Budaya dalam peluncuran iklan terbaru salah satu obat tolak angin di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Rabu lalu. Iklan itu menampilkan kekayaan budaya Indonesia, seperti reog Ponorogo, angklung, lagu Rasa Sayange, kuda lumping, lombo batu, dan tarian folaya.Selain Butet, beberapa budayawan kembali mengingatkan penonton agar tetap berjuang mempertahankan budaya Indonesia dengan cara melestarikannya. Seperti Moh. Sobari yang berbicara penuh semangat. "Kita harus melawan jika budaya kita direbut Malaysia," ujarnya. Dalam dialog interaktif pada acara itu, hadir pula Putu Wijaya, Arswendo Atmowiloto, dan Romo Mudji Sutrisno. Soal pengambilan budaya Indonesia oleh Malaysia, Putu mengatakan, hal itu bisa diselesaikan oleh pemerintah. "Makanya, jadi wakil rakyat harus yang benar," ujarnya di depan sejumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang menjadi tamu. Putu mengimbau masyarakat jangan terpancing provokasi. Sebab, kata dia, sewaktu bertemu dengan pihak Malaysia, mereka mengaku hanya menyanyikan lagu Rasa Sayange saja tanpa hendak memiliki. "Karena itu, kita harus benar-benar mengeceknya," ujarnya. Arswendo mengatakan tindakan Malaysia memiliki sisi positif untuk bangsa Indonesia. Dengan adanya perampasan itu, kata dia, masyarakat jadi aware terhadap budayanya. "Kalau nggak diusik, ya, pasti anteng-anteng saja, dan jadi tidak tahu kalau itu adalah budaya kita," ujarnya. Dalam kesempatan itu, hadir juga tokoh reog Ponorogo, Ahmad Tabrani, yang melayangkan argumen. Seniman yang berpakaian reog lengkap ini meyakinkan penonton bahwa reog adalah kesenian Indonesia asli. "Memang reog sudah dikenal di mancanegara, seperti di Suriname, tapi ini tetap punya Indonesia," ujarnya. Ia meminta pemerintah segera mengambil tindakan atas perampasan identitas itu. AGUSLIA HIDAYAH

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sepak Terjang Artidjo Alkostar Si Algojo Koruptor

    Artidjo Alkostar, bekas hakim agung yang selalu memperberat hukuman para koruptor, meninggal dunia pada Ahad 28 Februari 2021. Bagaimana kiprahnya?