Film Bebas Ekspresi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Tono sangat fobia untuk menyeberang jalan raya. Suatu hari, ia melihat seorang gadis di seberang jalan yang sangat menggoda hasratnya. Wajahnya ayu, rambutnya panjang terurai, dan yang paling menggoda Tono adalah rok putih si gadis terangkat ke atas ketika sebuah motor ngebut di depannya. Untuk mengatasi ketakutannya, pria bertampang pas-pasan ini berlatih menyeberang jalan itu tiap malam.Itulah cerita unik yang ditawarkan Sri Sadono dalam film berjudul Jalan Kan Kuseberangi. Film ini adalah salah satu dari delapan deretan film indie yang tengah dikompetisikan L.A Lights dalam ajang Indie Movie bertema "Film Gue, Cara Gue". Delapan film indie ini merupakan saringan dari empat kota, yaitu Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. Dari tiap kota diambil dua pemenang sebagai perwakilan.Film-film ini bersaing untuk menyandang predikat best jury prize, favorite movie, dan best movie pada Januari 2008. Kategori best movie dinilai dari segi teknis pembuatan film dan ide artistik. Best jury prize dinilai berdasarkan kriteria khusus dari juri, ide, dan artistik. Adapun favorite movie ditentukan oleh penonton di roadshow dan televisi lewat jajak pendapat SMS. Para juri di antaranya Garin Nugroho, John De Rantau, Enison Sinaro, dan Monty Tiwa.Membuat film tanpa tekanan apa pun memang merupakan sebuah kepuasan tersendiri. Apalagi, ide segila apa pun bisa diekspresikan tanpa takut kena protes. "Inilah kepuasan yang ditawarkan. Tidak hanya ide, tapi juga bersaing memperebutkan posisi kru yang disukai dalam pembuatan film itu sendiri. Siapa yang jadi sutradara, produser, atau penata kamera," ujar salah satu juri, John De Rantau, dalam roadshow di Yogyakarta, Minggu lalu.Tidak hanya pemutaran film yang digelar di Jogjakarta Expo Center, lomba akting dan ekshibisi foto pembuatan film juga menjadi perhatian pengunjung yang memadati acara gratisan ini. Gelak tawa para penonton membahana ketika menyimak lakon para artis dadakan yang sedang berakting marah di atas panggung.Selain sang fobia yang berdurasi 14 menit, ada juga film unik yang dibawa dari Kota Bandung yang berjudul Dami Bukan Dummy karya Dodo Mustafa. Film ini bercerita tentang seorang laki-laki yang punya kelainan jiwa. Rumahnya yang sepi kerap kali disatroni maling. Bukannya takut, malah para maling itu yang dikerjainya. Mereka ditangkap dan dipaksa oleh si penghuni rumah yang setengah gila ini untuk berpakaian seperti perempuan.Ada sebagian film yang diilhami oleh kisah nyata yang dialami atau ditemui oleh pembuat cerita. Contohnya, pemilik ide cerita Naughty Matahari, Yuliasri Perdani, dari Bandung. Film ini bercerita tentang seorang anak bernama Azuki, blasteran Jepang, yang akan melepas keperawanan dengan pacar pertamanya. Sebagai ritual pembuka, mereka memutar film blue bernama beken Naughty Matahari yang ternyata diperankan oleh Ibu Azuki. Pertanyaan Azuki tentang kenapa ibunya sering ke luar negeri terjawab sudah. "Cerita ini diilhami oleh ibu saya yang sering pergi ke luar negeri untuk konvensi," ujar Yuliasri. Lalu ide gila sering muncul untuk bertanya-tanya apa yang ibunya kerjakan di sana. "Tentunya bukan seperti ini," ujarnya.Dari Surabaya, dua film berjudul 1.000 Shura dan Anak-anak yang Terlahir dari Doa tidak kalah seru. Kedua film dari kota Pahlawan ini digarap serius. 1.000 Shura bercerita tentang persahabatan Jasmine dan Sinyo. Jasmine mengidap penyakit misterius dan hanya berteman dengan Sinyo. Itu pun hanya dijalin lewat surat yang diselipkan di bawah jendela tiap hari. Di tengah kehangatan persahabatan, Jasmine menghilang dan hanya menyisakan 1.000 shura (origami bangau) di kamarnya.Adapun film Anak-anak yang Terlahir dari Doa berkisah tentang seorang guru jalanan bernama Sasi. Ia mengabdikan diri pada anak-anak jalanan selagi dirinya memiliki kelainan jiwa.Sementara itu, film Mata Sinar dan Sombo merupakan sumbangsih filmmaker asal Jakarta. Mata Sinar bercerita tentang seorang gadis Tionghoa yang bertekad menjadi penari Bali. Meski matanya yang sipit menjadi ejekan, ia tetap berjuang. Tidak hanya menjepit matanya, ia juga memplester mata itu agar kelihatan besar.Adapun film Sombo bercerita tentang seorang mahasiswa yang mendambakan menjadi wanita dewasa. Namun, sampai saat ini ia belum mengalami tanda-tanda pubertas seperti teman-teman sebayanya. Ia pun merasa minder dan tidak percaya diri. Inilah delapan film independen yang masuk kompetisi:Jakarta1. Judul: Mata Sinar, genre: drama, durasi: 15 menit2.Judul: Sombo, genre: drama, durasi: 14 menit 50 detikBandung1. Judul:Naughty Mataharai, genre: drama, durasi: 17 menit 44 detik2. Judul: Dami Bukan Dummy, genre: drama, durasi: 16 menit 50 detikYogyakarta1. Judul: Jalan Kan Kuseberangi, genre: drama komedi, durasi: 14 menit 51 detik2. Judul:Cinta dalam Sepotong Es Krim, genre: drama, durasi: 15 menitSurabaya1. Judul: 1.000 Shura, genre: drama, durasi: 15 menit 1 detik2. Judul: Anak-anak yang Terlahir dari Doa, genre: drama, durasi: 22 menitAGUSLIA HIDAYAH

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapolri Keluarkan 11 Langkah dalam Pedoman Penerapan UU ITE

    Kepala Kepolisian RI Jenderal atau Kapolri Listyo Sigit Prabowo mengeluarkan pertimbangan atas perkembangan situasi nasional terkait penerapan UU ITE.