Avengers: Infinity War, Serasa Bukan Film Avengers

Reporter:
Editor:

Aisha Shaidra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Okoye, Black Panther, Captain America, Black Widow, dan Bucky, dalam potongan film Avengers: Infinity War. Lebih dari 20 karakter pahlawan ada di film Avengers: Infinity War yang berkumpul untuk melawan Thanos, makhluk ungu raksasa dari Titan. (Chuck Zlotnick/Marvel Studios via AP)

    Okoye, Black Panther, Captain America, Black Widow, dan Bucky, dalam potongan film Avengers: Infinity War. Lebih dari 20 karakter pahlawan ada di film Avengers: Infinity War yang berkumpul untuk melawan Thanos, makhluk ungu raksasa dari Titan. (Chuck Zlotnick/Marvel Studios via AP)

    TEMPO.CO, Jakarta- Siapa pun yang pernah menonton Avengers (2012), tidak bisa melupakan seringainya yang muncul di penghujung film. Begitu lebar, dari ujung ke ujung, hingga semua gigi putihnya terlihat. Seringai yang muncul ketika anak buahnya mengatakan bahwa menantang Avengers sama saja dengan melawan maut.

    Dari reaksinya, jelas ia tak takut dengan mereka yang disebut sebagai Earth Mightiest Heroes tersebut. Baginya, tidak ada yang bisa menghentikannya. Apalagi, dirinya mengemban misi mulia yang tak bisa lagi ditunda-tunda: menciptakan keseimbangan di alam semesta dengan menghapus setengah populasinya. Dia adalah Thanos.

    Avengers: Infinity War, yang disutradarai duo kakak beradik Joe dan Anthony Russo (The Winter Soldier, Civil War), adalah kisah tentang alien yang acap dipanggil The Mad Titan itu. Alih-alih menceritakan para jagoan Avengers yang terpecah pasca film Civil War (2016), Russo bersaudara memilih untuk fokus bagaimana Thanos akan mewujudkan misi mulianya.

    Di Semesta Sinematik Marvel atau dikenal sebagai MCU (Marvel Cinematic Universe), hanya ada satu cara untuk mewujudkan keinginan Thanos. Hal itu dengan mengumpulkan batu-batu istimewa bernama The Infinity Stones.

    Infinity Stones terdiri atas enam batu yang mewakili unsur-unsur penting kehidupan. Keenamnya adalah Soul Stone, Space Stone, Mind Stone, Reality Stone, Time Stone, dan Power Stone. Tiga di antaranya berada di luar angkasa, dua berada di bumi, dan satu di antah berantah. Thanos menginginkan semuanya.

    Doctor Strange, Iron Man, Hulk dan Wong , dalam potongan film Avengers: Infinity War. (Marvel Studios via AP)

    Jika Thanos bisa mengumpulkan semua Infinity Stones itu, ia bisa mewujudkan misi besarnya dengan satu hal kecil: jentikan jari. Snap dan separuh kehidupan di semesta alam hilang seketika. Namun, menyatukannya keenamnya jelas bukan perkara gampang. Thanos harus menghadapi tak hanya Avengers, tetapi juga para jagoan luar angkasa yang tergabung dalam Guardians of The Galaxy.

    Russo bersaudara membuat keputusan cerdas dengan memfokuskan cerita Avengers Infinity War pada Thanos. Walaupun Thanos sudah sempat dimunculkan di film Avengers (2012), Guardians of The Galaxy (2014), dan kemudian Avengers: Age of Ultron (2015), kemunculannya tak lebih sebagai cameo saja. Motivasinya tak pernah digali lebih jauh, bahkan cenderung kabur. Avengers Infinity War difungsikan untuk menutup lubang itu.

    Bagi mereka yang sudah mengikuti kisahnya di berbagai novel grafis produksi Marvel Comics seperti Thanos's Quest, Infinity Gauntlet, atau Thanos's Imperative, menebak motivasi Thanos dan bagaimana ia akan mewujudkannya bukan masalah sulit. Namun, bagi mereka yang awam, hal itu bisa menjadi masalah besar. Untung, Russo bersaudara begitu apik dalam memperkenalkan Thanos ke khalayak luas.

    Thanos, di Avengers Infinity War, tidak ditampilkan sebagai sosok yang sepenuhnya jahat. Sebaliknya, ia ditampilkan sebagai sosok dengan latar belakang tragis yang membuat kita sulit untuk tidak simpati dan bahkan benar-benar menganggap misinya mulia.

