Rabu, 19 September 2018

Cerita Luna Maya, Jatuh dari Puncak Popularitas Lalu Bangkit Lagi

Reporter:
Editor:

Nunuy Nurhayati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Artis Luna Maya berpose untuk media usai peluncuran portal fashion Elle asal Perancis di kawasan SCBD Jakarta, 4 Oktober 2015. TEMPO/Nurdiansah

    Artis Luna Maya berpose untuk media usai peluncuran portal fashion Elle asal Perancis di kawasan SCBD Jakarta, 4 Oktober 2015. TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Jakarta - Perempuan tegar itu bernama Luna Maya. Ia telah melewati banyak fase kehidupan. Tidak semua fase menyenangkan. Luna menyebut tahun 2009 dan beberapa tahun sesudahnya sebagai masa-masa tersulit dalam hidupnya.

    Baca:
    Luna Maya Akui Kasus Video Porno Sempat Membuatnya Depresi
    Luna Maya Belajar Banyak Hal Berharga dari Sang Mama

    "Dulu orang mengenal saya sebagai bintang iklan sabun mandi ternama. Setelah kejadian itu, boro-boro. Mau jadi bintang tamu program televisi saja, sehari menjelang syuting tiba-tiba dibatalkan. Rasanya sakit banget. Itu sering banget terjadi,” kata Luna Maya.

    Pertanyaan kami kemudian, dari mana ia mendapat kekuatan besar untuk bangkit? “Mungkin karena saya keras kepala,”kata  Luna berterus terang.

    Ia lalu menyebut ibunya, Desa Maya Waltraud Maiyer, sebagai salah satu sumber kekuatan. “Ibu saya perempuan yang kuat, cuek, dan punya prinsip. Saya tidak tahu dari mana persisnya kekuatan itu berasal. Saya percaya (selain Mama) kekuatan ini datang dari Sang Pemberi Kehidupan. Ada energi yang memancar dari dalam,” katanya.Luna Maya bersama ibunya. Instagram.com

    Bangkit, kata Luna, tidak semudah mengucapkannya. Dalam perjalanan berdamai dengan diri sendiri, ada saja tantangannya. Salah satunya saat Luna melihat artis yang seangkatan dengannya sukses menjadi brand ambassador banyak produk.

    “(Saat itu) saya bertanya-tanya, 'Kok gue enggak? Kok gue dilupakan?' Sempat saya berpikir, 'Dulu kalian mencari-cari gue, sekarang gue dilepeh.' Momen itu kena banget di hati saya," cerita Luna Maya.

    Ia menyimpulkan, bergantung pada orang lain tidak akan membuatnya maju. Selain mulai berbisnis, Luna melihat peluang saat media sosial  mewabah.

    Tanpa harus sering muncul di layar kaca, orang bisa populer dan mendapatkan banyak uang. Kala itu Luna makin yakin, satu-satunya yang bisa memberikan kewarasan di tengah musibah adalah diri sendiri.

    Kontrol terhadap masalah, kata Luna, ada di tangan kita. Saat jatuh, manusia tidak punya pilihan lain kecuali bangkit.

    “Apakah saya pernah menangis setelah kejadian itu? Seringlah. Apalagi saat harus mengakui bahwa saya harus berdamai dengan diri sendiri. Apakah saya sudah berdamai dengan diri sendiri? Sudah,” tutur Luna Maya. Luna Maya berfoto bersama kekasihnya, Reino Barack. Instagram

    Salah satu tanda kebangkitan Luna terjadi di industri film. The Doll 2 (Rocky Soraya, 2017) yang dibintanginya bersama Herjunot Ali masuk dalam daftar film Indonesia terlaris. Film itu menghimpun 1,2 juta penonton, menyempurnakan pencapaian jilid sebelumnya yang hanya 500 ribuan.

    Rumah produksi Hitmaker Studios kemudian membangun The Doll Cinematic Universe. Keputusan ini ditandai dengan dirilisnya sempalan The Doll bertajuk Sabrina, bulan ini. Dalam film itu, Luna dipasangkan dengan Christian Sugiono. Ini menandai reuni Luna-Christian setelah 13 tahun berpisah. Sebelumnya mereka tampil di film Cinta Silver pada 2005.

    Luna mengaku, semester pertama tahun ini, ia sangat sibuk. Namun, karena memutuskan menjadi manajer untuk diri sendiri, Luna bisa memberi kesempatan diri sendiri untuk berlibur.

    "Dulu saat mau berlibur, manajer sering memasukkan pekerjaan baru. Sekarang saya bisa bilang tidak. Minggu lalu misalnya, saya syuting film sampai jam 9 pagi. Baru bisa tidur jam 11 siang. Akhirnya saya bilang tidak saat diajak promosi film karena bagaimana pun saya harus memperhatikan kesehatan fisik saya,” tutur Luna Maya.

    TABLOIDBINTANG.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Memecahkan Rekor Dunia di Berlin Marathon

    Eliud Kipchoge, pelari Kenya, memecahkan rekor dunia marathon dengan waktu 2 jam 1 menit dan 39 dalam di Marathon. Menggulingkan rekor Dennis Kimetto.