Lewat Videotron, Jokowi Sebut 3 Lagu Megadeth Favoritnya

Reporter:
Editor:

Nunuy Nurhayati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Konser Megadeth di Stadion Kridosono Yogyakarta. (Dok. Rajawali Indonesia Communication)

    Konser Megadeth di Stadion Kridosono Yogyakarta. (Dok. Rajawali Indonesia Communication)

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi urung hadir menyaksikan konser Megadeth di Stadion Kridosono Yogyakarta, Sabtu, 27 Oktober 2018. Namun ia mengirim pesan lewat videotron yang disediakan promotor musik Rajawali Indonesia Communication.

    “Saya suka Megadeth, Sweating Bullets, Ashes in Your Mouth dan Wake Up Dead ( tiga lagu Megadeth). Tapi saya tidak tahu apakah dimainkan atau ndak. Selamat menonton,” kata Jokowi melalui videotron, Sabtu, 27 Oktober 2018.

    Jokowi memang hobi mendengarkan dan nonton pentas musik rock metal. Begitu juga dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang datang menyaksikan konser ini.

    Ganjar Pranowo menepati janjinya untuk datang menonton band rock asal Los Angeles Amerika Serikat, Megadeth ini di Stadion Kridosono Yogyakarta.Konser Megadeth di Stadion Kridosono Yogyakarta (Dok. Rajawali Indonesia Communication)

    Jokowi dan Ganjar diundang langsung oleh Megadeth melalui akun media sosialnya agar datang menonton langsung perform band pengusung aliran Thrash Metal itu di acara JogjaROCKarta #2.

    "Pokoke Metal! Ini mau nonton Megadeth," kata Ganjar saat di Stadion Kridosono.

    Ganjar tiba di Stadion Kridosono sekitar pukul 20.50. Ganjar memakai kaos hitam merchandise JogjaROCKarta #2, celana jeans.

    Baca: Megadeth Lelang Gitar untuk Bantu Korban Gempa di Palu

    Banyak penonton yang Ikut menyalami Ganjar. Dengan tersenyum, Ganjar meladeni permintaan foto bersama para penikmat musik cadas di JogjaROCKarta. Ia menuju belakang panggung sebelum Megadeth naik panggung. Megadeth mulai pentas sekitar pukul 21.45 WIB.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kronologi KLB Partai Demokrat, dari Gerakan Politis hingga Laporan AHY

    Deli Serdang, KLB Partai Demokrat menetapkan Moeldoko sebagai ketua umum partai. Di Jakarta, AHY melapor ke Kemenhumkam. Dualisme partai terjadi.