Rabu, 19 September 2018

Di Malam Takbir, Musikus Ari Malibu Tutup Usia

Reporter:
Editor:

Aisha Shaidra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Musikus Ari Malibu, personil AriReda meninggal. Reda Gaudiamo menuliskan ungkapan duka di akun Instagramnya (Instagram)

    Musikus Ari Malibu, personil AriReda meninggal. Reda Gaudiamo menuliskan ungkapan duka di akun Instagramnya (Instagram)

    TEMPO.CO, Jakarta - Musikus Ari Malibu menutup usia di tengah gemuruh takbir menjelang Idul Fitri. Kabar tersebut tersiar cepat di kalangan musikus, termasuk Reda Gaudiamo, pasangan duetnya dalam memusikalisasikan puisi-puisi di AriReda.

    Baca: AriReda dan Sayatan Selo pada Puisi Sapardi Djoko Damono

    “Ari Malibu telah menyelesaikan perjalanannya. Di malam penuh takbir, dikelilingi keluarga dan sahabat, ia menutup mata, pulang ke rumah penciptanya. Lepas sudah semua sakit yang menyiksa selama ini. So long, true fighter. Miss you already,” kata Reda, Kamis, 14 Juni 2018.

    Ari Malibu meninggal pukul 20.25 di Rumah Sakit Kramat. Jenazahnya akan disemayamkan di Kompleks UIN Ciputat, Jalan Ibnu Taimia 4 Nomor 119.

    Beberapa bulan terakhir, Ari dirawat intensif di rumah sakit lantaran kanker kerongkongan yang dideritanya. Penyakit tersebut mulai merongrong Ari pada Desember lalu. Menurut rekannya, Reda, sakit yang diderita Ari terasa sejak Mei 2017. Namun kanker mulai diketahui pada November 2017. Sejumlah musikus sempat melakukan beberapa kegiatan penggalangan dana untuk pengobatan Ari.

    Ari lahir di Makassar. Sebelum berduet dengan Reda, Ari sempat bergabung dengan kelompok vokal asal Bandung, Pahama.

    AriReda dibentuk Ari Malibu dan Reda pada 1982. Sejak 1987, keduanya terlibat dalam proyek apresiasi seni yang diprakarsai Sapardi Djoko Damono dan Fuad Hassan. Sejak itu, keduanya aktif memusikalisasikan puisi karya penyair Tanah Air.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    TGB Muhammad Zainul Majdi dan Divestasi Tambang Emas Newmont

    KPK mengusut aliran dana ke rekening TGB Muhammad Zainul Majdi, Gubernur Nusa Tenggara Barat. Dana itu diduga berkaitan dengan Newmont Nusa Tenggara.