Rabu, 21 November 2018

Asal Mula Bedog Arts Festival, Pentas Seni di Tepi Kali

Reporter:
Editor:

Nunuy Nurhayati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Atraksi sejumlah seniman dalam Bedog Arts Festival #4 di Studio Banjarmili Gamping, Sleman, Yogyakarta. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    Atraksi sejumlah seniman dalam Bedog Arts Festival #4 di Studio Banjarmili Gamping, Sleman, Yogyakarta. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    TEMPO.CO, Sleman -Pergelaran seni tahunan, Bedog Arts Festival (BAF) kembali digelar untuk ke-9 kalinya pada kamis-Jumat, 18-19 Oktober 2018 malam. Dari tahun ke tahun yang menjadi kekhasan pertunjukan seni tradisi dan kontemporer yang mendatangkan seniman lokal dan luar negeri ini adalah menjadikan sungai sebagai panggungnya.

    Kali Bedog, nama sungai di Dusun Kradenan, Desa Banyuraden, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta disematkan menjadi nama pertunjukkan. Sisi sungai yang menjadi panggung itu berada di bawah Studio Banjarmili yang dikelola seniman dan koreografer tari, Martinus Miroto.

    Studio itu diresmikan koreografer almarhum Bagong Kussudiardjo pada 13 November 2001. “Saya membeli lahan untuk studio itu pada 1994. Sekaligus tinggal di sini,” kata Miroto saat ditemui menjelang latihan untuk persiapan pertunjukkan BAF ke-9 di Studio Banjarmili, Sleman, Rabu, 17 Oktober 2018 siang.

    Miroto mengisahkan awal mula BAF digelar. Usai membangun studionya, Miroto mencoba bereksperimen mementaskan tariannya di tepi Kali Bedog pada 2001. Saat itu dalam acara Festival Kesenian Yogyakarta (FKY).“Menari di pinggir kali saat itu masih langka,” kata Miroto.Miroto penari saat tampil di Festival Topeng Nusantara 2010, di Cirebon, Jawa Barat. (TEMPO/Dwi Narwoko)

    Sekitar 1980-1985, Bagong sudah memulai menari menggunakan alam sebagai panggungnya, yaitu di tepi Pantai Parangkusumo di Bantul. Dengan mengusung konsep panggung peripheral view, Miroto mendesain panggung terbuka dan luas.

    Penonton dibebaskan untuk mengeksplorasi panca inderanya untuk tidak terfokus pada satu titik saja. Seperti itu pula pembuatan dua panggung dari kayu yang melintang serupa jembatan di sisi kiri dan kanan sungai untuk BAF ke-9.

    Masing-masing panggung berukuran 8 meter x 16 meter dan 4 meter x 16 meter. Sementara pepohonan besar dan tinggi yang menjulang di tepi sungai menjadi latarnya. Pun pancuran air menambah keasriannya.

    “Penonton bisa nonton di kursi yang disediakan. Bisa lesehan di tepi sungai. Ada yang pating tlesep (menyelip) di antara pepohonan,” kata Miroto.

    Bahkan penonton yang ingin pulang lebih dahulu ketika pertunjukan masih berlangsung bisa berseliweran di atas panggung untuk menyeberang.

    Untuk penerangan atas ide seniman Singapura Angie La Liong dengan penerangan sentir alias lampu minyak yang awalnya sebanyak 50 botol. Pada BAF ke-9 ini Miroto menyiapkan hampir 3.000 sentir. Juga ditambah 2-3 lampu halogen dan sound system milik sendiri. Tak disangka, antusiasme pengunjung yang datang menonton di Kali Bedog pada 2001 silam cukup banyak.Atraksi sejumlah seniman dalam Bedog Arts Festival #4 di Studio Banjarmili Gamping, Sleman, Yogyakarta. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    Dan pada 2007, sejumlah seniman, meliputi Miroto, Agung Gunawan, dan sastrawan almarhum Angger Jati Wijaya mengutak-atik ide untuk menghidupkan sungai itu dengan kegiatan kesenian yang rutin. Lahirlah Bedog Arts Night yang diresmikan anak sulung Raja Keraton Yogyakarta, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Pembayun (kini berubah nama menjadi GKR Mangkubumi).

    “Lalu berubah nama menjadi Bedog Arts Festival pada 2008. Tapi pementasannya tetap malam hari,” kata Miroto yang kemudian menggelarnya hingga sekarang.

    Rupanya Miroto tak sekadar menjadikan sungai sebagai tempat mengeksplorasi dan mengeskpresikan karya seni. Ada tujuan melestarikan lingkungan di dalamnya. engingat banyak warga sekitar sungai itu yang suka menjaring ikan di sungai dengan cara disetrum dan diracun. Juga banyak warga yang mempunyai kebiasaan membuang sampah ke sungai.

    “Sejak 2007, kebiasaan itu berhenti. Kalau ada bukan dilakukan warga sini,” kata Miroto yang atas masukan warga perlu membuat papan larangan menyetrum dan meracun ikan di sungai.

    Tak hanya imbauan dari seniman untuk melarang cara itu, juga ada kegiatan pelepasan ikan ke sungai setiap kali acara BAF dibuka. Hanya saja, kebiasaan warga membuang sampah ke sungai masih dilakukan.

    Baca: Bedog Arts Festival ke-9 Galang Dana untuk Korban Gempa Palu

    Menurut Miroto perlu ada dukungan pemerintah Sleman untuk mengingatkan dan menyediakan kendaraan pengangkut sampah. "Kesadaran warga muncul karena gelaran Bedog Arts Festival melibatkan warga sekitar, seperti berdagang aneka kuliner dan pengelolaan jasa parkir pengunjung," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komposisi Utang Merpati Nusantara Airlines

    Asa bisnis Merpati Nusantara Airlines mengembang menyusul putusan Pengadilan Niaga Surabaya yang mengabulkan penundaan kewajiban pembayaran utang.