Wawancara: Aditya Ahmad, Menghilang Setahun, Berjaya di Italia

Reporter:
Editor:

Aisha Shaidra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aditya Ahmad. Foto/@ditsmad/twitter.com

    Aditya Ahmad. Foto/@ditsmad/twitter.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Sutradara muda asal Makassar Aditya Ahmad gembira bukan kepalang. Film pendek garapannya berjudul Kado, dinobatkan sebagai Best Short Film dalam Venice International Film Festival 2018 untuk Orizzonti section pada 9 September 2018. Dan dia adalah satu-satunya sineas asal Indonesia yang bertarung Festival Film Internasional Venice ke-75 itu.

    Festival film internasional ini digelar di Venezia, Italia, pada 29 Agustus hingga 8 September lalu. Pada malam penganugerahan, Aditya menerima trofi penghargaan Orizzonti dari kritikus film Perancis dan Direktur Cinematheque Française, Frederic Bonnaud. “Saya tidak menyangka, masih terasa seperti mimpi,” kata dia kepada Dian Yuliastuti dari Tempo

    Menurut Aditya, film Kado merupakan dibuat setelah ‘menghilang’ selama setahun. Dia menepi dari hiruk-pikuk dunia perfilman Tanah Air dan memilih menyepi di Wakatobi. Begitu kembali menjejakkan kaki ke Makassar, dia sempat menjadi sopir taksi online demi menemukan interaksi nyata dengan manusia. Dari perjalanan demi perjalanan inilah Kado, yang diproduksi di rumah produksi Miles Film, tercipta.

    Kado mengisahkan perjalanan seorang remaja putri bernama Isfi. Isfi memiliki karakter yang sangat maskulin alias tomboy. Gadis ini sangat bersemangat menyambut ulang tahun Nita. Demi merayakan hal istimewa tersebut, Isfi harus mengenakan rok panjang dan hijab. “Ini adalah film yang diangkat dari cerita sahabat saya bernama Isfi. Saya ingin bercerita tentang pergulatan remaja seperti Isfi dalam menemukan identitasnya, ” kata dia.

    Aditya tak menampik besarnya peranan Mira Lesmana dan Riri Riza dalam mendukung kesuksesannya berkarier di dunia perfilman. Tidak hanya dalam film Kado, duo produser papan atas tersebut yang berjasa menyemplungkan dia ke dalam pekerjaan-pekerjaan di balik layar. Berkat mereka, Aditya akrab dengan sejumlah penghargaan.

    Film pendeknya, Sepatu Baru yang merupakan tugas akhirnya di Institut Kesenian Makassar, meraih penghargaan Special Mention untuk kategori Generation Kplus di Festival Film bergengsi Berlinale (Berlin International Film Festival) 2014. Berikut adalah petikan wawancaranya yang ditulis ulang oleh Dini Pramita:

    Penghargaan yang sangat istimewa ini ditujukan untuk siapa?

    Ini saya dedikasikan untuk Isfi dalam film ini, karena dia adalah inti cerita Ceritanya terinspirasi dari kehidupan dia. Tetapi yang lebih penting lagi, ini adalah untuk umat manusia karena berkisah mengenai kehidupan anak manusia. Lalu untuk yang orang tua saya yang spesial dalam hidup saya.

    Apakah betul ketertarikan Anda dengan film dimulai dari ketertarikan dengan gambar?

    Dari kecil, sebelum sekolah saya sudah coret-coret tembok, lalu sering minta dibeliin buku gambar, dan punya banyak koleksi spidol warna-warni.

    Saya juga masih sering gambar Dragon Ball sampai sekarang. Saya juga suka dengan dunia fantasi anime itu. Menurut saya ini bukan sekadar tontonan begitu saja, ada filosofi-filosofi hidup yang saya petik dari sana. Menarik sekali loh, saya dari kecil nonton itu. Saya nggak pernah melewatkan itu.

    Jadi mulai kapan berkenalan dengan produksi film?

    Dari workshop creative week yang dibuat sama British Council. Tapi waktu itu sebatas belajar, belajar begini ya membuat story telling.

    Lalu kapan mulai antusias membuat film?

    Waktu itu akhirnya syuting film pendek dan tidak menyangka diapresiasi begitu baik dengan dapat penghargaan. Dari situ saya mulai intens. Waktu itu, pada 2006,  juga berkenalan dengan Prima Rusdi, Dede Miske dan membantu mereka. Setelah itu mulai aktif membuat film.

