Minggu, 21 Oktober 2018

Daftar Peraih Penghargaan Film Dokumenter Docs By The Sea 2018

Reporter:
Editor:

Aisha Shaidra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para pemenang pendanaan film dokumenter DOcs By The Sea 2018. TEMPO/Aisha S

    Para pemenang pendanaan film dokumenter DOcs By The Sea 2018. TEMPO/Aisha S

    TEMPO.CO, Bali - Di tahun kedua penyelenggaraan Docs By The Sea, In-Docs bersama Badan Ekonomi Kreatif menunjukkan geliat film dokumenter tanah air dan kawasan Asia Tenggara kian berkembang. Forum ini perlahan membangun kepercayaan lintas Negara guna menghubungkan film-film dokumenter Indonesia dengan industri film dokumenter internasional yang lebih mapan secara infrastruktur.

    Baca: 4 Dokumenter Indonesia Lolos Final Pitching Docs By The Sea

    Digelar selama sepekan di Bali, forum ini diikuti 31 proyek dokumenter dari 11 negara. Docs By The Sea, menurut Program Director In-Docs, Amelia Hapsari menjadi sebuah ajang yang memberi peluang para pembuat film bertemu dengan lembaga donor, distributor, jaringan televisi, hingga platform dunia yang mencari film dokumenter. “Ada sekitar 31 film yang telah diseleksi dan mengikuti kegiatan pitching juga beberapa program lainnya bersama pelaku industri film dokumenter,” tutur Amelia Hapsari kepada Tempo, Rabu 8 Agustus 2018.

    Sejumlah aktivitas seperti storytelling lab, editing lab, master class, pitching exercise, dan pitching forum digelar dan diikuti para peserta guna menguatkan para sineas saat presentasi di hadapan para investor dunia. "Mereka di sini bisa dibantu dalam penyusunan story telling. Juga soal bantuan pembiayaan juga. Harapannya kelak begitu film selesai diproduksi bisa menjadi suara mereka,” tutur Amelia.

    Film-film terpilih diberi kesempatan untuk bisa mendapat bantuan dana dan pelatihan dari beberapa lembaga seperti Tribeca Film Institute (Amerika), Guardian (Inggris), Al-Jazeera (Qatar), SBS (Australia), Ideosource (Indonesia), Visions du Reél (Swiss), Dok Leipzig (Jerman), POV (Amerika), NHK (Jepang), Asian Network for Documentary (Korea Selatan), dan Channel News Asia (Singapura).

    Pada hari terakhir, beberapa proyek film dipilih untuk memperoleh dukungan dari pelaku industri film dokumenter internasional. Berikut daftarnya:

    1. IDFA Prize

    Proyek film akan menghadiri IDFAcademy dan IDFA Forum selama perhelatan International Documentary Film Festival Amsterdam 2018. Film yang terpilih yaitu Under the Stars karya Venice Atienza dari Filipina.

    1. Dok Leipzig Prize

    Proyek film akan hadir pada the co-production market di Dok Leipzig 2018. Film yang terpilih yaitu Miss Universe in Jail garapan sutradara Max Canlas dari Filipina.

    Sedangkan satu proyek terpilih untuk berpartisipasi pada work-in-progress forum di Dok Leipzig 2018,  An Elegy to Forgetting karya Kristoffer Brugada dari Filipinan.

    1. AIDC Prize

    Proyek film Sculpting the Giant garapan sutradara Rheza Arden Wiguna dan Banu Wirandoko terpilih untuk melakukan pitching di Australian International Documentary Conference 2019.  

    Sedangkan satu proyek film terpilih lainnya yaitu film Help is on the Way? Karya sutradara asal Indoensia, Ismail Fahmi Lubish  akan dihadirkan pada Australian International Documentary Conference 2019.

    1. Docs Port Incheon Prize

    Ada tiga proyek terpilih yang akan mengikuti pitching forum di Docs Port Incheon, South Korea, 2018 yaitu The Songbirds of Aceh karya  Aminda Faradilla (Malaysia), Touch the Color karya Baby Ruth (Filipina), dan film Press Play: How to Expose the Truth karya Jayson Bernard Santos (Filipina).

    1. Current Time TV’s Best Pitch Award

    Proyek film Don’t Talk About Freedom karya Gerry Apiryan dari Indonesia memperoleh ahdiah tunai  USD 3,000 serta proyek filmnya tersebut dibeli oleh Current Time TV.

    1. Tokyo Docs Prize

    Sebuah film garapan Ucu Agustin, How Far I’ll Go menjadi  proyek film terpilih untuk mengikuti pitching di Tokyo Docs 2018.

    1. Docs By The Sea Co-Production Fund

    Penghargaan terakhir diberikan Docs By The Sea Co-production Fund kepada tiga belas proyek yang akan menerima dukungan mentorship, pendanaan, dan distribusi dari GO-JEK, Bekraf, and In-Docs. Yaitu, Sculpting the Giant (Indonesia) karya sutradara Rheza Arden Wiguna, Banu Wirandoko,  The Flame (Indonesia) karya sutradara Arfan Sabran,  Don’t Talk About Freedom (Indonesia) karya sutradara Gerry Apiryan,  The Songbirds of Aceh (Malaysia), karya sutradara: Aminda Faradilla, Rato and I (Indonesia) karya Sutradara Ray Nayoan, You and I (Indonesia) karya sutradara Fanny Chotimah, A Boarding School (Indonesia) karya  Shalahuddin Siregar, My Big Sumba Family (Indonesia) karya Tonny Trimarsanto, The Other Half karya Wahyu Utami Wati, The Plastic Bag Journey karya Gugun Junaedi dan Lutfi Wahyudyanti, Nchay Looking for Haven (Indonesia) karya  Andi Hutagalung, Help is on the Way? Karya Ismail Fahmi Lubish, dan How Far I’ll Go karya Ucu Agustin.

    Selain tujuh penghargaan tersebut, Tribeca Film Institute dan In-Docs turut mengumumkan 4 pemenang dari kompetisi THE IF/THEN SHORTS. Di antaranya Bullet-Laced Dreams karya Cha Escala, Kristoffer Brugada (Filipina), The Songbirds of Aceh karya Aminda Faradilla (Malaysia), How Far I’ll Go karya Ucu Agustin (Indonesia), dan Diary of Cattle karya David Darmadi, Lidia Afrilita (Indonesia). Keempat film terpilih tersebut akan memperoleh dukungan pendanaan untuk pendanaan dari In-Docs untuk menyelesaikan proyek filmnya, serta mentorship dan distribusi dari Tribeca Film Institute.

    Jaringan Al Jazeera pun memilih proyek dokumenter Touch the Color yang disutradarai Baby Ruth dari Filipina untuk masuk dalam program serial dokumenter Witness.

    Penyelenggaran Docs By The Sea tahun ini, In-Docs didukung Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf)turut berkolaborasi dengan perusahaan on-demand berbasis aplikasi, Gojek, untuk menciptakan skema pendanaan untuk film dokumenter, bernama Docs By The Sea Co-Production Fund.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hak Asasi Binatang Diperingati untuk Melindungi Hewan

    Hak Asasi Binatang, yang diperingati setiap 15 Oktober, diperingati demi melindungi hewan yang sering dieksploitasi secara berlebihan, bahkan disiksa.