Warna Perupa Muda Bali

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Ubud: Bentuk-bentuk menyerupai alat kelamin pria manusia menyembul dari baluran yang mirip rerumputan. Tapi bentuk itu berwarna orange menyala dengan permainan warna kuning dan hijau yang cerah. Adapun pembungkusnya, segera mengingatkan pada kehidupan terumbu karang di lautan. Saat Aku Berbuah. Begitu pelukis Putu Edy Asmara memberi judul karyanya itu. Dia mengaku, ide untuk membuat lukisan itu memang dijumputnya dari keasyikan menikmati pemandangan bawah laut. Adapun alat kelamin pria adalah simbol dari refleksinya terhadap proses kejadian manusia. "Saya berusaha memadukan keduanya dalam bentuk yang menggambarkan kegembiraan dan optimisme," kata Putu.Bersama dengan 68 karya pelukis muda lainnya, lukisan itu dipamerkan di Tony Raka, Gallery Ubud, 15 September hingga 6 Oktober lalu. Ini adalah pameran bersama yang mempertemukan sembilan pelukis muda Bali. Lima diantaranya adalah alumni ISI Denpasar yakni AA Gde Darmayudha, Legung Sukantika, Uuk Paramahita, Made Romi Sukadana dan Agung Oka Astika. Sedangkan empat lainnya masih menjadi mahasiswa di kampus tersebut, yakni Rio Saren, Wayan Januariawan Donal, Dewa Gde Agung dan Edi Asmara Putra. Apa pentingnya mempertemukan mereka? Menurut pengamat seni Putu Wirata Dwikora yang menjadi kurator, pameran ini bisa digunakan untuk melihat kecenderungan trend seni rupa di Bali. "Bagaimanapun ISI Denpasar adalah salah-satu trend-setternya," sebutnya. Selain itu bisa dilihat pula perbedaan antara perupa yang masih sibuk bergelut dengan teori dan wacana akademis dengan mereka yang lebih banyak bergelut dengan fakta-fakta di masyarakat. Menariknya, menurut Wirata, karya mereka yang disebutnya sebagai sembilan perupa muda terbaik dari ISI itu ternyata tak jauh berbeda baik dari segi visual maupun ide dibalik lukisan itu. "Mungkin karena jarak usia serta proses mereka hampir bersamaan," sebutnya. Mereka sama-sama 'liar' dan berusaha menggunakan gagasan maupun media baru dalam karyanya. Seperti yang dilakukan Rio Saren dengan menciptakan bentuk-bentuk menyerupai potongan tubuh manusia dari kertas bekas. Ia lalu melukisnya dengan bentuk-bentuk abstrak serta warna-warni cerah. "Itu karena saya menganggap media kanvas seperti juga media komunikasi lain tidak lagi cukup untuk mengungkap kegelisahan saya," sebutnya. Sebelumnya, Rio juga telah dikenal sebagai perupa Bali yang berani memanfaatkan merajan (tempat persembahyangan-red) keluarga sebagai medium lukisan mural. Ada pula karya I Wayan Januariawan yang menggunakan gedeg sebagai media lukisannya. Lukisan berjudul Numitis itu menampilkan figur manusia purba dalam ketelanjangannya. Ide ini jelas sangat jauh dari tema-tema tradisional Bali yang selalu menampilkan harmoni dan keindahan. Dari sembilan pelukis itu memang tak ada satu pun yang mengekplorasi ikon-ikon Bali yang sudah populer seperti kain poleng, barong, figur penari, dan lain-lain. Menurut Rio, ia memang lebih suka menciptakan ikon-ikon baru tanpa mempedulikan penerimaan publik atas karyanya. "Disitu kami melakukan sakralisasi ikon Bali agar tidak jatuh menjadi ikon komersial," sebutnya. Ia juga percaya bahwa sebagai pelukis mereka tidak memiliki kekhususan dibanding dengan pelukis lain diluar Bali. Adapun Putu Edy Asmara menyebut, sama dengan pelukis dari manapun, mereka bisa mengambil ide dan citra visual dari manapun yang mereka temukan dalam proses kreatifnya. Dia juga pernah mencoba teknik dan tema-tema Bali. Namun, kepuasan individual justru ditemukannya pada karya-karya yang dieksplorasi dari kesannya terhadap terumbu karang. ROFIQI HASAN

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Studi Ungkap Kecepatan Penyebaran Virus Corona Baru Bernama B117

    Varian baru virus corona B117 diketahui 43-90 persen lebih menular daripada varian awal virus corona penyebab Covid-19.