    Saya juga ikut pesantren IMMIM di Makassar dan tinggal di asrama. Walaupun di asrama, kalau libur saya selalu menyempatkan main ke Arman Dewarti (sutradara film), dia mentor saya. Saya sering ikut di kegiatan-kegiatan dia, ya workshop, produksi. Belajar dengan dia. Dari situ mulai lebih intens lagi. Saya di pesantren jadi suka bereksperimen membuat film tapi tidak dipublikasikan, cuma untuk malam perpisahan atau malam-malam pensi.

    Ini tonggaknya?

    Saya tadinya sempat kuliah di sebuah universitas selama tiga tahun, mengambil jurusan komunikasi. Tetapi saya merasa kurang nyaman dan jadi malas-malasan. Lalu saya transfer ke Institut Kesenian Makassar dan mulai menemukan semangat membuat film. Salah satunya adalah Sepatu Baru yang saya buat sewaktu kuliah di sini.

    Sempat kerja juga selama kuliah ini?

    Iya, saya ambil video wedding, profile company, ulang tahun, ya banyak yang bisa dikerjakan. Lumayan untuk uang jajan, menambah pemasukan.

    Pekerjaan sampingan ini makin membuat mantap terjun di film, waktu itu sudah ada bayangan akan berguru dengan siapa?

    Saya punya banyak sutradara favorit, ya dalam dan luar negeri, termasuk Riri Riza yang semua karyanya saya kagumi. Mbak Mira Lesmana juga. Tetapi, saya tidak membatasi hanya di satu sutradara supaya bisa tahu banyak hal. Saya juga menantang diri sendiri bercerita dengan tidak hanya dari satu gaya saja, tapi ingin mengeksplore lebih banyak. Siapa tahu suatu saat mengerjakan game, karena game juga punya story telling kan

    Bagaimana pertemuan dengan Mira dan Riri terjadi?

    Di satu kesempatan ada syuting dokumenter,  kebetulan saya jadi editornya, Riri produsernya, Arman itu sutradaranya. Saya diajak oleh Arman. Itu pertama kali saya bekerja dengan Riri, tepat pada 2011. Setahun setelahnya saya diajak untuk bantu-bantu buat workshop. Berkat itu pula bisa ketemu Mira Lesmana.

    Saya sendiri sudah diajak berkali-kali oleh Mira untuk magang di Miles, cuma masih galau antara magang atau lulus kuliah. Saya sampai curhat ke rektor, ngobrol panjang demi memantapkan hati. Terakhir kali Riri bertanya ke saya, dengan berat hati saya bilang tidak ikut dulu tapi berjanji akan bikin film yang baik. Jadilah Sepatu Baru tersebut.

    Setelah lulus (pada 2013) baru saya ikut bekerja dengan mereka. Saya betul-betul terjun mulai dari video promo director, behind the scene, video clip. Saya betul-betul terjun dan mulai belajar sesungguhnya. Kebanyakan saya bekerja dalam skema one man one show, tidak punya tim. Saya juga terlibat dalam Pendekar Tongkat Emas sebagai video promo director.

    Lalu pada 2015 atau 2016 akhir saya jadi asisten sutradara 2 yang banyak ngurus soal kreatif. Saya juga terlibat di film Ada Apa dengan Cinta.  Ada beberapa klip juga seperti Navicula. Kalau klip Endah n Rhesa itu saya sendiri yang mengerjakan -- pegang kamera bahkan sampai ngedit sendiri, dari A-Z.

    Serba bisa…

    Karena di Makassar harus bisa semua. Di sana sedikit sekali kan tenaganya. Jadi kalau mau bikin film ya harus serba bisa. Jadi ya memang dituntut untuk bisa dan ini ternyata jadi keuntungan untuk saya saat ini.

    Tapi Anda sempat menghilang, kenapa?

    Saya kaget dengan banyaknya kejadian yang tidak saya duga. Bisa masuk festival, bisa kerja betulan di film bikin film, bisa sekolah film, banyak ikut workshop. Saya bingung, sempat nggak pede. Saya menghindari keramaian, saya menghilang, saya pengen cari tahu jawaban. Salah satunya ke Wakatobi. Umur saya 27 waktu itu. Selama setahun, saya nggak mau kerja sama sekali berkaitan dengan film. Saya habisin tabungan saya.

    Orang tua nggak khawatir?

    Ya khawatir. Mereka juga prihatin banget. Ketika saya memutuskan untuk jalan sendirian, mencari makna atas hidup ini lagi, mereka iya saja. Ternyata saya hanya lupa bersyukur saja. Di titik itu, seluruh pertanyaan tentang hidup datang. Saya seperti ditaruh di dalam gua kecil, di pojokan, lalu dihujani pertanyaan tentang makna hidup ini.

