Selasa, 11 Desember 2018

Film 22 Menit, Heroisme Polisi Taklukkan Pelaku Bom Sarinah

Reporter:
Editor:

Aisha Shaidra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Film 22 Menit

    Film 22 Menit

    TEMPO.CO, Jakarta - Film terbaru sutradara Eugene Panji, 22 Menit, dirilis hari ini, Kamis, 19 Juli 2018. Menurut Eugene, film tersebut terinspirasi dari kisah nyata pemboman di kawasan Sarinah, Thamrin, Jakarta, dua tahun lalu. Film itu dianggap kental dengan nuansa heroisme satuan kepolisian.

    Baca: Peristiwa Bom Sarinah Difilmkan, Eugene Panji Riset 1,5 Tahun

    “Pasti akan ada anggapan seperti itu, kalau menurut saya. Kita fair saja,” ujar Eugene mengenai munculnya tanggapan filmnya menonjolkan aksi polisi melumpuhkan kelompok teroris. Eugene menuturkan, jika memang ada hal baik yang dilakukan kepolisian, hal itu patut diapresiasi. Sebaliknya, saat ada perilaku atau aksi yang tak tepat, maka kritik pun perlu diluncurkan.

    Walau didukung pihak kepolisian, Eugene mengatakan filmnya tersebut tak serta-merta menonjolkan sisi heroisme polisi semata. Ia membagi porsi beberapa perspektif sehingga meletakkan lima tokoh utama dalam film ini.

    Dalam film 22 Menit, Eugene mengaku mengapresiasi sigapnya kepolisian dalam menangani aksi pengeboman. Melalui proses riset dalam kurun satu tahun lebih, ia mengumpulkan beberapa bukti dan informasi mengenai seperti apa proses polisi melumpuhkan kelompok teror kurang dari satu jam. Hal itu pula yang melatari pemberian judul 22 Menit, yang merujuk pada durasi yang diperlukan kepolisian meringkus pelaku teror saat itu.

    Eugene memilih mengemas peristiwa bom Sarinah dalam bentuk film fiksi lantaran ia hanya menuangkan latar peristiwa dan beberapa kisah nyata dalam film ini sekitar 70 persen. Sisanya, tetap ada tuangan dramatisasi dan kisah tambahan lain. Eugene ingin film 22 Menit tetap bisa menjadi rekaman pengingat atas peristiwa yang pernah terjadi. Penonton tetap bisa ambil pembelajaran meski dari tontonan fiksi.

    Film 22 Menit

    Eugene menggarap film ini di bangku sutradara bersama Myrna Paramita. Unsur humanis lebih ditekankan Eugene dan Myrna dalam film ini. Karena itu muncul lima sudut pandang dalam film yang dibintangi Ario Bayu dan Ade Firman Hakim tersebut.

    Pernyataan Eugene atau pihak polisi yang mendukung penuh pembuatan film ini bisa dibilang menjadi pembelaan sepihak. Sebab, secara keseluruhan dalam film, polisi memang tampil demikian sempurna, dari menyusun rencana pembekukan sampai aksi penyerangan dan penangkapan. Dukungan penuh pihak kepolisian kentara dari bagaimana perlengkapan yang disediakan sampai proses pengamanan area syuting.

    Bantuan tersebut, menurut Eugene, semata-mata membuat kondisi dan kinerja polisi terlihat jauh lebih nyata dari kehadiran karakter polisi di film-film lain.

    Ario Bayu, sebagai pemain utama yang memerankan salah satu pasukan antiteror, menuturkan pengalamannya mengikuti pelatihan khusus selama satu bulan. Menurut dia, apa yang ia jalani selama proses latihan mendudukkan dirinya untuk mengetahui kinerja polisi sebenarnya. “Pakai rompi antipeluru itu berat banget, belum bawa senjata dan harus standby pegang tegak lurus gini (sembari mencontohkan gerakan memegang senjata), itu berat,” ucapnya.

    Film 22 Menit berdurasi 75 menit. Film dengan adegan penuh baku tembak antara polisi dan teroris ini dilengkapi dengan efek CGI. Selain di Jakarta, rencananya film ini melanjutkan road show ke beberapa daerah, seperti Bogor, Tangerang, Bekasi, Depok, Karawang, Bandung, Cirebon, Solo, dan beberapa kota lain, termasuk Makassar.

    Polisi Jagoan, Sipil Jadi Korban, Pelaku Tanpa Motif Sasaran

    Hari itu seperti biasa saja. Warga Jakarta disambut seorang penyiar berita, memberi semangat untuk menjalani aktivitas mereka. Ada keluarga kecil bahagia di perkotaan. Ada pasangan kekasih yang menunda pernikahan karena karier. Ada adik kakak di perkampungan yang akan mencoba mencari pekerjaan. Ada yang sudah berselancar di jalan raya. Ada yang masih duduk-duduk di serambi rumahnya. Ada yang sudah sibuk dengan ponselnya. Kota yang padat dan terbiasa dengan segala hiruk pikuknya.

