Hari Film Nasional, Torehan Prestasi Sutradara Muda Indonesia

Reporter:
Editor:

Aisha Shaidra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Adegan dalam film

    Adegan dalam film "Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak."Cinesurya

    TEMPO.CO, Jakarta -Tanggal 30 Maret setiap tahunnya dirayakan sebagai Hari Film Nasional. Tanggal tersebut diambil dari momentum film Darah dan Doa atau populer juga dengan judul The Long March karya Usmar Ismail, yang diproduksi pertama kali oleh Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini). Hari pertama syuting film ini, yakni 30 Maret, ditetapkan sebagai Hari Film Nasional lewat Keputusan Presiden pada 1999.

    Memasuki ke-68 tahun peringatan Hari Film Nasional, sejarah perfilman tanah air kian berkembang. Bahkan belakangan denyutnya makin kencang. Pun respons masyarakat mengapresiasi film. Terlihat dari luar biasanya perolehan angka penonton yang menyaksikan film-film nasional di bioskop. Tak hanya itu, sejumlah nama sutradara pun tercatat dalam sejarah festival-festival internasional. Belum lagi geliat perfilman di daerah-daerah yang juga meninggi.

    Berkembangnya perfilman tanah air terlihat dari adanya peningkatan dari segi cerita, penyuntingan, produksi, hingga promosi. Bicara soal kualitas pun beragam. Ada yang kualitasnya diiringi apresiasi penghargaan. Ada pula yang apresiasi diperoleh dari tingginya penonton yang tentunya mendatangkan pendapatan yang besar.

    Memeringati hari ini, berikut kami tuliskan beberapa sineas muda berbakat yang karyanya sudah terbang jauh dari Indonesia dan dapat banyak apresiasi dari berbagai ajang perfilman dunia.

    Kamila Andini. Instagram

    Kamila Andini

    Belum lama ini, Dini—demikian ia biasa dipanggil—menyabet Grand Prix di Berlinale International Film Festival ke-68 untuk sesi kompetisi Generation Kplus lewat film Sekala Niskala atau The Seen and Unseen. Film ini adalah satu-satunya wakil Indonesia dalam perhelatan Berlinale 2018 sekaligus film panjang pertama dari Indonesia yang pernah meraih kemenangan.

    Sebelumnya, film ini sudah ditayangkan perdana di Toronto International Film Festival. Penghargaan lain yang sempat diraih di antaranya Film Remaja Terbaik di Asia Pacific Screen Awards 2017, Film Terbaik Tokyo FILMeX 2017, dan Film Terbaik Jogja-Netpac Asian Film Festival.

    Selain The Seen and Unseen, karya Dini lainnya seperti Diana Sendiri Diana juga sempat diputar di Festival Film Toronto.

    Film The Mirror Never Lies (2011) yang kerap disbeut sebagai debut Dini turut dapat penghargaan Earth Grand Prix Award dan Special Mention Winds of Asia Middle East di Tokyo Internasional Film Festival 2011, Bright Young Talent Award dari Mumbai International Film Festival 2011, dan juga official selection di Vancouver International Film Festival 2011.

    Mouly Surya. dok TEMPO/Santirta M.

    Mouly Surya

    Sutradara yang satu ini baru memproduksi 3 film. Tapi semua karyanya sempat menyabet beberapa penghargaan seperti Piala Citra FFI 2008 untuk kategori film, sutradara, dan penulis skenario (Fiksi),  Sundance Film Festival 2013 (What They Don’t Talk About When They Talk About Love), Hong Kong International Film Festival (What They Don’t Talk About When They Talk About Love), Busan International Film Festival (What They Don’t Talk About When They Talk About Love). Terakhir, karya terbaru Mouly yakni Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak terpilih sebagai film yang pantas diputar dalam The Directors Fortnight di Cannes, pada April 2017.

    Directors’ Fortnight merupakan program pemutaran film independen yang diselenggarakan dalam rangkaian Festival Film Cannes oleh Société des Réalisateurs de Films (Asosiasi Sutradara Film Prancis). Program ini bertujuan mendorong tampilnya talenta baru ke hadapan publik dan para kritikus film mancanegara. Program tersebut paralel dengan penyelenggaraan Festival Film Cannes.

    Film Mouly ini menjadi film keempat Indonesia yang terpilih dalam rangkaian Cannes setelah Tjoet Nja’ Dhien (1988, Semaine de la Critique), Daun di Atas Bantal (1998, Un Certain Regard), dan Serambi (2006, Un Certain Regard).

