Senin, 17 Desember 2018

Mohammad Istiqamah Djamad: Membayar Yang Hilang Di Payung Teduh

Reporter:
Editor:

Aisha Shaidra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Vokalis grup musik Payung Teduh, Mohammad Istiqamah Djamad atau Is, tampil dalam Arte Indonesia Arts Festival 2013 di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta. Is, sapaan akrab Istiqamah, memutuskan untuk hengkang dari band yang telah membesarkan namanya sejak 2007. TEMPO/Nita Dian

    Vokalis grup musik Payung Teduh, Mohammad Istiqamah Djamad atau Is, tampil dalam Arte Indonesia Arts Festival 2013 di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta. Is, sapaan akrab Istiqamah, memutuskan untuk hengkang dari band yang telah membesarkan namanya sejak 2007. TEMPO/Nita Dian

    TEMPO.CO, Jakarta -Melayani haters alias kelompok orang yang selalu berkomentar negatif dan memberikan kritik pedas di Internet belakangan menjadi bagian dari rutinitas Mohammad Istiqamah Djamad. Akun media sosial pria yang akrab disapa Is ini sering sekali diserbu oleh orang-orang yang menuliskan kalimat-kalimat provokatif dan memancing emosi. Hal ini terjadi setelah Is meninggalkan grup musik Payung Teduh pada akhir tahun lalu.

    Menurut Is, para hater ini adalah orang-orang yang kecewa karena ia meninggalkan grup musik yang tengah naik daun itu. Meski Is sudah beranjak dengan proyek barunya, komentar miring tetap ia terima. Pada 17 April lalu, Is merilis proyek musik terbarunya yang diberi nama Pusakata dengan single berjudul Kehabisan Kata. Saat itu, kata Is, para hater langsung membanding-bandingkan karya barunya dengan karya lama di Payung Teduh.

    Is memilih bersikap santai meladeni orang-orang yang ia sebut "cinta buta" itu. "Para hater itu sebetulnya orang-orang yang terlalu mencintai saya, jadinya malah mengkultuskan saya," ia berseloroh saat diwawancarai Praga Utama dan fotografer Ijar Karim dari Tempo, 27 April lalu. "Yang penting buat saya sekarang adalah kenyamanan dalam berkarya."

    Dalam wawancara selama hampir satu jam itu, Is banyak menjelaskan soal proses kreatifnya dalam Pusakata bersama grup musik The Panganans. Tak hanya itu, Is juga mengaku tengah menggarap lusinan proyek yang kebanyakan menyinggung isu lingkungan dan kemanusiaan. Namun musik tetap menjadi akar dari semua kesibukan Is. Sebelum diwawancarai Tempo, Is terlihat serius membahas proyek lain bersama dua musikus muda, Gerald Situmorang dan Monita Tahalea. Berikut ini petikan wawancaranya.

    Mohammad Istiqamah Djamad atau Is menyapa para penggemarnya saat peluncuran album terbarunya bertajuk Ruang Tunggu di kawasan Kemang, Jakarta 19 Desember 2017. TEMPO/Nurdiansah

    Anda meluncurkan proyek musik Pusakata dan The Panganans tak lama setelah mengundurkan diri dari Payung Teduh. Apakah ini proyek yang direncanakan sejak dulu?

    Sebetulnya sejak saya menyatakan keluar dari Payung Teduh pada pertengahan 2017, saya langsung menyiapkan proyek ini. Karena saya tak bisa diam. Kalau diam, saya selesai. Dan inilah yang terjadi di Payung Teduh.

    Apakah Pusakata dirancang sebagai proyek solo? Apa arti dari nama itu?

    Sejak awal saya tidak menentukan bentuk baku proyek ini. Yang penting main musik dan mengalir begitu saja. Proyek ini lebih cocok disebut proyek urunan. Saya tidak meminta musikus lain membuatkan komposisi buat karya saya. Pemilihan nama Pusakata merupakan ide dari Yurie (manajer Is). Kebetulan itu nama anak ketiga saya. Jadi, ini berangkat dari suatu hal yang sangat personal.