    Berasal dari sebuah planet bernama Titan, Thanos dikisahkan sebagai saksi hidup kehancuran "kampun halamannya". Planet itu luluh lantak bukan karena invasi, tapi overpopulasi. Pertumbuhan yang tak terkendali membuat penduduk Titan jatuh dalam kejamnya seleksi alam di mana Thanos berakhir sebagai satu-satunya yang tersisa.

    Thanos tidak ingin hal serupa berkembang ke tingkat semesta. Oleh karenanya, populasi alam semesta harus diseimbangkan yaitu dengan cara dengan menghabisi separuh isinya. Prinsip yang ia pegang adalah tanpa pilih kasih, tanpa prasangka, dan adil. Berpengaruh atau tidak, kaya atau miskin, tidak akan ia perhitungkan.

    Sekilas misinya terdengar besar sekaligus simplistik. Namun, sesungguhnya, tak ada yang sederhana dari misi itu. Thanos juga terbebani olehnya. Ia melakukannya bukan tanpa pengorbanan. Lewat cerita garapan Chrisopher Markus dan Stephen McFeely (Chronicles of Narnia, The Winter Soldier, Civil War), Avengers: Infinity War juga menunjukkan seberapa jauh Thanos menngorbankan hal-hal terpenting baginya demi penyeimbangan semesta. Marvel sebisa mungkin mencoba membuat penonton bersimpati kepada Thanos yang diklaim sebagai musuh terbaik di MCU.

    Spiderman, Iron Man, Drax, Stra Lord, dan Mantis, dalam cuplikan filmAvengers: Infinity War. Para pahlawan super Marvel bersatu untuk mengalahkan Thanos yang mengumpulkan infinity stones, enam batu keabadian yang terbentuk lewat ledakan Big Bang. (Marvel Studios via AP)

    Bagaimana dengan para jagoan Avengers seperti Iron Man, Captain America, Thor, maupun Guardians of The Galaxy? Walaupun fokus cerita ada pada Thanos, hingga film ini sebenarnya lebih pas disebut Thanos's Infinity War, para jagoan tersebut tetap mendapat kesempatan untuk unjuk gigi. Iron Man, misalnya, mendapat kesempatan untuk menunjukkan (sekali lagi) armor barunya yang kali ini menggunakan teknologi nano bernama Bleeding Edge.

    Begitu pula Thor. Setelah Thanos, tokoh Thor lah yang paling banyak mendapat eksposisi. Sebagian isi film menceritakan dirinya yang masih "bertarung" dengan dampak peristiwa di film Thor: Ragnarok (2017) mulai dari kehilangan senjata, rumah, orang tua, dan terakhir warganya. Walau kisahnya terdengarnya suram, penonton justru akan dibuat terpana melihat perwujudan Thor terkuat di sini.

    Sayangnya, hanya dua karakter tersebut yang mendapat porsi lumayan setelah Thanos. Tokoh-tokoh Avengers lainnya mendapat porsi yang lebih kecil dan bahkan beberapa berperan insignifikan walaupun diberi kesempatan untuk beraksi dengan keren. Hal itu tak terhindarkan mengingat film ini memiliki 27 tokoh superhero dan belum menghitung peranan Thanos. Ironis mengingat kisah utama film ini adalah tentang keseimbangan.

    Terlepas dari masalah tersebut, Avengers Infinity War tetap lah film yang menghibur. Berbagai adegan dengan setting dan koreografi aksi yang membuat mata terpana bisa ditemukan dengan mudah. Tidak sedikit adegan aksi yang ditampilkan dengan begitu intense, penonton bisa sampai dibuat lupa bernafas. Terutama, ketika Russo bersaudara, yang mengaku sebagai penggemar berat The Raid, mengkombinasikan segala jenis skill para jagoan Marvel untuk melumpuhkan Thanos.

    Dalam berbagai sisi, Avengers Infinity War adalah sebuah fan service untuk mereka yang sudah menanti selama 10 tahun.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada Generalized Anxiety Disorder, Gangguan Kecemasan Berlebihan

    Generalized Anxiety Disorder (GAD) adalah suatu gangguan yang menyerang psikis seseorang. Gangguannya berupa kecemasan dan khawatir yang berlebih.