    Sutradara Yosep Anggi Noen menerima penghargaan film terbaik untuk film Istirahatlah Kata-Kata di Bangkok ASEAN Film Festival. Foto: dokumentasi pribadi

    Yosep Anggi Noen

    Film pertamanya, sebuah film pendek berjudul Tapi Maaf (2001) diproduksi saat ia masih duduk di sekolah menengah atas. Film ini nominasi film favorit penonton di Festival Film dan Video Independen Indonesia, Jakarta. Selanjutnya, Film pendeknya berjudul Cheng Cheng Po, memperoleh Piala Citra sebagai film pendek terbaik Festival Film Indonesia 2008.

    Film Istirahatlah Kata-Kata yang memotret kehidupan Widji Tukul mendapat banyak apresiasi. Film ini diganjar Golden Hanoman Award dalam Jogja-NETPAC Asian Film Festival sebagai Film Terbaik dan penghargaan Penulisan Skenario Terbaik dalam Festival Film Indonesia 2016. Selain itu, masih film yang sama juga mendapat penghargaan di Bangkok ASEAN Film Festival (BAFF) 2017, Usmar Ismail Award 2017, Apresiasi Film Indonesia 2016, Apresiasi Film Non-Bioskop (Piala Dewantara), Apresiasi Film Indonesia 2013, Apresiasi Film Non-Bioskop, dan Sutradara Film Perdana (Piala Dewantara). Film ini pun sempat menjadi film terbaik pilihan Tempo 2016.

    Prestasi lain yang diperoleh Anggi sebelumnya Grand Prix, Asia International Competition Best Short Award, dan Tokyo Governor’s Award dalam Short Shorts Film Festival & Asia ke-16 pada 2014 untuk film pendek A Lady Caddy Who Never Saw a Hole in One. Film Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya merupakan satu dari 14 film dalam Festival Del Film Locarno, Swiss. Lalu ada Hujan Tak Jadi Datang, Kisah Cinta yang Asu  terpilih untuk diputar di Festival Film Internasional Rotterdam.

    Lucky Kuswandi, sutradara film Selamat Pagi, Malam. TEMPO/M Iqbal Ichsan

    Lucky Kuswandi

    Sutradara muda ini dikenal dengan beberapa karyanya yang bicara tentang identitas diri. Lucky pernah menyatakan bahwa ia harus jadi jembatan bagi kaum yang suaranya tak terdengar. Salah satu karyanya, The Fox Exploits The Tiger's Might  lolos dalam seleksi kategori film pendek oleh Semaine de la Critique (pekan kritik) di Festival Film Cannes 2015. Program ini beranggotakan jurnalis dan kritikus film, bertujuan mencari sutradara baru inovatif. Sebelum itu Lucky sempat memproduksi Miss or Mrs?  yang ditayangkan di Berlinale Film Festival. Film  panjang pertamanya, Madame X juga pernah diputar di Hong Kong International Film Festival pada 2011. Setelah itu, film panjang berikutnya yakni Selamat Pagi, Malam juga pernah diputar di Tokyo International Film Festival 2015.

    Ismail Basbeth dalam pemuataran perdana filmnya, "Another Trip To The Moon", di biokop Pathe, Rotterdam, Belanda, Senin, 26 Januari 2015. Tempo/Asmayani Kusrini

    Ismail Basbeth

    Karyanya kerap eksperimental. Hide and Sleep (2008) adalah penandanya.  Tak lama kemudian, ia mendirikan sebuah rumah produksi indie, Hide Project Indonesia. Dari sini, lahirlah beberapa proyek film alternatif.

    Pada 2012, nama Basbeth mulai berkibar. Karyanya berhasil terseleksi untuk berpartisipasi dalam Berlinale Talent Campus, Berlin International Film Festival, dan Asian Film Academy di Busan International Film Festival. Film pendeknya, Shelter, mendapat kesempatan diputar di Busan dan Rotterdam Film Festival.

    Karya Basbeth lainnya adalah Harry van Yogya (2010), Ritual (2011), Who the Fuck Is Ismail Basbeth (2012), Maling (2013), 400 Words, dan Another Trip to The Moon (2014)-sempat diputar dan masuk dalam nominasi Hivos-Tiger Award dan NETPAC Award of the International Film Festival Rotterdam 2015, film Talak 3 yang ia garap bersama Hanung Bramantyo masuk dalam 175 besar box office Indonesia juga masuk dalam nominasi original screenplay Festival Film Indonesia (2016).

    Film panjang keempatnya, Mobil Bekas dan Kisah-Kisah dalam Putaran yang digarap melalui sistem crowdfunding itu sudah terbang ke Tokyo International Film Festival 2017. Film ini juga turut berkompetisi di Busan International Film Festival 2017. Ismail menyebut film Mobil Bekas adalah film panjang pertamanya usai ‘lulus’ dari proses 10 tahun mempelajari film. Dan juga jadi titik tolak Ismail untuk membuat akrya baru ke depannya. Setelah itu ia berharap dirinya bisa melebur dan mendayagunakan segenap pengetahuan serta energi untuk membuat karya-karya yang sekaligus berfungsi sebagai sebuah catatan dan pernyataan politis.

