Seni Rupa Anak Baru Gede

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Yogyakarta: Dinding itu penuh lukisan berukuran kecil yang diberi bingkai yang biasa dipakai untuk foto. Kebanyakan bingkai itu berhiaskan ragam ukir yang biasa ditemukan pada dinding ruang tamu di rumah kalangan menengah-bawah. Tapi lihatlah corak lukisannya. Dari bingkai foto itu mencuat figur khas film animasi. Ada sosok berkepala labu yang mengenakan seragam anak sekolah. Ia menenteng skateboard dan sekaleng cat. Di belakangnya ada sosok raksasa menganga dengan kedua tangan menghunus senjata tajam dengan teks "I Hate You".Inilah karya Uji Handoko, 23 tahun, dalam pameran bertajuk "New Cock on the Block" di Kedai Kebun Forum, Yogyakarta, 8-29 September 2007. Selain karya Uji, ada karya Iyok Prayogo dan Krisna Widhiathama. Sebagaimana judul pameran yang merupakan pelesetan dari kelompok musik anak baru gede (ABG) pada 1990-an, New Kids on the Block, tiga perupa ini memang anak baru gede dalam pentas seni rupa.Bagi Agung Kurniawan, Direktur Artistik Kedai Kebun Forum, tiga perupa ABG ini mengambil spirit pemujaan satu generasi terhadap gaya hidup glamor generasi 1970-an. "Tahun-tahun yang penuh gaya. Ketika anak muda menarik jambulnya setiap lima detik, perempuan sibuk menata rambut setiap pagi," ujar Agung. Kini mereka bergaya wet look dengan rambut lengket berlumur jeli tegak menantang matahari dengan kaki dibalut celana denim ketat hipster yang provokatif.Sebagai seniman ABG, mereka akrab dengan seni jalanan (street art) yang biasa menggarap mural, grafiti, dan instalasi di ruang publik. Mereka kebanyakan perupa generasi 2000 yang tak peduli jargon "seni untuk seni" yang disorakkan seniman seni tinggi (hight art), yang membanjiri pasar seni rupa arus besar. Selain menggarap karya di ruang publik, mereka menghasilkan barang dagangan (merchandise) berbasis seni visual, semacam karya ilustrasi, fashion, dan mainan. Pameran ini adalah bagian dari serangkaian proyek Second Line Kedai Kebun Forum yang mengangkat isu penghasilan alternatif, industri kreatif, dan basis ekonomi alternatif bagi pekerja seni visual. "Kami ingin memberi alternatif ekonomi kepada seniman muda sehingga mereka nantinya tidak semata-mata bergantung pada pasar seni rupa arus besar," ujar Agung.Karya lukis Uji lekat dengan corak industri visual animasi, dengan ukuran yang relatif kecil sehingga dengan mudah menyusup ke dinding kamar ABG yang juga berukuran kecil. Sedangkan karya Krisna, 23 tahun, bercorak ilustrasi di atas kayu lapis berupa gambar tengkorak kepala manusia dengan pola ragam hias dan teks. Suasana ruang pameran ini tak berbeda dengan suasana ruang pamer distribution outlet. Karya mereka tampil tanpa malu-malu dengan semangat menjual. Setiap produk cendera mata, berupa T-shirt, topi, bikini, bantal, dan tas serta karya seni visual yang memenuhi dinding, lengkap dengan label harga, dari sekitar Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu. "Jangan lupa membawa dompet Anda: belilah, konsumsilah!" ujar Agung. l Raihul Fadjri

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.