Penanda Kota

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta: Puluhan miniatur rumah dari kertas dijejer di atas sebuah peta kawasan tempat tinggal. Bambang Toko, 34 tahun, tengah "berdagang" properti di Festival Tanda Kota di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki pada 15-30 November 2007. Ini bukan rumah biasa, melainkan rumah masa depan alias kuburan. Dalam karya berjudul Griya Masa Depan Permai ini, Bambang menjanjikan jaminan bebas banjir, lokasi strategis dekat pintu surga dengan keamanan 24 jam, dan akses Internet gratis. Semua itu bisa menutupi aura seram gambar pekuburan yang dicetak besar itu. Harganya mulai Rp 150 juta per kaveling. Reza Afisina, kurator pameran, menilai rumah bisa menjadi sebuah penanda kota, termasuk "rumah" garapan Bambang. "Di sini kita diajak bermain secara visual dengan ide segar," ujarnya. Menurut dia, Bambang memilih karya ini karena iklan properti di Jakarta sudah sangat "stres". "Mereka sebenarnya tidak perlu ngoyo mengiklankannya," ujar dia.Festival yang mengikutsertakan 17 seniman dan kelompok seni ini mencoba menghadirkan sisi parodi sebuah tanda kota yang memenuhi setiap ruang yang luang. Sekaligus, Reza melanjutkan, sebagai media kritik sosial yang menandakan amburadulnya tata ruang beberapa kota di Indonesia. Tidak hanya iklan-iklan legal. Persoalan billboard, spanduk, dan poster yang ilegal pun muncul dalam festival ini. Seperti iklan yang dibuat Sakit Kuning Collectivo, sebuah kelompok seni Jakarta. "Mereka memparodikan iklan yang mejeng sembarangan, ada di tiap tempat," ujar Reza. Iklan ilegal ini sering terlihat di tembok atau tiang listrik pinggir jalan. Contohnya iklan guru les, panggil badut ke rumah, dan sedot WC, yang di bawahnya lengkap tertera nomor telepon yang bisa dihubungi. Kelompok seni ini pun membikin poster iklan yang menawarkan dan mencari jasa-jasa yang tidak lazim. Misalnya Kursus Maling Datang ke Rumah nomor 924-6535, Biro Jodoh, Pasti Jodoh (Khusus Lesbian, Gay, dan Waria) Hub Tante Desh 994-7755, dan Dicari Preman untuk jadi Artis Sinetron Kejar Tayang nomor 989-1020. "Kalau penasaran, nomor teleponnya bisa dicoba," ujar Reza ketika ditanyai keaslian nomor telepon dalam iklan tersebut. Tema yang diriset satu bulan ini mencoba menyentil pemerintah kota agar menertibkan iklan tempel yang membuat kotor kota. Selain kedua instrumen publikasi itu, makanan dapat menjadi penanda sebuah kota. Tengok saja karya fotografer Haekal Budi Mulyawan. Ia memotret warung makan tenda pinggir jalan yang menyajikan makanan khas daerah tertentu, seperti Soto Betawi, Nasi Goreng Cirebon, Ayam Bakar Solo, dan Brebes Berhias Sedia Mie Rebus. Ia menjepret lengkap dengan para kokinya, bak foto model iklan. Dalam katalognya, Haekal mengatakan nama daerah menjadi identitas yang lebih meyakinkan untuk dijual di Jakarta. "Bisa jadi makanan yang tertera ternyata tak sepopuler di sini," ujar Reza. Masih dalam ranah kuliner, peserta asal Jatiwangi, Majalengka, yakni Jatiwangi Art Factory (JAF), membuat sebuah citra baru untuk daerahnya: Jatiwangi Swike. Mereka membuat dua lukisan besar. Lukisan pertama menyajikan gambar semacam botol parfum yang berlogo kaki kodok. Lukisan kedua menggambarkan kaki kodok yang dicelupkan dalam gelas kristal. Mereka juga memamerkan sebuah undangan pernikahan bergambar dua pasang kaki kodok yang sedang santai bersandar di pinggir kolam. Ukuran dua kaki itu berbeda sebagai penanda laki-laki dan perempuan. Lebih kental lagi, dibeberkan pula resep swike khas Jatiwangi dengan huruf bergaya Cina. Jatiwangi adalah sebuah kabupaten Majalengka di Provinsi Jawa Barat yang lebih dikenal sebagai daerah pembuat genting dan gula. "Padahal, menurut mereka, di Jatiwangi hanya ada dua rumah makan swike," ujarnya. Namun, di beberapa tempat di Jakarta, kerap ditemukan rumah makan swike yang memberi embel-embel nama Jatiwangi. "Padahal pengusaha swike Jatiwangi mengaku tidak pernah buka cabang," kata Reza menirukan pengakuan awak JAF. Pengunjung juga bisa menemukan karya unik lainnya, seperti desain tata rumah dan peta Kota Bandung. Peta superbesar ini direntangkan di lantai pameran, lengkap dengan wilayah-wilayah yang banyak memiliki tanda kota, seperti Jalan Raya Cibaduyut dan Jalan Kopo. AGUSLIA HIDAYAH

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tarik Ulur Vaksin Nusantara Antara DPR dan BPOM

    Pada Rabu, 14 April 2020, sejumlah anggota DPR disuntik Vaksin Nusantara besutan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto