Di Persimpangan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta: Gelap merayap di seluruh ruang pertunjukan. Cahaya perlahan menerobos menuju seorang perempuan penari. Dengan gerakan awal yang perlahan, si penari menuntun suara musik. Berikutnya, musik dan gerak penari bersatu dengan harmonis. Tiga penari lainnya bergabung. Mereka menampilkan harmonisasi gerakan dan nada, yang menghasilkan bunyi dan tampilan yang menawan, ditambah efek pencahayaan yang menambah dramatis suasana. Itulah secuplik awal penampilan Metadomus, kependekan dari Metamorfoka-Indonesian Music di Teater Utan Kayu, Jumat-Sabtu lalu. Pentas itu diberi judul Crossings. Mereka menampilkan kekayaan musik tradisi Sumatera Barat yang dikemas secara kontemporer dipadu dengan gerakan tari. Ini adalah kolaborasi komposer musik Syahrial dan koreografer Chendra Effendy Panatan. Chendra mengungkapkan ide awal memunculkan Crossings adalah memadukan dan menghimpun berbagai keragaman kualitas masing-masing individu penari dan pemusiknya. "Saya menghimpun gerak mereka masing-masing dan bagaimana agar bisa menyeberang ke wilayah yang berbeda," kata pria yang menggeluti dunia tari balet sejak usia 17 tahun ini. Hal itu dapat dilihat dari berbagai gerakan tari yang dihasilkan keempat penari yang berasal dari berbagai latar belakang, yakni ada gerakan seperti tari piring, gerakan atau entakan kaki ala Jawa Timur, hingga gerakan tari balet klasik seperti berputar. Mereka saling menyilang serta saling mengisi dan membagi. Para penari itu adalah Aistyaningnung, Ratna Ully, dan Indri Desvita. Chendra tampil sebagai satu-satunya penari pria. "Saya baru pertama kali bekerja bersama mereka," kata Chendra. Salah seorang penari, Aistyaningnung, mengakui hal tersebut. "Kami belajar dari gerakan teman yang lainnya," ujar lulusan Institut Kesenian Jakarta ini. Menurut Ais, pergelaran Crossings lebih memperkaya diri sendiri dengan berbagai gerakan tari dari teman lainnya. "Saya menyumbangkan entakan kaki karena saya berasal dari Jawa Timur," ucapnya. Selain keunikan pada gerakan tari, Metadomus menampilkan musik yang dihasilkan oleh alat-alat musik hasil kreasi Syahrial. "Kami seakan berada di persimpangan dua arah serta mencoba mencari visi dan misi yang sama," kata Syahrial. Salah satu alat musik hasil kreasinya adalah genggong, alat musik dari bambu yang dibelah dan dimainkan dengan cara dipukulkan ke bagian tubuh, seperti tangan atau kaki. Alat ini menghasilkan suara bergetar yang mendengung. Syahrial bersama Adrizaldi, Nasrul Zein, dan Risydul Pahman memainkan berbagai alat musik tradisional Minangkabau. Alat musik itu antara lain kecapi, saluang, skuaci, pauah, rebab pesisir, biola, maracas, serta satu alat musik tiup asal Thailand. "Kami mengolah pola ritme menjadi rangkaian melodi yang harmonis," ujarnya. Pertunjukan Metadomus dibagi atas tiga bagian, pertama, tentang kebersamaan dalam rasa, dengan kebebasan, keterikatan, kedamaian, dan dinamika hidup dinilai sebagai perbedaan rasa dalam ruang kebersamaan. Komposisi ini berangkat dari ensambel musik kecapi diperkuat instrumen rebab, skuaci, dan marakas. Bagian kedua menampilkan pergelaran yang berjudul Rajam. Dalam penampilan ini, Syahrial menonjolkan suara bambu yang dihasilkan oleh genggong, yang merupakan hasil eksperimen Syahrial dari permainan anak-anak di Sumatera Barat. Suara bergetar bambu dipadu dengan alat musik tradisional lainnya menghasilkan melodi yang indah digabungkan dengan syair-syair rajam yang berintikan koreksi terhadap individu supaya seimbang. Bagian ketiga ditampilkan Dendang Sikambang. Sikambang adalah salah satu cerita rakyat yang berasal dari pesisir selatan Sumatera Barat tentang seorang pesuruh (abdi kerajaan) yang kuat dan gagah berani. Namun, yang ditampilkan dalam pertunjukan ini adalah bagaimana Sikambang harus melakukan sesuatu (perintah) yang bertentangan dengan hati nuraninya. "Di situlah letak persimpangannya, yang dalam diri setiap orang selalu ada pertentangan atau berlawanan arah," ujar Syahrial. Metadomus dibentuk pada 2003 dan selalu mengakarkan hasil karyanya pada budaya dan tradisi di Indonesia. Kelompok yang dimotori oleh Syahrial dan Chendra ini selalu mencoba menggabungkan berbagai elemen musik baru untuk menghasilkan metamorfosis musik kontemporer. l TITO SIANIPAR

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Studi Ungkap Kecepatan Penyebaran Virus Corona Baru Bernama B117

    Varian baru virus corona B117 diketahui 43-90 persen lebih menular daripada varian awal virus corona penyebab Covid-19.