Senin, 10 Desember 2018

Alasan Penonton Dilarang Merekam Gambar Pertunjukan Puno

Reporter:
Editor:

Aisha Shaidra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penonton membaca surat-surat kiriman orang untuk mereka yang telah wafat pasca pementasan lakon Puno (Letters to The Sky) garapan Papermoon Puppet Theatre di Auditorium IFI Bandung, Kamis malam, 31 Agustus 2018. (TEMPO/ANWAR SISWADI)

    Penonton membaca surat-surat kiriman orang untuk mereka yang telah wafat pasca pementasan lakon Puno (Letters to The Sky) garapan Papermoon Puppet Theatre di Auditorium IFI Bandung, Kamis malam, 31 Agustus 2018. (TEMPO/ANWAR SISWADI)

    TEMPO.CO, JakartaPapermoon Puppet Theatre tengah menggelar pertunjukan teater boneka berjudul Puno (Letters to The Sky) di Bandung. Selama pementasan yang berdurasi 50 menit mulai 30 Agustus hingga 2 September 2018 itu, penonton dilarang merekam gambar foto ataupun video. Ketentuan serupa pun berlaku bagi jurnalis yang datang meliput.

    Baca: Pertunjukan Puno Papermoon Puppet di Bandung 1200 Tiket Tandas

    Syarat menonton yang lain di antaranya tidak merokok, makan, dan minum di dalam ruangan, disampaikan penggarap teater boneka itu, Maria Tri Sulistyani alias Ria, Kamis malam, 30 Agustus 2018, sebelum pertunjukan. "Merekam dengan mata dan hati, alat terbaik dari lahir yang kita punya, bukan dengan HP (handphone) dan kamera," kata Ria.

    Kelompok teater asal Yogyakarta itu hanya membolehkan seorang fotografer yang ditugasi mendokumentasikan gambar. Hasil gambar pertunjukan Puno bisa diakses di akun media sosial Papermoon Puppet Theatre.

    Selain itu, seusai pertunjukan, penonton seperti kalangan generasi milenial. yang suka memotret dan membuat video blog, dibebaskan merekam sepuasnya boneka Tala dan Puno yang dimainkan serta dekorasi set panggung. Penonton juga dipersilakan berbincang dengan para pemain bonekanya.

    Cerita lakon itu melibatkan hubungan anak kecil bernama Tala dengan Puno, ayahnya. Tergolong minim dialog, cerita ikut dialirkan gerak boneka sekaligus para pemainnya yang berkaus hitam lengan panjang dan semuanya lelaki.

    Mengisahkan tentang kematian, kata Ria, tema itu dinilai penting untuk diangkat karena selama ini dianggap tabu untuk dibicarakan, seperti di lingkungan keluarga antara anak dan orang tua. "Pertunjukan seni menjadi ruang untuk membicarakan hal yang sulit seperti itu," ujarnya, yang mendirikan Papermoon Puppet bersama suaminya, Iwan Effendi, pada 2006.

    Puno dipentaskan berkeliling dan bertiket demi penggalangan dana penyelenggaraan festival teater boneka internasional keenam pada medio Oktober 2018. Papermoon rutin menggelar acara pesta boneka itu setiap dua tahun sekali sejak 2008 di Yogyakarta. Mereka mengundang kelompok teater boneka dari luar dan dalam negeri.

    Sebelum tampil di Bandung, Puno dipentaskan di Yogyakarta, Jakarta, serta tiga ibu kota negara Asia Tenggara, yakni Bangkok, Singapura, dan Manila.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kementerian Kominfo Memblokir Situs-Situs dengan Konten Radikal

    Kementerian Komunikasi dan Informasi telah memblokir 230 situs dan menghapus ribuan konten radikal dari berbagai platform.