Tarian Cinta

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Di antara empat kursi yang dibentuk melingkar, tubuh Monica Runde dan Dacil Gonzalez menggeliat. Mereka mengikuti musik syahdu yang ditata Pedro Navarrete. Dua perempuan itu mengenakan gaun hitam berjuntai. Mereka berputar cepat sehingga rok yang mereka kenakan membentuk kelopak bunga.Tarian babak pertama itu memukau penonton yang tersihir dalam gelapnya ruangan. Pada babak selanjutnya, dua penari pria, Joaquin Hidalgo dan Gustavo Martin, duduk di kursi masing-masing di sudut kiri panggung. Runde dan Gonzalez tampak seperti sedang memilih barang. Mereka kemudian melihat dua pria itu.Sementara Gonzalez tampak malu-malu, Runde justru begitu agresif merayu Martin. Beberapa saat kemudian, baru Gonzalez beraksi. Tubuhnya menggeliat anggun di atas pangkuan lelaki itu. Mereka berusaha mencuri perhatian si lelaki. Di samping Martin, lelaki lain, yakni Hidalgo, masih duduk termangu melihat pria di sampingnya ramai terbuai dua asmara. Ia tidak mendapat perhatian. Pentas tari bertajuk Social Tales karya Monica Runde dari Spanyol itu digelar di Gedung Kesenian Jakarta, Selasa-Rabu malam lalu. Tari ini mengisahkan percintaan sekaligus perselingkuhan. Dikisahkan, Runde yang telah mendapatkan cinta Martin juga masih merengkuh lelaki lain, yakni Hidalgo. Sepasang kekasih gelap itu pun menari dengan penuh hasrat di depan Martin. Tak jarang pelukan dan ciuman mesra terekam bola mata Martin. Setiap gerakan yang disuguhkan Hidalgo seakan tak ingin melepaskan Runde. Bahkan ketika gadis itu ingin kembali kepada kekasihnya yang hendak meninggalkannya. Martin dan Gonzalez terbakar dendam yang sama. Tarian penuh frustrasi tergambar dari tatapan Gonzalez yang nanar. Tubuhnya sering kali terempas ke lantai begitu ia ingin berdiri. Martin yang sama pilunya berniat menemani wanita bertubuh langsing itu. Awalnya enggan, tapi kemudian menjadi tarian syahdu sepasang manusia yang mulai jatuh cinta. Sampai pada sebuah ikatan suci, Martin dan Gonzalez melangkah ke pelaminan. Sementara itu, Runde sudah bosan dengan permainannya, ingin kembali kepada Martin. Karena tak bisa, gadis berambut pendek ini depresi. Tak kenyang-kenyangnya ia meneguk anggur berkali-kali. Runde, 46 tahun, yang telah melahirkan karya lebih dari 52 pertunjukan, mengaku karya ini terinspirasi ucapan Saint Teresia. "Badan ini memiliki sebuah kekurangan, semakin baik ia diperlakukan, makin banyak yang harus ia temukan," ujarnya menirukan. Penampilannya di Art Summit V ini merupakan pertunjukan kedua di Indonesia setelah Little Thames pada 1998. "Kali ini kami tampil hanya berempat dari total delapan penari dalam grup kami. Karena Indonesia terlalu jauh dan mahal," ujar Runde kepada Tempo di belakang panggung. AGUSLIA HIDAYAH

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.