Poligamis Tak Bercelana

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta: Tubuh bagian atas lelaki berkacamata dengan kumis tebal itu dibalut baju lengkap dengan jas. Tapi bagian bawahnya, pinggang hingga kaki, ia telanjang alias tidak bercelana. Tokoh itu lelaki yang melakukan poligami. Pembuatnya, Djoni Basri, 57 tahun, menyebut lelaki itu sebagai si poligamis. Poligamis Gak Perlu Celana, begitu judul patung kayu karya Djoni yang dipamerkan di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki pada 2-8 November 2007.Tak cukup itu. Untuk si poligamis tersebut, Djoni masih menambahkan dengan deretan kata yang dituliskan di bawah judul patung itu: "Ketika pembenaran cukup menjadi alasan. Kabur sudah ketauladanan sejati. Hanyut oleh arus syahwati. Atas nama cinta, atau cuma suka-suka." Lelaki dari kayu tersebut adalah kesukaan pemahat lulusan Institut Seni Indonesia Yogyakarta itu. "Karya ini menjadi favorit saya," ujarnya kepada Tempo. Patung tak bercelana ini memberi kesan tersendiri akan arogansi sebuah nafsu yang dilegalkan. Sebuah paradigma lain juga disentuh Djoni. Sebanyak 12 patung sebesar orang sungguhan dijejerkan berdekatan hingga membentuk kumpulan orang mirip pejabat negara yang sedang berlakon. Para Pecundang itu sedang sibuk berdiskusi dan melobi. Patung-patung putih tersebut dibuat dari bahan Styrofoam. "Styrofoam dipilih karena cepat dan mudah dicari," ujarnya. Selain itu, patung Bayi Laron dibuat dari Styrofoam. Sebanyak 12 bayi dengan beragam pose merangkak keluar dari tutup saluran air bawah tanah, lalu berlomba menuju trotoar jalan. "Bayi laron" ini tak ubahnya seperti anak-anak jalanan. "Anak jalanan semakin banyak, 'laron' cuma akan lahirkan 'laron-laron' lainnya," dia menjelaskan. Ada banyak gagasan yang ingin disampaikan Djoni dalam karya-karya yang dipamerkan ini. Selain hal di atas, Djoni mengkritik "bahaya" televisi. Dalam karya berjudul Television to be Telepoison, ia menggambarkan seorang ibu sedang menyeret anak yang matanya tak lepas dari layar kaca di depannya. Dari layar kaca, meresap racun tak terasa. Ia juga masuk wilayah politik. Dalam patung berjudul Dua Kutup, Djoni menggambarkan dua sosok mantan presiden, yakni Soekarno dan Soeharto, yang saling membelakangi. Ia seperti ingin menegaskan ada perbedaan mendasar di antara keduanya, dua pribadi yang berseberangan. Tapi, bagi Djoni, Presiden RI sesungguhnya hanyalah Soeharto dan Soekarno. "Setelahnya, mereka hanya presiden yang selalu minta dukungan dari salah satunya," kata seniman yang aktif dalam komunitas seniman Pasar seni Jaya Ancol ini. Banyak lagi patung unik yang dipamerkan Djoni, di antaranya berjudul Aurat, patung kayu wanita berjilbab yang terjebak dalam dilema. Terkadang malu-malu, kadang juga bergaya. Ada lagi patung kayu berjudul Garuda Tua, patung Styrofoam Digigit Semut, dan lainnya. Semua merefleksikan pengamatan dan kesadaran sekaligus kegelisahan Djoni terhadap berbagai hal di sekelilingnya. AGUSLIA HIDAYAH

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    4 Fakta Kasus Suap Pajak, KPK Bidik Pejabat Dirjen Pajak dan Konsultan

    KPK menetapkan pejabat Direktorat Jenderal atau Dirjen Pajak Kementerian Keuangan sebagai tersangka dalam kasus suap pajak. Konsultan juga dibidik.