Jumat, 17 Agustus 2018

Kahiyang Ayu Melahirkan, Natasha Wilona Beri Ucapan Selamat

Reporter:
Editor:

Nunuy Nurhayati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Putri Presiden Joko Widodo alias Jokowi, Kahiyang Ayu melahirkan bayi perempuan di Rumah Sakit YPK Menteng, Jakarta Pusat, Rabu, 1 Agustus 2018. Kahiyang melahirkan anak pertamanya melalui operasi caesar sekitar pukul 05.00 WIB. Instagram Ayang Kahiyang/Foto: Diera Bachir

    Putri Presiden Joko Widodo alias Jokowi, Kahiyang Ayu melahirkan bayi perempuan di Rumah Sakit YPK Menteng, Jakarta Pusat, Rabu, 1 Agustus 2018. Kahiyang melahirkan anak pertamanya melalui operasi caesar sekitar pukul 05.00 WIB. Instagram Ayang Kahiyang/Foto: Diera Bachir

    TEMPO.CO, Jakarta - Putri Presiden Joko Widodo atau Jokowi, Kahiyang Ayu, melahirkan anak pertamanya pada Rabu, 1 Agustus 2018, pukul 05.50, di Rumah Sakit Ibu dan Anak YPK Mandiri, Menteng, Jakarta.

    Baca: Jokowi Temani Kahiyang Melahirkan di Rumah Sakit

    Pemain sinetron Natasha Wilona pun ikut bergembira dengan kelahiran cucu kedua Jokowi itu. "Congratulation buat Kahiyang dan Bobby," ujar Natasha saat dihubungi Tempo di Jakarta, Rabu.

    Kekasih Verrel Bramantysa ini berharap putri Kahiyang Ayu dan Bobby Nasution bisa menjadi anak dan cucu kebanggaan keluarga besar Presiden Jokowi.

    Natasha Wilona. Dok. TEMPO/Frannoto

    "Harapan aku pastinya semoga bisa menjadi anak yang sehat anak yang berbakti sama orang tua dan anak yang membanggakan ortu dan bisa menjadi cucu kebanggaan Presiden Joko Widodo dan keluarga besar Pak Jokowi," ucap Natasha Wilona.

    Kahiyang Ayu melahirkan bayi perempuan dengan berat 3,4 kilogram dan panjang 49 sentimeter.

    Dokter Endy Moegni, yang menangani persalinan Kahiyang Ayu, menyatakan kelahiran cucu kedua Jokowi dilakukan dengan proses caesar. "Kami menyesuaikan yang terbaik untuk Kahiyang, salah satunya itu (caesar)," tuturnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Jurus Rusia Membalas Sanksi AS Terkait Sergei Skripal

    Berikut 5 hal yang mungkin Rusia sebagai retaliasi atas sanksi dari AS terkait kasus serangan racun novichok kepada Sergei Skripal dan putrinya.