    Hari itu menjadi tak biasa saat sebuah ledakan muncul di sebuah kedai kopi. Di tengah kota, di ring 1 Istana Negara. Disusul ledakan berikutnya di sebuah pos polisi. Korban berjatuhan, sipil dan petugas kepolisian.

    Cerita di atas adalah fiksi yang terinspirasi dari kisah nyata Demikian sang sutradara Eugene Pandji dan Myrna Paramita menekankan asal-usul cerita film 22 Menit. Film yang terinspirasi dari Bom Sarinah dua tahun lalu itu, disebut keduanya hanya mengangkat sekitar 70 persen kisah nyata. Sisanya, tentu saja fiksi dan bumbu pelengkap cerita. Bumbu-bumbu itulah yang akhirnya membuat kisah polisi melumpuhkan kelompok bersenjata yang meledakkan dua bangunan serta menembak dan menyandera masyarakat sipil jadi begitu gurih.

    Berfokus pada Ardi, tokoh utama yang juga polisi dan memimpin penangkapan kelompok penjahat di Sarinah. Sebagai tokoh utama yang memimpin penangkapan penjahat bersenjata api, sungguh lucu saat Ardi begitu heroik tak melindungi kepalanya sendiri. Apalagi saat ada ledakan di mobil yang begitu dekat dengan posisi ia berada. Ardi hanya mengalami sedikit pengang, tanpa luka. Tak lama ia sudah bergerak mengejar penjahat yang kabur.

    22 Menit benar-benar menunjukkan aksi polisi yang sigap, penuh perhitungan. Dalam satu hitungan waktu semua bergerak, berpencar melumpuhkan pelaku pengeboman dan penembakan. Dalam hitungan lain, semua berhasil dilumpuhkan. Dan saat itu juga laporan dari beberapa daerah berdatangan, beberapa jaringan pelaku juga berhasil ditangkap. Semuanya berlangsung dalam kurun 22 meit, hitungan waktu yang menginspirasi judul film ini.

    Memang secara keseluruhan Eugene dan Myrna begitu hati-hati mengangkat tema film ini. Tak ada istilah teroris yang mereka gunakan dan ditodong kepada peran penjahat yang ditaklukkan polisi. Padahal selama ini, termasuk polisi kerap menggunakan istilah tersebut kala membekuk satuan pelaku kejahatan yang melakukan pengeboman di tanah air.

    Teknik pengambilan gambar yang dilakukan pun asyik. Begitu dekat dan terasa nyata, seperti detail senjata yang digunakan, termasuk teknik CGI yang digunakan untuk melengkapi suasana peledakan bangunan.

    Dari sisi pemeranan, Ario Bayu sebagai Ardi tampil begitu sempurna sebagai polisi. Tubuh tegap, suara tegas, sorot mata tajam melengkapi perannya sebagai anggota pasukan antiteror. Ini bukan kali pertama bagi Ario memerankan tokoh polisi. Kisah Anas (Ence Bagus) office boy  yang jadi korban pengeboman begitu menyentuh dan menjadi bumbu humanis dari cerita heroisme polisi ini.

    Sayangnya, di film ini kisah beberapa tokoh yang dihadirkan tak cukup diperdalam. Beberapa hanya hadir numpang lewat atau sekadar ada ceritanya. Termasuk drama di keluarga Ardi sendiri. Atau kisah Firman (Ade Firman hakim) seorang polisi lalu lintas yang galau soal jadi-tak jadi menikah dengan kekasihnya. Apalagi kehadiran beberapa tokoh yang tak begitu signifikan dalam cerita ini.

    Dialog-dialog yang hadir di sepanjang film nyaris semuanya hambar. Apalagi di antara para pelaku pengeboman yang hanya melotot sok jahat, menggeram, bergumam tak jelas. Sehingga untuk tahu apa motif dibalik para pelaku, tujuannya saja nihil diketahui. Seolah mereka hanya kelompok yang iseng datang meledakkan bom dan menembaki orang tanpa arah lalu dibekuk polisi.

    Cara Eugene dan Myrna menyajikan cerita dengan alur maju-mundur sebetulnya cukup menarik, meski kadang ada adegan yang membuat harus memastikan soal kecocokan waktu dengan adegan lainnya. Hal menarik pada akhirnya hanya dari sisi teknis dan bagaimana segala hal tentang aksi polisi bisa ditampilkan begitu detail. Tapi sisanya cukup luput dari konteks dan cerita yang lebih kuat lagi.


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Peringkat Indonesia dalam Indeks Persepsi Korupsi 1995 - 2017

    Sejak kehadiran KPK pada 2002, skor Indeks Persepsi Korupsi Indonesia hingga 2017 menanjak 18 poin yang berarti ada di peringkat 96 dari 180 negara.