Sabtu, 21 Juli 2018

Banjir Tampil di Ruang Pameran di Bandung

Reporter:
Editor:

Nunuy Nurhayati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pameran seni rupa berjudul #Banjiiiir di Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan Bandung. (Tempo/Gilang Rahadian)

    Pameran seni rupa berjudul #Banjiiiir di Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan Bandung. (Tempo/Gilang Rahadian)

    TEMPO.CO, Bandung -Pameran bertajuk #Banjiiiir digelar oleh para perupa yang tergabung dalam Ikatan Alumni Seni Rupa ITB atau IASR-ITB di Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan (YPK), Jalan Naripan Bandung. Pameran yang diikuti enam puluh enam peserta itu menampilkan enam puluh enam karya, yang terdiri dari karya lukis, drawing, patung, dan instalasi.

    Baca: Menjelang 100 Tahun, ITB Gelar Pameran Karya Seni Alumni

    Tema banjir dimunculkan berangkat dari kegelisahan para seniman dengan kondisi aktual kota Bandung yang tiada hentinya dirundung bencana banjir. Musibah banjir besar di kawasan Cicaheum menjadi titik awal bergeraknya para alumni Seni Rupa ITB untuk menyuarakan keprihatinannya.

    "Jika pemerintah terus-terusan abai mengendalikan pembangunan fisik di kawasan resapan Bandung Utara, banjir akan terus membekap kota ini", kata Anwar Sanusi, Ketua IASR-ITB sekaligus penyelenggara acara.

    Karya yang tampil begitu beragam dikarenakan para alumni berangkat dari latar belakang bidang seni yang berbeda termasuk juga alumni yang berprofesi sebagai desainer. "Panita sengaja tidak melakukan pembatasan terhadap bentuk karya, agar pameran terasa lebih spontan dan beragam," ujar Anwar Sanusi menambahkan.

    Pameran ini menjadi lebih menarik karena ini acara pertama yang mempertemukan alumni Seni Rupa dari angkatan sepuh seperti A.D Pirous (1955), Sunaryo (1962) bersanding dengan angkatan yang jauh lebih muda seperti Anton Susanto (1999) dan Prilla Tania (1997).

    Yang unik, pengunjung akan disuguhi aneka rupa corak dan gaya seni rupa. Selain puluhan lukisan dan drawing yang terpajang di dinding, karya instalasi yang mengisi ruang-ruang gedung YPK menjadikan pameran lebih hidup.

    Seperti karya Tisna Sanjaya yang berpostur monumental, dibuat dari formasi kompor, dangdan dan katel, mewujudkan naga yang siap menyedot air dari puluhan botol galon air mineral. Juga karya Hilman Syafriadi berupa tumpukan singkong yang difermentasi hingga menghasilkan sensasi aroma peyeum.

    Karya Setiyoko Hadi yang berjudul Bercermin Dalam Lumpur tampil penuh totalitas dimana sang perupa menyusun instalasi pipa PVC yang rumit, silang sengkarut, lengkap dengan kubangan air dan lumpur.

    Untuk karya dua dimensi, lukisan perupa senior Sunaryo berjudul Luka di Langit Bumi Menjerit menampilkan sapuan bidang hitam dengan aksen merah, mengimajinasikan langit kelabu dengan rekahan luka menganga. Awan hitam seperti pusaran tornado menyatu dengan bumi dimana tampak simbol kota: Gedung Sate dan Monumen Perjuangan Jawa Barat terendam air.

    Drawing karya Isa Perkasa menggambarkan manusia-manusia masa kini yang tenggelam dalam banjir informasi. Sementara itu visualisasi penampakan dinosaurus di kota Bandung dibuat Indra Gunadharma dalam lukisannya yang bergaya jenaka. Bercerita tentang nasib kota menuju kepunahan jika banjir tak segera diatasi.

    Tak kalah menarik adalah drawing karya Yus Rusnaedi, menampilkan satir dimana Jalan Asia-Afrika dan Jalan Braga berubah wujud menjadi kanal yang dilintasi perahu gondola, laiknya kota Venesia di Italia. Karya yang cukup berbeda dari sisi teknis dibuat Andi Yudha Asfandiyar. Menampilkan teknik drawing dengan tarikan pulpen tanpa henti di atas kertas, dibuat berseri dalam dalam dua puluh frame.

    Pameran berlangsung 21 hingga 29 April, 2018. Di akhir acara penyelenggara juga mengundang para calon wali kota Bandung yang akan berlaga di pilkada kota Bandung untuk berdiskusi dan memaparkan idenya untuk mengatasi banjir yang telah menjadi langganan di Kota Kembang. "Kami ingin Bandung tidak banjir lagi', ujar perupa Tisna Sanjaya yang juga penggagas pameran ini.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bulan Juli Ada Hari Es Krim Nasional di Amerika Serikat

    Tanggal 15 Juli adalah Hari Es Krim Nasional di Amerika Serikat. Ronald Reagan menetapkan bulan Juli sebagai hari minuman yang disukai tua muda itu.