Rabu, 19 September 2018

Empat Lakon Teater Bel, Penyair yang Terbunuh

Reporter:
Editor:

Aisha Shaidra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kelompok Teater Bel asal Bandung (Indonesia Kaya)

    Kelompok Teater Bel asal Bandung (Indonesia Kaya)

    TEMPO.CO, Bandung -Istri seorang penyair memburu seorang redaktur seni koran Minggu. Perempuan tua itu mendatangi rumahnya lalu melabrak habis-habisan. "Suamiku harus mati di tangan orang seperti dia. Malang betul suamiku. Dia harus mati karena orang yang tidak bermutu."

    Baca: Rekor Nano Riantiarno, Pentas Teater Koma Hanya 3,5 Jam

    Menurut dia, suaminya mengirim ratusan naskah puisi ke koran itu, tapi redaktur tak pernah memuatnya. Walau sudah melengkapi dengan prangko balasan, naskahnya yang tanpa salinan pun tak pernah pulang. Sang penyair frustrasi berat lalu mati.

    "Dasar penyair cengeng, manja, itu namanya mental tempe, mental kerupuk singkong. Coba bayangkan kalau semua penyair itu kayak suamimu, berapa yang modar dalam sebulan. Konyol, tidak punya perasaan bersabar," kata redaktur yang bertopi juru masak.

    Saat memakai nama asli yang sama dengan organ vital lelaki, karya penyair itu selalu masuk tong sampah. Padahal sebelumnya, ketika menggunakan nama alias Ratu Pandanwangi, ia dianggap sebagai maestro besar. Sosoknya misterius karena tidak pernah terlacak jati dirinya. "Puluhan kali menang sayembara puisi tapi hadiahnya tidak pernah diambil. Menampakkan hidungnya pun tidak pernah. Gila, edan, ini sudah lima tahun," kata redaktur.

    Lisa Pandansari dan Deden Syarief memainkan drama berjudul Penyair yang Terbunuh karya Sri Harjanto Sahid itu dengan apik. Akting mereka menghanyutkan penonton dengan variasi gerakan yang mengusir kebosanan dari dialog dua pemain selama 80 menit. Setting panggung sederhana berupa kursi-meja kotak serta properti seperti sekat lipat memunculkan bahasa gambar yang efektif menyegarkan pementasan.

    Tanpa klimaks, sutradara Erry Anwar menyisakan kejutan pamungkas menjelang akhir. Perempuan itu mengaku membunuh suaminya demi membebaskan tekanan jiwanya gara-gara puisinya tak pernah dimuat di koran. Sasaran pisau berikutnya mengarah ke redaktur. "Lakon ini agak eksperimental karena menggabungkan unsur seni rupa," ujar Erry, yang pernah berkuliah di jurusan seni rupa Institut Teknologi Bandung dan jurusan teater Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Bandung.

    Teater Bel, yang merayakan usia 44 tahun, mementaskan empat lakon sekaligus dalam pementasan sehari di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Bandung, Ahad lalu. Rencananya, pertunjukan serupa akan dipentaskan keliling kampus dan kota lain. Semua lakon merupakan garapan Erry dengan penata musik Ridwan Saidi.

    Bertajuk "B4PER", akronim dari Bel 4 Pertunjukan, lakon perdana menampilkan Pinangan karya Anton Chekov pada pukul 09.30. Seusai rehat 30 menit, berlanjut ke lakon kedua yang berjudul Perkawinan di Ujung Tanduk karya Sri Harjanto Sahid.

    Dalam karya Pinangan, Erry berusaha mendobrak pakem teater realisme itu. Caranya dengan membenturkan gaya Stanislavsky dengan Bertolt Brecht. Pada konsep teater modern, untuk mengangkat situasi panggung biasanya dipakai teknik pemusatan fokus. Kedua pemain yang bertatapan sambil berdialog menjadi cara untuk menghanyutkan penonton.

    Namun Erry memisahkan tatapan mata seperti itu. "Brecht bilang jangan melulu teater menghanyutkan orang, tapi mendorong orang untuk berpikir, sengaja disadarkan atau digiring untuk berpikir dari masalah di naskah."

    Lakon kedua yang dimainkan Suzy Rinaldhy dan Yoyo C. Durachman juga memikat. Kisahnya berupa obrolan ringan dan lucu pasangan tua yang sudah 27 kali kawin-cerai. Menurut Erry, empat lakon itu tidak saling terkait atau tanpa benang merah antar-judul. Kesamaannya, semua digarap dengan memadukan teater modern ala Barat dan teater rakyat di Indonesia.

    Pementasan sekaligus empat judul ini dilakukan karena pertimbangan, antara lain, Erry terhitung lama tidak menggarap teater dan pernah membesut pementasan Waiting for Godot pada 1984 selama 4,5 jam. Proses latihan pertunjukan yang dikonsep enam bulan lalu itu juga bisa efektif. Tiap dua minggu ia melatih pemain di Bandung lalu pulang ke Jakarta.

    Berdiri pada 1974, teater itu semula bernama Gelanggang Remaja (GR), yang beralih nama menjadi Teater Bel pada 1985. Menurut Erry, teater tersebut sempat berjaya pada 1980-1996, dengan format pembelajaran drama, sering tampil di pentas, muridnya puluhan orang, dan bergenerasi.

    Sejak rezim Soeharto tumbang pada 1998, Bel terbelah karena ada yang pro dan kontra pada masa awal reformasi. "Bel pernah 13 tahun mati suri setelah Soeharto jatuh. Mulai 2008 bangkit lagi," ujar Erry.

    Pementasan terakhir "B4PER" menyuguhkan drama musikal Petualangan Dawala. Penulis naskah Djaduk Djajakusuma, yang terinspirasi dari sebuah cerita rakyat di Prancis, aslinya memberi judul Wek Wek. Namun, dalam lakon ini, konsep teater rakyat dengan tokoh-tokoh punakawan wayang, seperti Cepot, Dawala, dan Gareng, tampil kurang gereget.

    Dengan serangkaian pementasan sebelumnya, drama musikal ini menjadi seperti antiklimaks atau tanpa kejutan. Para tokoh wayang di panggung itu selama hampir sejam tidak selucu ketika dimainkan dalang. "Dawala sudah pasti teater rakyat, tapi punya naskah. Akibatnya, walau jadi terjaga, saya minta juga pemain tetap main teater rakyat," kata Erry. Selama ini Bel sangat jarang menampilkan drama musikal, tapi sering menggelar lomba teater drama musikal.


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Memecahkan Rekor Dunia di Berlin Marathon

    Eliud Kipchoge, pelari Kenya, memecahkan rekor dunia marathon dengan waktu 2 jam 1 menit dan 39 dalam di Marathon. Menggulingkan rekor Dennis Kimetto.