    Wregas Bhanutedja, sutradara film pendek Prenjak menjelaskan kepada sejumlah media terkait kemenangannya di Festival Film Cannes 2016 saat konfrensi pers di Plaza Senayan Jakarta, 27 Mei 2016. Dalam Festival Film Cannes, Prenjak meraih penghargaan sebagai Film pendek terbaik 2016. TEMPO/Nurdiansah

    Wregas Bhanuteja

    Termasuk sineas termuda namun karyanya seperti Lembusura (2014), Lemantun (2014), dan tentunya Prenjak (2016) mendapat apresiasi di beberapa festival dalam dan luar negeri. Lembasura masuk dalam nominasi kategori Berlinale Shorts 2015. Lalu Lemantun (2014) mendapat penghargaan sebagai Film Pendek Fiksi Naratif Terbaik, Film Pendek Fiksi Naratif Pilihan IMPAS (Indonesian Motion Picture Associations), dan Film Pendek Favorit Pilihan Penonton, dalam acara XXI Short Film Festival 2015.  Prenjak (2016), keluar sebagai pemenang Leica Cine Discovery Prize for Short Film, Cannes Film Festival 2016. Belum lama ini, Wregas mengikuti residential lab of Torino Script Lab di Lavrion, Yunani.

    Di atas baru beberapa nama sutradara yang karyanya banyak diapresiasi di berbagai festival film dalam dan luar negeri. Sebelumnya juga ada nama-nama seperti Eddie Cahyono yang berhasil meraih dua penghargaan terbaik dalam Festival Ke-18 Film Internasional Shanghai, Cina serta penghargaan di Singapura dari film Siti. Lalu, Joko Anwar dengan beberapa karyanya termasuk A Copy of My Mind yang diputar pertama kalinya di kompetisi seksi Orizzonti Festival Film Venesia pada 2015. Film ini juga mendapat penghargaan CJ Entertainment di Festival Film Internasional Busan, Korea.

    Indonesia juga pernah diwakili film Ziarah karya B.W. Purba Negara dalam program CROSSCUT ASIA #04: What’s Next from Southeast Asia di Festival Film Internasional Tokyo 2017. Ada pula Turah karya Wicaksono Wisnu  Legowo yang dapat penghargaan di  27th Singapore International Film Festival. Film ini juga diajukan ke seleksi nominasi Oscar 2018.

    Teddy Soeriaatmadja terpilih dalam dua kategori yaitu sebagai sutradara dan penulis skenario Pilihan Tempo 2015 dalam filmnya About A Women.TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    Sosok Sidi Saleh dan Edwin, serta Teddy Soeriaatmadja juga tak luput dari daftar panjang ini. Film Maryam karya Sidi Saleh, pernah meraih juara pada kategori film horizon pendek pada 71st Venice International Film Festival tahun 2014. Sebelumnya Sidi Saleh juga berhasil membawa karyanya ke panggung internasional pada 2013 lewat dilm Fitri dan memenangkan Clermont-fd International Film Festival di Paris.

    Edwin, Sutradara Terbaik FFI 2017/AISHA S

    Film Edwin berjudul Kara, Anak Sebatang Pohon jadi film pendek Indonesia pertama yang berhasil menembus ajang Festival Film Cannes 2005 dalam sesi Director's Forthnight. Film pendek lainnya, Dajang Soembi, Perempoean Yang Dikawini Andjing diputar di beberapa festival internasional, dan menjadi salah satu film yang lolos seleksi di Festival Film Indonesia 2004. Film ini juga menang 2nd Prize (juara kedua) pada Jiffest Short Film Competition (Kompetisi Film Pendek Festival Film Internasional Jakarta) 2004. Film Edwin pun sempat diputar Busan International Film Festival (2008), International Film Festival Rotterdam (2009), dan Tokyo International Film Festival (2012). Film  Babi Buta yang Ingin Terbang juga pernah meraih penghargaan FIPRESCI Award International Film Festival Rotterdam (2009). Ada film Postcards from the Zoo turut diputar di Festival Film Berlinale.

    Teddy Soeriaatmadja memulai debut lewat film Culik yang mendapatkan pendanaan dari Gotenberg Film Festival dari Swedia. Film Lovely Man sempat masuk di Official Selection di Mumbai Film Festival 2011, juga sebagai In Competition di Asiatica Filmmediale, Roma. Something in The Way juga diikutkan dalam Berlinale Film Festival 2013.

    ARSIP TEMPO | BERBAGAI SUMBER


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rekaman 8 Menit 46 Detik Drama Kematian George Floyd

    Protes kematian George Floyd berkecamuk dari Minneapolis ke berbagai kota besar lainnya di AS. Garda Nasional dikerahkan. Trump ditandai oleh Twitter.