Ryan Reynolds Merasa Klop dengan Karakter Deadpool yang Nyeleneh

Reporter:
Editor:

Nunuy Nurhayati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ryan Reynolds berpose bersama istrinya, Blake Lively (kiri), dalam premier film Deadpool 2 di New York, 14 Mei 2018. Film ini disutradarai oleh David Leitch. AP/Brent N. Clarke

    Ryan Reynolds berpose bersama istrinya, Blake Lively (kiri), dalam premier film Deadpool 2 di New York, 14 Mei 2018. Film ini disutradarai oleh David Leitch. AP/Brent N. Clarke

    TEMPO.CO, Jakarta -Avengers: Infinity War dengan rating PG-13, sukses mengantongi pendapatan lebih dari Rp 15,4 triliun. Namun Deadpool 2 punya senjata untuk menangkal masalah ini, yaitu Ryan Reynolds.

    Baca: Chris Evans Sempat akan Masuk dalam After Credit Deadpool 2


    Bintang utama Deadpool ini bikin penonton dewasa kepincut. Dengan humor sarkasmenya, Ryan vokal mempromosikan Deadpool sejak rilis Februari 2016.

    Demi syuting promo Deadpool dua tahun silam, Ryan harus berulang kali mengenakan kostumnya. “Ryan harus mengenakan kostumnya 5-6 kali untuk pemotretan konten promosi selama seharian penuh," ungkap Marc.

    Memasuki tahun 2017, Ryan tak berhenti mengunggah foto tengah berkostum Deadpool hingga karya parodi kreasi penggemar.Ryan Reynolds. (Dok. Fashionista/Tabloidbintang.com)

    Dalam kesehariannya, tingkah laku Deadpool lekat dengan suami Blake Lively ini. Ia gemar menuliskan kata-kata bernada sarkasme dengan humor yang suram. Sang istri termasuk ibunya pun tak lepas dari humor khasnya.

    Menyadari hal ini, Ryan mengaku memang klop dengan karakter pahlawan super yang tergabung dalam komik Marvel ini.

    “Saya tidak pernah merasa memiliki (suatu karakter) seperti ini sebelumya. Saya bisa memerankan pria ini (Deadpool) dengan cara yang tampaknya tidak bisa saya lakukan dengan karakter lain," ujar aktor yang mulai berakting sejak tahun 1991 ini.

    TABLOIDBINTANG.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.