    Dalam perjalanan itu saya bertemu banyak orang, nongkrong dengan supir taksi, ojek, tinggal di rumah nelayan, karaoke bareng. Ini pengalaman gila. Saya melebur bersama mereka. Pulang ke Makassar, saya sempat jadi driver Grab selama dua minggu untuk ngobrol dengan orang saja. Saya butuh interaksi nyata.

    Titik baliknya kapan?

    Saat saya mulai kembali ke Makassar itu tadi. Saya merasa ingin mengurung orang dalam mobil kecil dan pengen ada interaksi yang tidak diganggu sama sekali. Saya pelajari dia, mendengarkan dia. Saya merasa senang sekali. Akhirnya saya menemukan gairah lagi tentang hidup ini. Dan ini yang saya tuangkan di Kado, bahwa kita diciptakan untuk orang lain, tidak hanya orang lain, semua makhluk di bumi ini.

    Dengan keluarga sering berbincang?

    Ya cukup sering dengan adik saya. Saya punya dua adik, yang satu sudah menikah dan punya keluarga. Yang satu lagi sedang kuliah di Turki, dan saya senang sekali waktu itu bisa jalan-jalan lagi dengan dia. Teman ngobrol saya di keluarga ya adik-adik saya. Itupun mereka juga memberi keleluasan, “kalau mau menepi dulu, silakan.”

    Baca: Film pendek Aditya Ahmad berkompetisi di Festival FIlm Venesia

    Mimpi Anda dari kecil bikin film?

    Sebetulnya saya juga ingin jadi arsitek. Jadi dulu sempat ikut tes untuk jurusan arsitek tapi tidak diterima. Sempat nangis, ngambek karena nggak lolos. Orang tua saya pekerja kesehatan. Saya dulu waktu kecil sampai dibeliin komik supaya bisa ikut tidur di rumah sakit. Maka itu saya juga sempat ingin masuk kedokteran.

    Masih suka baca komik?

    Paling cuma (komik) Webtoon.

    Ketika sudah selesai mengembara, ketemu Isfi, apa yang terjadi?

    Waktu itu saya masih ada sisa-sisa sedikit kegalauan. Terus ketemu Isfi, banyak bertukar pikiran.

    Film Kado ini berbasis dokumenter?

    Terinspirasi dari kisah hidup Isfi. Dia dua bersaudara, semua perempuan. Tapi tidak semua betul-betul 100 persen murni cerita hidupnya, ada juga yang fiksi. Tapi kesehariannya memang benar, dia tomboy dan tidak ada masalah. Saya tahu dia punya harapan, suatu saat dia akan menemukan dirinya, seperti perempuan pada umumnya. Saya juga punya teman kuliah sama persis, tampilan laki-laki sekali. Begitu kembali lagi, sudah berbeda 180 derajat, dia sangat feminin. Nah ini kan perjalanan hidup yang kita tidak tahu. Menurut saya ini tidak hanya melulu soal lingkungan atau pengalaman.

    Ketika di Miles ingin refreshing apa aktivitas idaman?

    Pengen tidur sepuasnya. Saya itu pemalas banget. Pengen olahraga tapi saya hampir tidak punya waktu, sekolah dulu saya sering latihan basket.

    Makanan favorit?

    Ingat opor ayam rumah, bagian paha itu favorit sekali. Sampai liur bisa netes cuma membayangkan itu. Saya juga suka makanan Makassar.

    Dapat kabar masuk nominasi di Venesia, apa yang Anda pikirkan?

    Sama sekali enggak nyangka, enggak kepikiran. Datang ke sana dan feeling agak nostalgia, apalagi sama Isfi yang kita pernah sama-sama di Berlin. Saya masih kayak mimpi. Waktu makan malam bersama pemenang dan juri, saya merasa itu mimpi. Saya tidak pernah membayangkan bisa bertemu dengan mereka.

    Ada tips dari Mira atau Riri?

    Saya stress banget itu sebetulnya. Mbak Mira ngelihatin trus bilang, ‘udah say hi aja.’ Padahal itu rasanya pengen kencing di celana. Tapi ketika sudah menikmati malah kayak kerasukan pengen ngobrol sana sini.

    Setelah dapat penghargaan, apa yang Anda lakukan?

    Saya sengaja enggak ambil bis, jalan kaki, berdialog dengan diri sendiri. Saya mendengar diri sendiri. Itu saya merenung saja dan merasa sangat bersyukur.

    DIAN YULIASTUTI | DINI PRAMITA

    *Wawancara ini dimuat di Koran Tempo edisi Akhir Pekan terbit 29 September 2018


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?