Rabu, 19 September 2018

Papermoon Puppet Membicarakan Kematian dan Kehilangan Lewat Puno

Reporter:
Editor:

Aisha Shaidra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • "PUNO (Letters To The Sky)" adalah karya terbaru Papermoon Puppet Theatre yang sudah dipentaskan di 3 negara Asia Tenggara pada tahun ini (Papermoon Puppet)

    TEMPO.CO, Jakarta - Malam itu, usai pementasan Puno: Letters to the Sky di Edwn’s Galeri di kawasan Jakarta Selatan, dua orang perempuan menghampiri Maria Tri Sulistyani. Mulanya mereka berterima kasih atas pertunjukan yang baru saja mereka saksikan dan begitu menyentuh hati. Keduanya lantas meminta Ria—panggilan akrab Maria—menandatangani amplop kuning dan sebuah buku cerita. Tiba-tiba satu di antaranya menuturkan pengalamannya usai menonton pertunjukkan Papermoon Puppet malam itu. "Mama saya belum lama meninggal," ucapnya lirih.

    Baca: Tiket Pentas Puno Papermoon Puppet Ludes dalam 5 Menit

    Ria menatap perempuan berbusana biru itu lekat. Mendengar ceritanya dan bagaimana kisah yang baru saja ia tonton begitu dekat dengan kenangannya bersama almarhum ibunda. Tanpa ragu, Ria memeluk perempuan tersebut. Cukup lama.

    Pengalaman seperti itu, tutur Ria sering ia temukan usai pertunjukkan. Ia melihat bagaimana ibu dan anak atau sepasang sahabat berpelukan. “Bahkan ada penonton yang cerita kalau dia datang sendirian, lalu saat ada adegan sedih orang yang duduk di sebelahnya menepuk pundaknya,” kenang Ria. Bahkan, ada anak kecil lain menghampiri Tala—salah satu boneka—usai pementasan. Gadis tersebut memberi peluk hangat sambil bertanya pada salah satu pemain, “Apakah Tala akan baik-baik saja?”

    Menyampaikan rasa, adalah hal utama yang ingin disuguhkan Papermoon Puppet. Bukan hal mudah, tutur Ria. Tentu ia kudu meramu cerita sedemikian rupa, lalu mengeksekusinya bersama tim dalam merancang karakter yang lantas dibuat bonekanya, menentukan bahannya, serta menyiapkan tetek bengek lainnya guna mendukung pertunjukan. Papermoon Puppet selalu pentas nyaris tanpa dialog. Sehingga kekuatan rasa menjadi pijakan karya-karya mereka selama ini.

    Puno: Letters to The Sky merupakan kisah Tala yang dibesarkan oleh orang tua tunggal. Ia hanya hidup bersama ayahnya, Puno. Jalinan kisah ayah-anak ditampilkan begitu menyenangkan di awal pertunjukkan. Ayah yang menemani anaknya bermain, ayah yang berusaha membahagiakan anaknya, ayah yang mengajarkan banyak hal terhadap anak satu-satunya. Sentuhan, pelukan, tawa, semuanya berkelindan dalam kisah Puno dan Tala.

    Semuanya tiba-tiba berubah kala Puno sakit. Semuanya begitu tiba-tiba. Begitu kematian menghampiri Puno, kita ditunjukkan jika rasa kehilangan itu dirasakan keduanya, yang meninggalkan dan yang ditinggalkan. Puno tiada, Tala meyakini sesuatu, ayahnya mungkin masih ada di dekatnya. Ia mencari cara agar bisa menyampaikan pesannya kepada Puno.

    Pentas Puno Papermoon Puppet akan dipentaskan di Jakarta pada 24 dan 25 Agustus 2018 (Papermoon Puppet)

    Puno dan Tala mungkin seperti kita, tak membiasakan diri memasukkan dialog soal kematian dalam pembicaraan sehari-hari. Hingga saat itu tiba, beragam perasaan muncul namun juga tetap sulit untuk diungkap. Dan hingga kapan pun siapa pun itu tak akan mudah dan siap menghadapi kehilangan.

    “Kadang kematian jadi hal enggak selesai buat orang-orang, setelah terjadi pun kita seolah tak terbiasa membicarakan hal itu,” tutur Ria. Kerinduan yang kadang muncul terhadap sosok yang sudah tiada kadang dengan mudah ditepis. “Terkadang kita lupa, kita perlu berhenti dan mengingat mereka sekali lagi,” lanjutnya.

    Penonton sukses dibawa larut menyelami perasaan Puno dan Tala dalam 50 menit pertunjukkan yang digelar di Edwin's Galeri Jumat, 24 Agustus 2018. Isak tangis dan mata-mata sembap pun tak terhindarkan kala pertunjukkan usai. Usai kisah Puno dan Tala berakhir, penonton dipersilakan membaca surat-surat yang digantung di langit-langit. Surat-surat yang ditulis dan dititipkan agar bisa disampaikan kepada orang terkasih yang sudah tiada, seperti Tala yang menuliskan surat untuk Puno.

    Sebelum dimainkan di Yogyakarta beberapa waktu lalu, di Jakarta pada akhir pekan ini, dan di Bandung pada pekan depan, kisah Puno dan Tala telah dipentaskan di tiga negara di Asia Tenggara.

    Pementasan kali ini digelar dalam rangka pengumpulan dana untuk Festival Teater Boneka Internasional yang akan digelar Oktober mendatang. Festival ini diinisiasi Papermoon Puppet Theatre sejak 2008 dan diadakan setiap dua tahun sekali. Pementasan Puno di Jakarta pada Jumat lalu Ria mengumumkan kalau antusiasme penonton merespons pertunjukan Puno di tiga kota, Yogyakarta, Jakarta, dan Bandung sukses menutup kebutuhan biaya Festival Boneka tahun ini. “Berkat kalian semua Festival Boneka tahun ini bisa digelar gratis,” ucap Ria.

    Nantikan ulasan kisah kreatif Papermoon Puppet setelah berkiprah di dunia tetaer boneka selama 12 tahun di Tempo.co


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Memecahkan Rekor Dunia di Berlin Marathon

    Eliud Kipchoge, pelari Kenya, memecahkan rekor dunia marathon dengan waktu 2 jam 1 menit dan 39 dalam di Marathon. Menggulingkan rekor Dennis Kimetto.