    Sewaktu keluar dari Payung Teduh, Anda bilang ingin lebih banyak menghabiskan waktu dengan keluarga. Makanya memakai nama anak sebagai nama proyek musik?

    Harus diakui, sewaktu bersama Payung Teduh, saya banyak kehilangan waktu dengan keluarga. Sekarang saya ingin membayar apa yang hilang waktu itu. Apalagi waktu itu gue banyak melakukan hal negatif, kebobrokan laki-lakilah. Sebagai musikus yang sedang naik daun, gue bisa mendapatkan apa pun. Hampir saja gue kehilangan keluarga. Lewat proyek baru ini, saya menjadikan keluarga sebagai mercusuar, lebih banyak waktu di rumah dengan anak-anak.

    Itu yang menjadi alasan Anda membatasi undangan manggung maksimal lima kali dalam sebulan?

    Ini lucunya. Waktu muda, gue bermimpi punya band yang super-sibuk, manggung di mana-mana. Tapi setelah mimpi itu tercapai dan menjalaninya bersama Payung Teduh, gue malah berhenti berkarya karena kelelahan dengan agenda yang super-padat. Walaupun secara materi pendapatan kami sangat besar. Banyak event organizer yang meminta kami manggung dan berani membayar Rp 80-100 juta. Ini malah tidak sehat karena kami jadi menilai sebuah panggung dari berapa banyak uang yang kami dapatkan. Bukan lagi kami yang menyeleksi panggung mana yang ingin kami hadiri.

    Apakah keinginan itu sudah tercapai?

    Jelas. Sekarang saya punya waktu luang lebih banyak, bisa kembali ke alam mencari inspirasi. Bisa jalan-jalan dan bertemu dengan banyak orang berbagi ilmu, serta tentu saja waktu bersama keluarga jadi lebih banyak. Saya tidak menganggap apa yang saya alami bersama Payung Teduh sebagai sesuatu yang jelek. Namun disayangkan, dengan besarnya kesempatan bepergian ke banyak tempat yang kami dapatkan pada waktu itu, kami tak bertambah kaya secara karya, masih di situ-situ saja. Saat datang ke satu kota, pagi check-sound, sore tampil, malamnya sudah terbang pindah kota. Besoknya begitu lagi. Ini yang akhirnya bikin kami lesu di panggung. Kami menghibur orang, tapi kami sendiri enggak terhibur.

    Bagaimana cerita Pusakata didampingi oleh The Panganans (grup musik bentukan Is yang terdiri atas Denny Chasmala, gitar elektrik; Adhitya Pratama, bas; Ronal, drum; Eugen Bounty, klarinet; Sadrach Lukas, keyboard)?

    Pertemuan saya dengan mereka tidak seperti orang yang jatuh cinta lewat pandangan pertama. Prosesnya cukup panjang. Kami sudah lama sering bekerja sama karena sama-sama musikus yang di-endorse Yamaha. Mereka adalah nama-nama besar di dunia musik. Mereka idola gue sejak lama. Selama bekerja dengan mereka, komunikasi kami terbangun sangat baik. Obrolan tak lagi membahas teknis musik, melainkan sudah sangat cair. Semangat kami bermain musik itu ya bersenang-senang. Jangan sampai bermusik kayak dikejar target. Karena bunyi yang keluar yang paling jujur adalah yang sesuai dengan suasana hati.Saya memberi nama The Panganans karena kami semua senang sekali makan dan wisata kuliner. Ha-ha-ha.

    Pusakata baru mengeluarkan single berjudul Kehabisan Kata. Bagaimana proses kreatifnya? Sejauh mana keterlibatan para musikus di The Panganans?

    Kami menghabiskan waktu di studio seharian. Sambil bercanda dan santai. Ketika suntuk, kami ngeteh dulu, jalan-jalan dulu. Musikus ini bukan tipikal musikus yang mengatur-atur, tapi mereka banyak memberikan ide dan warna. Hal ini malah membuat sisi egoisme gue bisa ditekan. Kebetulan ada Sadrach Lukas yang kami tunjuk sebagai pengarah musik. Dia yang menjadi pengingat akan rambu-rambu estetika dalam karya kami. Di sini saya juga lebih terbuka dengan masukan, misalnya Denny Chasmala sudah menulis lirik untuk dua lagu. Awalnya saya sempat menolak karena merasa lirik buatan dia agak menyimpang dari ciri khas saya. Tapi dia justru mengingatkan agar saya tampil lebih segar dan melepaskan diri dari bayang-bayang Payung Teduh.

