Rabu, 21 November 2018

Landung Simatupang Pentaskan Karya Novel Mohamad Sobary

Reporter:
Editor:

Aisha Shaidra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Landung Simatupang membawakan puisi dengan judul Don Quixote di Teater Salihara, Jakarta 08 Mei 2015. Don Quixote merupakan kumpulan sajak karya Goenawan Mohamad yang disadur dari kisah Don Quixote oleh Cerventas. TEMPO/Nurdiansah

    Landung Simatupang membawakan puisi dengan judul Don Quixote di Teater Salihara, Jakarta 08 Mei 2015. Don Quixote merupakan kumpulan sajak karya Goenawan Mohamad yang disadur dari kisah Don Quixote oleh Cerventas. TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Jakarta - Aktor senior asal Yogyakarta Landung Simatupang mementaskan lakon Arya Pengalasan Masuk Istana yang dipetik dari novel The President karya Budayawan Mohamad Sobary di Gedung Societet, Taman Budaya Yogyakarta, Jumat malam.

    Pentas dramatic reading dengan judul Landung Membaca Kang Sobary: Arya Pengalasan Masuk Istana itu dibawakan Landung bersama aktor lainnya yakni Daru Maheldaswara dan Patah Ansori.

    Di dalam lakon ini Landung memetik 4 dari 8 bab pertama Novel karya Ahmad Sobary dengan menciptakan kembali menjadi sebuah monolog dengan penuh penghayatan.

    "Ini novel yang mau bersaksi tentang persoalan besar di negeri ini tentang ideologi negara, persoalan persatuan bangsa serta kesetiaan dan ketidaksetiaan terhadap Pancasila," kata Landung.

    Menurut Landung, dengan mementaskan Novel itu, akan mampu menyelami perenungan Sobary tentang situasi politik yang betul-betul terjadi saat periode kepemimpinan presiden saat ini.

    "Mementaskannya memang agak rumit karena banyak sekali deskripsi daripada dialog. Banyak hal yang tidak mudah misalnya tentang dunia pesantren, tetapi saya merasa banyak orang yang tidak tahu tentang pesantren," kata Landung.

    Dalam lakon itu, dikisahkan sosok Presiden yang tak cemas didemo, tak meradang karena difitnah, dan tak merasa takut menghadapi ancaman.

    Mohamad Sobary. TEMPO/Wahyu Setiawan

    Presiden memiliki anak buah yang loyal dan siap menghadapi segenap kemungkinan datangnya risiko. Dalam pementasan itu, Presiden juga cenderung memilih bersikap diam dan membiarkan para lawan politiknya bebas menanggapi sikap diamnya itu.

    Pada bagian awal novel itu juga dikisahkan kemunculan tokoh muda bernama Arya Pengalasan, seorang santri dari Pesantren Slaga Ima yang mumpuni dalam ilmu kanuragan maupun ilmu kajiwan. Tak mengherankan, dialah yang layak dipercaya memanggul tokoh Abah untuk atas nama dunia pesantren mendampingi Presiden.

    Budayawan yang juga mantan Pemimpin Umum LKBN Antara Mohamad Sobary mengatakan novel The President karyanya merupakan potret situasi politik di Indonesia saat ini yang ia anggap tidak lagi mampu menghadirkan rasa tenteram.

    "Memang menggambarkan atau menampilkan kembali situasi itu dengan langgam dan logika novel," kata pria yang akrab disapa Kang Sobary ini.

    Baca: Landung Simatupang Merapal Anak Bajang

    Melalui Novel itu, ia memotret adanya upaya politisasi agama. Agama tidak digunakan untuk memperdalam iman, penghayatan, dan menebarkan rasa tenteram, namun justru dimanfaatkan sebagai sarana menggapai tujuan politik praktis. "Agama yang pada dasarnya tenteram, tapi malah dipakai untuk pertempuran," kata dia.

    Ia ragu para tokoh politik saat ini mampu memberikan ketenteraman karena kenyataannya yang dimunculkan lebih banyak suara-suara permusuhan, ancaman, fitnah, iri, dan dengki. Sobary berharap novel karangannya mampu membalikkan logika supaya memberikan kesan, pemahaman, serta perasaan tenteram bagi masyarakat. "Situasi yang tidak bisa diperbaiki oleh politisi semoga bisa diperbaiki oleh dunia kesenian," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komposisi Utang Merpati Nusantara Airlines

    Asa bisnis Merpati Nusantara Airlines mengembang menyusul putusan Pengadilan Niaga Surabaya yang mengabulkan penundaan kewajiban pembayaran utang.