Fragmen Pangeran Sambernyawa

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Balon-balon beterbangan. Lagu milik Queen, We Are The Champion diperdengarkan ketika seikat tebu berpindah tangan dari KGPAAN Mangkunegara IX kepada KRM Dorojati, salah satu pinisepuh Pura Mangkunegaran. Itulah yang berlangsung di Pura Mangkunegaran Solo, Minggu malam lalu. Perjalanan panjang RM Said alias Pangeran Sambernyawa mendirikan kerajaan itu, yang sebelumnya direpertoarkan dalam sendratari Adeging Praja Mangkunegaran selama dua setengah jam, ditutup dengan lagu Queen tersebut. Acara itu bagian dari penutup rangkaian peringatan 250 tahun berdirinya Pura Mangkunegaran. Acara bertajuk "250th Puro Mangkunegaran, Once in a Life Time" itu dihadiri oleh para pejabat, termasuk sejumlah menteri, tokoh, artis, dan perwakilan negara sahabat. Ketua panitia Agus Haryo Sudarmojo mengklaim pihaknya mengeluarkan 1.800 undangan. "Semula hanya 1.500, tapi mendadak harus ditambah 300," katanya. Adeging Praja Mangkunegaran merupakan fragmen perjalanan panjang Pangeran Sambernyawa selama 16 tahun bertempur melawan kekuasaan kompeni dan Pakubuwono II yang dianggap berkhianat kepada rakyat. Berkali-kali pasukan kompeni dipukul pasukan Sambernyawa, yang sebagian di antaranya prajurit perempuan. Adegan beralih dari satu titik ke titik lain memanfaatkan lebar halaman pura. Tiga penari bergerak ke pusat halaman yang merupakan kolam air mancur. Sementara itu, penari yang berperan sebagai prajurit berdiri siaga. Ketiga penari tersebut menggambarkan sosok perwakilan kompeni, Pakubuwono III dan RM Said. Mereka berunding untuk menghentikan peperangan yang sudah berjalan 16 tahun. Dua prajurit gajah yang menjadi cucuk lampah rombongan RM Said memasuki ndalem kepatihan Kasunanan yang diberikan kepada KGPAA Mangkunegara I. Di belakangnya sebuah payung kebesaran, yang merupakan perlambang RM Said. Inilah sesungguhnya peristiwa penting yang menandai berdirinya Mangkunegaran. "Sayang view-nya tidak bagus sehingga sulit untuk menikmati pertunjukan," kata Guruh Sukarno Putra. Tamu undangan yang ditempatkan di teras Pendapa Ageng memang harus memandang ke luar. Mereka pun terpaksa harus puas melihat dari layar lebar yang dipasang di dua sisi barat dan timur. Fragmen di halaman itu adalah babak pertama. Pertunjukan selanjutnya digelar di Pendapa Ageng. Di bawah pancaran sinar lampu gantung, sejumlah karya seni pusaka Mangkunegaran disuguhkan, mulai tari bedayan, hadrah slawatan, tari topeng, langendriyan, hingga tari wirengan wayang orang.Pertunjukan belum berakhir. Prosesi mantenan tebu yang biasa mengiringi giling tebu dibawa masuk ke halaman pura. Wayang kulit dan barongsai pun ikut unjuk diri sebelum acara berakhir. Sayang, tidak semua orang bisa menonton acara itu. Hanya mereka yang berbekal undangan atau bertanda khusus yang boleh menikmati acara langka ini.IMRON ROSYID

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menghilangkan Bau Amis Ikan, Simak Beberapa Tipsnya

    Ikan adalah salah satu bahan makanan yang sangat kaya manfaat. Namun terkadang orang malas mengkonsumsinya karena adanya bau amis ikan yang menyengat.