    Memangnya seperti apa ciri khas karya Anda? Apa benar selalu soal romantisme?

    Saya ingin mengajak orang bertualang dengan kata-kata. Saya berharap siapa pun yang mendengarkan karya saya bisa menciptakan dunia di dalam imajinasinya. Karena saya menciptakan romantisme terhadap momen, bukan sosok manusia. Pendengar bisa menikmati momen yang sedang saya nikmati ketika menciptakan sebuah lagu.

    Bagaimana proses kreatif seorang Is?

    Inspirasi lebih banyak muncul ketika gue merenung, berefleksi, dan dilakukan di alam terbuka. Saat itu saya merasakan hal-hal seperti terpaan angin, menginjak pasir pantai, guyuran air laut. Ini menjadi semacam energi. Setelah merasa rileks, biasanya ide mengalir secara spontan, dan langsung jadi lagu.Materi-materi yang muncul itu langsung gue nyanyikan dengan gitar dan direkam pakai ponsel. (Is sempat memperdengarkan beberapa materi mentah melalui ponselnya). Setelah itu didengarkan lagi, direvisi pemilihan kata-katanya, mana yang lebih cocok. Komposisi kemudian saya diskusikan dengan teman-teman The Panganans.

    Kapan rencananya album Pusakata dirilis?

    Kami enggak ngoyo ngejar target karena masing-masing punya proyek juga. Awal Mei nanti, Pusakata dan The Panganans akan workshop garap materi di Yogya.

    Setelah Kehabisan Kata dirilis, sepertinya masih ada saja yang membanding-bandingkan Anda dengan Payung Teduh di media sosial?

    Sejak awal saya membentuk proyek ini, saya sadar pasti akan banyak hater. Anda bisa lihat sendiri, tiap saya unggah apa pun di media sosial, komentar negatifnya banyak. Saya melihat para hater ini hanya mau memanas-manasi. Mereka cinta buta. Mereka tidak ingin melihat saya ada di tingkatan yang berbeda. Mereka ingin saya tetap sesuai dengan bayangan atau ekspektasi mereka. Haters tetap akan membenci saya karena meninggalkan "rumah" yang membesarkan saya. Saat Kehabisan Kata dirilis, ada yang berkomentar, "Ah, Is masih saja membahas senja. Temanya enggak jauh dari lagu-lagu Payung Teduh." Saya jawab, memang saya belum selesai membahas senja. Di sana banyak wajah yang menarik untuk diceritakan. Walau begitu, kritikan haters tetap saya dengarkan. Ini jadi masukan buat saya.

    Anda memilih menanggapi haters, bukankah itu malah menguras tenaga dan emosi?

    Karena pada dasarnya para hater itu pendengar saya juga yang mengikuti karya saya sejak lama. Tapi mereka terlalu mengkultuskan sosok saya, tak lagi melihat karya saya. Sehingga ketika saya berubah, mereka merasa dikhianati dan marah. Tapi saya tak mau meninggalkan mereka.Saya banyak diserang sewaktu Payung Teduh bergabung dengan publishing (KFC Music). Dibilang kami jadi lebih mainstream, industri banget. Padahal, sebelum masuk ke sana, penjualan album kami hanya beberapa ribu keping. Setelah masuk publishing, penjualan melonjak jadi ratusan ribu keping. Belum lagi penjualan dari nada sambung (ring back tone) seluler dan sebagainya. Perlindungan karya jadi lebih terjamin.

    Apakah dalam lagu-lagu berikutnya Anda akan lebih banyak mengangkat tema keluarga?

    Justru tema keluarga sudah beberapa kali saya angkat dalam lagu-lagu bersama Payung Teduh. Misalnya Angin Pujaan Hujan. Ini soal keluarga banget. Bahkan dulu saya sempat bercita-cita ingin membuat klip video lagu ini, sudah terbayang alur ceritanya: seorang ibu yang memasak dan menunggu keluarganya pulang. Tapi sayang tidak jadi. Entah kenapa.

