Wayang Modern

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta: Rahwana punya proyek jahat. Ia membabat habis pohon guna memperlambat gerak Rama untuk mencari Shinta yang diculik. Terjadilah penggundulan hutan. Ternyata pohon-pohon itu untuk keperluan kertas dan tisu bagi manusia. "For their bottom? Did they not wash their bottom," tanya Merda kepada bapaknya, Malen. Dua abdi Rama ini menyelidiki proyek Rahwana hingga ke gudang. Hutan akhirnya terbakar. Rama berusaha melumpuhkan banyak traktor dan gergaji mesin untuk membabat hutan itu. Malen dan Merda akhirnya ditugasi mencari Shinta. Mereka pun pergi ke kota untuk mencari jejak Shinta.Di tengah jalan, Merda terpisah dengan bapaknya. Pontang-panting Malen mencari kekasih Rama itu, hingga harus berkelahi dengan aparat semacam petugas tramtib. Situasi pertunjukan diperpanas dengan latar layar bergambar demonstrasi dan pemukulan demonstrasi oleh aparat. Dalam pencarian itu, Merda bertemu dengan manusia dan sempat terkontaminasi. Dalang Made Sidia menggambarkan suasana itu dengan apik. Tengoklah Merda, yang tengah berada di dalam diskotek beralun lagu remix. Tak hanya tata suara yang modern, lampu biru kelap-kelip juga memberi suasana diskotek sungguhan. Sementara itu, Shinta tetap setia kepada Rama. Di tengah ancaman yang dilemparkan bertubi-tubi, ia tetap tidak mau menikah dengan Rahwana. Karena kesal, raja jahat itu hendak membunuh Shinta. Tapi niat jahat itu dihalangi oleh seorang abdi Rahwana. Rupanya nasib Shinta belum aman. Si abdi tersebut menjual Shinta lewat Internet. Wajah Shinta muncul di mana-mana. Tak dinyana, niat buruk itu berbuah baik. Jejak Shinta tercium dari situ. Shinta pun ditemukan. Seketika Rama meluncur dan bertarung dengan Rahwana. Kisah ini hadir dalam pertunjukan wayang listrik karya Made Sidia dalam Festival Art Summit V 2007 di Gedung Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat-Sabtu lalu. Made Sidia dibantu empat dalang lainnya, yakni Wayan Sira (adik Made Sidia), Ida Bagus Darma Wibawa Putra, Nyoman Sudarma, dan Ida Bagus Surya Merdika. Dalang asal Denpasar, Bali, tersebut memainkan wayang itu dengan perangkat-perangkat modern. Sementara pertunjukan wayang tradisional masih menggunakan blencong atau lampu kuno dengan minyak kelapa (untuk proyeksinya), Made Sidia memakai proyektor yang dioperasikan dengan komputer. Penggunaan alat-alat elektronik ini melahirkan gambar dan visual efek sebagai latar dalam pertunjukan. Alat-alat itu dengan mudah menampilkan gambar berbeda, seperti hutan, gunung, kota, dan candi, baik berwarna maupun hitam-putih. Penggunaan LCD projector, slide lampu sebagai permainan cahaya, tiga layar dengan ukuran berbeda, dan gambar yang disadur dari Internet untuk latar inilah yang membuat wayang Made Sidia dinamai wayang listrik. Ide menggunakan alat listrik ini muncul ketika ia dituntut berkreasi oleh bapaknya, yang juga dalang wayang. "Saya digembleng, silakan cari hal baru," ujar made kepada Tempo seusai pertunjukan. Selain urusan listrik, Made Sidia berusaha menampilkan formula baru: mendalang dalam bahasa Inggris. "Ini cara agar penonton asing juga bisa menerima pesan dan menikmati pertunjukan," ujarnya. Dalam setiap pertunjukannya, Made selalu menggunakan isu sosial teranyar untuk pemanis. "Hal ini dilakukan agar manusia terus sadar dengan kekacauan yang mereka ciptakan," ujar Made. AGUSLIA HIDAYAH

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Studi Ungkap Kecepatan Penyebaran Virus Corona Baru Bernama B117

    Varian baru virus corona B117 diketahui 43-90 persen lebih menular daripada varian awal virus corona penyebab Covid-19.