Puisi Pahlawan Sang Menteri

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta: Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring Tetapi bukan tidur, sayang Sebuah peluru bundar di dadanya Senyum bekunya mau berkata: aku sangat muda Sajak berjudul "Pahlawan Tak Dikenal" karya Toto Sudarto Bachtiar itu dibacakan dengan khusyuk oleh Lukman Edy, Menteri Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal, di auditorium RRI, Jakarta, Jumat malam lalu. Lukman adalah salah satu menteri yang membaca puisi di acara bertajuk "Patriotisme dalam Sastra Indonesia" yang diadakan RRI bekerja sama dengan Departemen Sosial dan Komunitas Sastra Indonesia (KSI). Acara yang diadakan dalam rangka Hari Pahlawan, 10 November, itu, menurut Direktur Program dan Produksi RRI Niken Widiastuti, untuk menggugah semangat perjuangan serta nasionalisme dan berkorban dalam sastra. Selain itu, acara tersebut merupakan ajang untuk mendekatkan sastrawan kepada masyarakat. Ia juga berharap lima kementerian yang berpartisipasi dalam acara itu bisa ikut aktif berperan serta dalam kegiatan sastra seperti ini di masa mendatang. Ketua KSI Wowok Hesti Prabowo menambahkan bahwa kegiatan tersebut merupakan langkah awal untuk kegiatan-kegiatan sastra selanjutnya yang diadakan di RRI. Pihaknya bersama RRI akan mengadakan kegiatan sastra rutin tiap bulan dengan menghadirkan beragam sastrawan. Acara yang disiarkan langsung oleh RRI secara nasional itu dibagi dalam dua sesi. Sesi pertama adalah dialog interaktif yang dipandu oleh Direktur Utama RRI Parni Hadi. Tampil di depan, Lukman Edy, Menteri Komunikasi dan Informatika Muhammad Nuh, Menteri Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta, Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo, dan Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial Departemen Sosial Gunawan Sumodiningrat.Selain berdialog tentang kepahlawanan serta sastra, para petinggi negeri itu membaca puisi. Dalam kesempatan itu, beberapa penyair juga diminta membaca puisi, yakni Ahmadun Yosi Herfanda dan Sutardji Calzoum Bahri. Ahmadun membacakan puisi "Monolog Vetran Pejuang Kemerdekaan". Sutardji membacakan sajaknya yang terkenal, "Tanah Air Mata": Tanah airmata tanah tumpah dukaku/mata air airmata kami/airmata tanah air kami//di sinilah kami berdiri/menyanyikan airmata kami//di balik gembur subur tanahmu/kami simpan perih kami/di balik etalase megah gedung-gedungmu/kami coba sembunyikan derita kami.... Sesi kedua adalah pembacaan puisi oleh pejabat, seniman, dan sastrawan, antara lain Taufiq Ismail, Diah Hadaning, Fatin Hamama, Sudjiwo Tedjo, Chavchay Saefullah, Direktur Program dan Produksi RRI Niken Widiastuti, dan Kabul Budiono. Acara itu diselingi penampilan soprano Aning Katamsi dan Christopher Abimayu dengan iringan kelompok musik RRI. Dalam sesi kedua itu, tampil pula Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah. Ia membacakan puisi "Lima Prajurit Muda di Taman Bunga" karya Slamet Sukirnanto. Bachtiar kemudian melafalkan bait-bait sajak itu: lima prajurit muda dengan gagah melangkah maju.... l MUS

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.