Hujan Tangis Iringi Pemakaman Ayah Olla Ramlan

Reporter:
Editor:

Nunuy Nurhayati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Olla ramlan di pemakaman ayahnya. Tabloidbintang.com

    Olla ramlan di pemakaman ayahnya. Tabloidbintang.com

    TEMPO.CO, Jakarta -Setelah sempat disemayamkan, jenazah ayahanda Olla Ramlan, Muhammad Ramlan, disalatkan dan diantarkan ke peristirahatan terakhirnya. Isak tangis keluarga pun mengiringi jenazah saat akan diberangkatkan ke TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

    Baca:
    Kata Sahabat, Olla Ramlan Sangat Dekat dengan Ayahnya
    Sandiaga Uno Kenang Kebaikan Ayah Olla Ramlan Semasa Hidup

    Pemandangan serupa juga terlihat ketika jenazah ayahanda Olla Ramlan tiba di TPU Tanah Kusir. Olla Ramlan, Cynthia Ramlan, dan Jelita Ramlan tak kuasa menitikkan air mata, mengiringi proses pemakaman jenazah sang ayah.

    Setelah jenazah dimasukkan liang lahat, satu per satu keluarga mendekat pusara untuk memberikan penghormatan terakhirnya. Di situ air mata Olla Ramlan beserta adiknya kembali tak terbendung.Olla Ramlan dan Ayahanda (Instagram.com)

    Di kesempatan yang sama, Erlangga, salah satu perwakilan keluarga, memberikan sambutannya. Terutama mengenai sikap almarhum yang selalu mengajarkan anak-anak untuk menomor satukan keluarga.

    "Beliau selalu mengajarkan anak-anaknya, kalau keluarga itu nomor satu. Semoga itu menjadi ilmu bermanfaat bagi kami yang bisa melapangkan jalan beliau ke jalan Allah. Insya Allah Abah hari ini menghadap Allah dalam keadaan baik dan khusnul khotimah," ucap Erlangga di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Selasa, 5 Juni 2018.

    Simak: Ayah Meninggal, Olla Ramlan Terpukul dan Terus Menangis

    Ayah Olla Ramlan, Muhammad Ramlan, meninggal di Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta Selatan, Senin, 4 Juni 2018 pukul 18.05 WIB. Almarhum mengembuskan napas terakhir di usia yang ke 72 tahun.

    TABLOIDBINTANG.COM


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Fakta Vaksin Nusantara

    Vaksin Nusantara besutan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menuai pro dan kontra.