Sabtu, 22 September 2018

Karya Kolosal Pertama Melati Suryodarmo untuk SIPA 2018

Reporter:
Editor:

Aisha Shaidra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para penari dari Sanggar Semarak Candrakirana Solo saat menampilkan karya performance art garapan Melati Suryodarmo untuk membuka acara Solo International Performing Art (SIPA) 2018 di Beteng Vastenburg Kota Solo pada Kamis malam, 6 September 2018. TEMPO/Dinda Leo Listy

    Para penari dari Sanggar Semarak Candrakirana Solo saat menampilkan karya performance art garapan Melati Suryodarmo untuk membuka acara Solo International Performing Art (SIPA) 2018 di Beteng Vastenburg Kota Solo pada Kamis malam, 6 September 2018. TEMPO/Dinda Leo Listy

    TEMPO.CO, Solo -Wahai angin, tiuplah angin / Wahai air, alirkan air / Jiwaku dan ragaku bukanlah milikmu / Menantimu dalam sepi / Hadirlah padaku / Mari menari lagi dalam sunyi / Menari bagai bidadari bidadari / Nyanyi sepi.

    Baca: Rayakan Satu Dekade, Ini Beda SIPA 2018 dengan Tahun Sebelumnya

    Sebait puisi yang dilagukan seorang perempuan dengan nada sendu mendayu itu mengiring munculnya Melati Suryodarmo yang berkostum serba merah. Tangan kirinya menggenggam busur kayu, dipinggang kanannya menggantung quiver berisi sejumlah anak panah.

    Dari belakang panggung seluas 16 x 20 meter itu, Melati pelan melangkah. Sesampainya di ujung, dia mulai menggeliat lemah. Busurnya diayun ke segala arah.

    Nyanyi sepi berhenti. Nuansa hening lekas berganti dengan irama rancak dari alat musik perkusi yang dimainkan Bransai Wind Ensemble yang terdiri dari 36 mahasiswa etnomusikologi Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Namun, Melati seperti tak terbawa suasana. 

    Diapit sekelompok penari dari Sanggar Semarak Candrakirana Solo yang membentuk formasi persegi di dua sisi, seniman performance artasal Kota Solo yang nama dan karyanya sudah mendunia itu justru tampak asik sendiri.

    Sesekali dia meliukkan tubuh, jongkok, memutar tubuh, lalu mencabut satu anak panah. Membelakangi ribuan penonton, Melati kemudian menarik tali busurnya kuat-kuat dan melesatlah anak panah pertama mengenai tembok fasad Beteng Vastenburg.

    Setelah habis tiga anak panah dengan sasaran yang sama, Melati pun turun dari panggung. Seketika itu pula para penari berkostum abu-abu dan biru yang tadinya hanya berdiri mematung langsung berlarian ke segala penjuru, berjingkrak, berbaring, berlompatan, sambil berganti-ganti konfigurasi. Tak terasa 20 menit berlalu. Penari itu pun turun satu per satu.

    Saat musik pengiring berhenti dan panggung kembali terang, penonton yang mayoritas awam ihwal seni pertunjukan kontemporer baru menyadari penampilan karya pembuka Solo International Performing Art (SIPA) 2018 di Beteng Vastenburg, Kota Solo, pada Kamis malam, 8 September 2018, itu telah usai.

    Meski turut dalam riuh tepuk tangan penonton, sebagian wartawan yang baru sekali itu menyaksikan pertunjukan Melati Suryodarmo juga tidak dapat menyembunyikan ekspresi kebingungan. “Ini masih mending. Dua tahun lalu di Jogja, pentasnya cuma bilang I’m sorry sampai berjam-jam,” kata salah satu wartawan dari media online nasional.

    Ditemui Tempo seusai pertunjukan, Melati mengatakan, setelah mendapat kepercayaan untuk menjadi maskot SIPA 2018, sejak Juli lalu dia langsung berpikir keras untuk menciptakan karya pertunjukan yang mudah diterima publik secara luas. “Ini karya kolosal pertama saya seumur hidup,” kata seniman asal Kota Solo yang sudah 20 tahun menetap di Jerman itu.

    Dalam menciptakan karya pembukaan SIPA 2018, Melati mengaku menggabungkan banyak elemen seni dari berbagai daerah di Indonesia. “Musik tadi pakai Gandrang Makassar dari mahasiswa ISI Solo. Saya juga sempat performance art sebentar pakai jemparingan (panahan tradisional Jawa). Pesan dalam karya tadi kita musti belajar menerima hidup dalam perbedaan,” kata Melati.

    Kenapa tidak menampilkan karya-karya performance art di SIPA 2018, Melati beralasan bahwa belum tentu semua penontonnya paham seni. “Coba kalau saya tampil dengan menggerus arang selama 12 jam, pasti pada lari,” kata Melati. Menggerus arang itu bagian dari karyanya yang berjudul I’m a Ghost in My Own House yang mendapat penghargaan Signature Art Prize 2014 dari Singapore Art Museum.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Richard Muljadi Ditangkap Ketika Menghirup Kokain, Ini Bahayanya

    Richard Muljadi ditangkap polisi ketika menghirup kokain, narkotika asal Kolombia yang digemari pemakainya karena menyebabkan rasa gembira.