    Tapi Anda seperti punya obsesi tersendiri terhadap laut dan pantai? Sewaktu mengumumkan keluar dari Payung Teduh, Anda mengibaratkan ini sebagai perjalanan sungai menuju lautan. Anda juga menjalankan proyek rekaman di wilayah pantai (Sisir Kota Pesisir)?

    Laut dan pantai adalah masa kecil gue. Sekarang hal itu gue tularkan ke anak-anak. Gue memang cinta banget main di alam terbuka. Banyak inspirasi lagu juga didapat dari sana. Belakangan saya berpikir, negara ini seperti melupakan kekuatan utamanya, yakni kelautan, dan masih berfokus ke agraris. Saya ingin membuat gerakan anak muda yang lebih mencintai laut dan pantai. Kebetulan musikus lain, seperti Kaka "Slank", juga punya kegiatan serupa, peduli terumbu karang. Mudah-mudahan ini bisa jadi gerakan besar.

    Anda masih membawakan lagu-lagu Payung Teduh?

    Masih, toh itu lagu-lagu ciptaan saya. Tapi bersama The Panganans, saya menampilkan komposisi baru. Teman-teman di The Panganans menyarankan agar lagu-lagu semasa Payung Teduh diaransemen ulang. Eugen bilang lagu lama jangan ditinggalkan, sambil pelan-pelan memperkenalkan lagu baru.Justru sewaktu saya keluar, Payung Teduh yang meminta izin agar tetap membawakan lagu-lagu saya. Saya sampaikan kepada teman-teman, justru lagu-lagu ini dikenal berkat Payung Teduh. Saya keluar bukan untuk menghancurkan band ini. Saya keluar saat band sedang wangi-wanginya. Jadi, seharusnya happy ending.

    Sejak Anda keluar, sepertinya lagu-lagu Payung Teduh jadi bahan guyonan di Internet. Misalnya di YouTube ada yang mengunggah potongan intro lagu Akad yang diulang-ulang selama satu jam?

    Itu hal bodoh. Lucu kalau ada pendengar Payung Teduh garis keras yang benci Akad karena dia tidak tahu cerita di belakangnya. Akad memang kontroversial karena, sewaktu di Payung Teduh, hanya gue yang suka. Personel lain bilang ini lagu enggak banget. Tapi kan dengan lagu ini justru Payung Teduh mencetak kesuksesan.

    Anda sendiri masih mendengarkan Akad?

    Malah ini lagu yang wajib saya bawakan bersama The Panganans. Karena memang ini lagu terfavorit gue. Akad adalah lagu yang paling tidak basa-basi yang gue buat. Inspirasinya dari curhatan seorang teman yang sudah berpacaran lama, eh, malah menikah dengan orang lain.

    Bagaimana komunikasi dengan teman-teman di Payung Teduh?

    Saya melihat Payung Teduh sekarang berkembang pesat. Setahu saya, mereka sudah mulai merekam materi album baru. Mereka mendatangkan personel baru. Personel yang tersisa jadi belajar vokal, sehingga Payung Teduh menjadi lebih berwarna.

    BIODATA

    Mohammad Istiqamah Djamad

    Tempat, Tanggal Lahir: Makassar, 24 Januari 1984

    Istri: Agnes Purwanti

    Anak: 4

    Karier musik 
    Payung Teduh (2007-2017)

    Album 
    - Payung Teduh (2010) 
    - Dunia Batas (2014) 
    - Live at Yamaha, Live and Loud (2017) 
    - Ruang Tunggu (2017) 
    - Pusakata & The Panganans (2018)

    Single 
    - Kehabisan Kata (rilis pada April 2018)

    Tulisan ini pernah diterbitkan Koran Tempo edisi Akhir Pekan pada 12 Mei 2018 di rubrik Tamu


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Serunya Adu Cuit Pendukung Jokowi Versus Prabowo di Jagat Twitter

    Di Twitter, perang cuit antara pendukung Jokowi - Ma'ruf Amin dengan Prabowo - Sandiaga tak kalah seru dengan "perat darat".