Selasa, 16 Oktober 2018

Ashadi Siregar Luncurkan Novel Menolak Ayah, Angkat Adat Batak

Reporter:
Editor:

Aisha Shaidra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Novelis Ashadi Siregar saat menandatangani novel-novelnya yang berjudul

    Novelis Ashadi Siregar saat menandatangani novel-novelnya yang berjudul "Menolak Ayah" yang diluncurkan di Rumah Budaya Tembi, Bantul, Sabtu, 4 Agustus 2018. TEMPO/ Pito Agustin

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Sastrawan Ashadi Siregar kembali meluncurkan novel terbaru setelah 36 tahun berpuasa menulis novel. Novel yang diberi judul “Menolak Ayah” itu mengangkat adat Batak di kampung halamannya dengan latar belakang pemberontakan PRRI/Permesta.

    “Karena setelah Orde Baru terbongkar, muncul keinginan mendekonstruksi sejarah versi Orde Baru,” kata Ashadi usai acara peluncuran novelnya di Rumah Budaya Tembi di Bantul, Sabtu, 4 Agustus 2018.

    Baca: Mira W Puas Dengan Arini Besutan Ismail Basbeth

    Novelis yang mulai dikenal lewat “Cintaku di Kampus Biru” pada era 70-an itu mencontohkan, soal kecenderungan agama-agama formal dari Timur Tengah, seperti Kristen dan Islam yang masuk ke masyarakat Batak. Kemudian dia dekonstruksi versi novel dengan memunculkan lagi agama asli.

    Sejarawan Budiawan yang hadir sebagai pembahas menambahkan, dekonstruski lewat novel itu juga memunculkan soal perlawanan tokoh Aceh, Tuanku Imam Bonjol. Dalam narasi sejarah resmi, Bonjol berperang melawan Belanda lewat Perang Paderi. Namun Ashadi mendekonstruksi dengan memunculkan peperangan tersebut sekaligus ekspansi Bonjol ke Tanah Batak dengan islamisasi di sana.

    Dekonstruksi sejarah Orde Baru lainnya juga memunculkan pemberontakan PRRI/Permesta adalah sebenarnya dilatarbelakangi koreksi daerah atas kebijakan pusat yang mengabaikan pembangunan daerah. Masa itu, pemerintah pusat lebih menganakemaskan Jawa ketimbang daerah lain, terutama Sumatera. Sedangkan sejarah resmi Orde Baru menyebut pemberontakan PRRI/ Permesta adalah bentuk sparatisme.

    “Ibarat daerah itu adalah anak, dia protes pada pusat yang merupakan orang tuanya,” kata Budiawan yang juga Dosen Kajian Budaya dan Media Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM).

    Sementara sastrawan Martin Aleida tertarik mengupas kisah manusia-manusia dalam novel itu yang mengangkat adat Batak. Kisah tentang tokoh utama, Tondinihuta yang putus sekolah karena tiada biaya dan akhirnya menjadi kenek bus Sibual-buali trayek Pematang Siantar-Bukittingi. Kemudian diajak bergabung dalam pasukan PRRI. Juga soal ayahnya, Pordumutua yang meninggalkan Todi dan ibunya ke Jawa menjadi perwira Angkatan Darat di sana. Banyak istilah Batak dikenalkan Ashadi dalam novelnya yang menurut Martin disampaikan secara sastrawi populer.

    “Ini novel yang mengungkapkan secara rinci etnografi Batak,” kata Martin.

    Diakui Ashadi, “Menolak Ayah” adalah novel serius yang dibuat paling lama ketimbang novel-novel sebelumnya. Novel setebal 434 halaman itu mulai dibuat usai pensiun dari pegawai Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada 2010 hingga 2016 dan diterbitkan 2018. Lantaran banyak fakta empiris dalam novel itu yang harus dicek lewat referensi silang. Terutama riset tentang latar belakang cerita yang dibangun.

    “Menulis setting harus ada datanya. Itu kan fakta empiris ya, harus riset benar. Sesuai prinsip jurnalisme, verifikasi,” kata Ashadi yang memimpin Lembaga Penelitian Pendidikan Penerbitan Yogya (LP3Y) sejak 1992-2014.

    Sedangkan kisah-kisah manusia di dalam novelnya adalah imajinasinya. Berbeda dengan novel-novel yang ditulis sebelumnya yang tidak perlu melalui riset khusus dan verifikasi karena sudah diketahuinya. Novel-novel yang digarap serius mulai dilakukan pada dua novel terakhir sebelumnya, yaitu Indera Lepas (1979) dan Sunyi Nirmala (1982).


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin dan Suap Izin Meikarta

    KPK menetapkan Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin sebagai tersangka dugaan kasus suap izin proyek pembangunan Meikarta. Ini sekilas fakta kasus itu.