Rabu, 19 September 2018

Foto yang Merekam Jejak Reformasi

Reporter:
Editor:

Aisha Shaidra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung melihat foto karya Pewarta Foto Tempo dalam acara peringatan 20 tahun Reformasi

    Pengunjung melihat foto karya Pewarta Foto Tempo dalam acara peringatan 20 tahun Reformasi "Kembal ke Rumah Rakyat" di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, 7 Mei 2018. TEMPO/Fakhri Hermansyah

    TEMPO.CO, Jakarta -Kaca itu berlubang tertembus peluru. Foto tersebut mungkin tidak berarti jika tak terjadi peristiwa mahapenting di baliknya, yang kemudian diingat sebagai tragedi Mei 1998. Foto ini mencatat jejak peluru tajam yang muntah dari moncong senjata aparat saat meredam demonstrasi mahasiswa yang memperjuangkan reformasi di kampus Universitas Trisakti, 20 tahun silam. Empat mahasiswa kampus itu tertembak, yakni Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie.

    Baca: LIVE Tempo.co: Anak Muda di Era Reformasi

    Selanjutnya, seperti kita saksikan dalam foto-foto lain: kerusuhan, pembakaran, juga penjarahan toko dan bank terjadi di berbagai tempat di Jakarta. Lihat pula foto-foto yang memperlihatkan panser-panser dengan tentara menyandang senjata laras panjang di jalan-jalan Ibu Kota serta tentara dan polisi yang membarikade jalan seusai amuk massa. Kita juga bisa melihat kemarahan massa saat mobil digulingkan dan dibakar. Foto yang tak kalah penting menangkap momentum ketika para mahasiswa menduduki Gedung MPR/DPR.

    Foto-foto bertema reformasi ini dipamerkan di selasar Gedung Nusantara IV dan V, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, pada 7-21 Mei 2018. Pameran ini diselenggarakan dalam rangkaian acara bertajuk "20 Tahun Reformasi-Kembali ke Rumah Rakyat" yang digelar Tempo. Selain pameran, digelar acara diskusi, musik, dan pembacaan puisi.

    Diskusi menghadirkan para aktivis ’98 dan para tokoh muda. Adapun pembacaan puisi diramaikan para tokoh, pejabat, menteri, serta beberapa bupati dan seniman. Sebagai penampil acara musik, hadir Jerinx "SID" dan Marjinal. "Acara ini untuk memperingati 20 tahun reformasi, mengenang mereka yang gugur sekaligus mengingatkan banyak hal, amanat reformasi yang belum dilaksanakan," ujar Arif Zulkifli, Pemimpin Redaksi Majalah Tempo.

    Gedung MPR/DPR dipilih sebagai tempat pelaksanaan acara, menurut Arif, karena episentrum reformasi berada di sana. Betapapun kritik yang dilancarkan terhadap DPR selama ini, lembaga legislatif itu merupakan institusi demokrasi yang harus dijaga dan diperkuat.

    Pameran foto menghadirkan karya Rully Kesuma dan Bodhi C. H. Redaktur foto Tempo yang juga koordinator pameran, Ijar Karim, memilih 30 dari 100 foto jepretan Rully dan Bodhi. Foto-foto tersebut, menurut Ijar, merupakan bagian dari dokumentasi D&R, majalah yang dikelola para jurnalis Tempo setelah dibredel pada 1994. "Itu dokumentasi yang masih bisa diselamatkan. Majalah Tempo saat itu belum lahir lagi setelah dibredel," ujar Ijar.

    Foto-foto yang ditampilkan dipilih dengan rentang waktu menjelang terjadinya reformasi. Diawali saat pecahnya kerusuhan di sekitar kampus Trisakti yang menyebabkan tewasnya empat mahasiswa universitas itu pada 12 Mei 1998, lalu hari-hari berikutnya terjadi kerusuhan massal dan bumi hangus di berbagai tempat di Jakarta dan sekitarnya. Puncaknya adalah saat mahasiswa menduduki Gedung MPR/DPR, yang membuat Presiden Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998.

    Rully Kesuma mengisahkan, saat itu, suasana sangat kacau. Tak ada kendaraan yang beroperasi. "Lebih capek karena harus ke sana-kemari untuk mengejar momen. Ada kebakaran di sana, jalan kaki, lari ke sana-kemari," ucap Rully. Namun, menurut dia, pengambilan gambar saat pecah kerusuhan Mei 1998 lebih bebas, tidak ada yang menghalangi seperti saat memotret kerusuhan 27 Juli 1996. "Saat peristiwa Mei agak lebih bebas, tapi lebih khawatir kena tembakan," ia mengenang.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    TGB Muhammad Zainul Majdi dan Divestasi Tambang Emas Newmont

    KPK mengusut aliran dana ke rekening TGB Muhammad Zainul Majdi, Gubernur Nusa Tenggara Barat. Dana itu diduga berkaitan dengan Newmont Nusa Tenggara.